Equivalent: Jurnal Ilmiah
Sosial Teknik
Vol. 5, No. 2, Juli 2023
RELEVANSI NILAI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KITAB AKHLAK LIL BANAT
DENGAN SANTRI ERA MILLENIAL
Qurrotul A’yun,
Mahmud Arif, Alfauzan Amin
Program
Studi Pendidikan Agama Islam FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program
Studi Pendidikan Agama Islam FTT UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu
Email: ayunanaksantri@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam kitab akhlak lil banat
dengan santri era
millennial. Metode penelitian
ini menggunakan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni studi kasus.
Lokasi penelitian di madrasah salafiyah
V pondok pesantren komplek R krapyak yogyakarta. Teknik pengumpulan
data menggunakan observasi,
dokumentasi, dan wawancara
yang dilakukan dengan beberapa santri dan ustadzah pengajar kitab akhlak lil banat.
Temuan dalam penelitian ini adalah ada beberapa
nilai-nilai pendidikan karakter dalam kitab akhlak lil banat,
seperti berakhlak, sopan santun, taat,
tawadhu’, religius, menghormati, dan kasih sayang. Selain itu dalam relevansinya
menunjukkan bahwa santri era millenial menerapkan beberapa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat. Adaya pengkajian kitab akhlak lil banat untuk
membentuk karakter pada diri santri di era millenial. Selain itu, pengkajian kitab akhlak lil banat
diharapkan dapat menjadi pengingat, benteng dan sebagai pedoman ketika atau akan melakukan segala sesuatu agar tetap sesuai dengan ajaran ajaran agama Islam.
Kata kunci:
relevansi, pendidikan karakter, santri millennial
Abstract
This study aims to determine the relevance of character education
values in the book of akhlak lil Banat to
millennial-era students. This research method uses qualitative research. The
type research used in this study is a case study. The research location
was at the Islamic boarding
school Salafiyah V Islamic boarding school, the R Krapyak complex, Yogyakarta. Data collection techniques
namely observation, documentation, and interviews were conducted with several
students and ustadzahs teaching the book of morals lil banat. The findings in this
study are that there are several values of character education in the book of
morals lil banat, such as
having good character, good manners, obedience, humility, being religious,
respecting, and compassion. Apart from that, its relevance shows that
millennial era students apply some of the values of character education
contained in the book of morals lil banat. There is a study of the lil
banat moral book to shape the character of students
in the millennial era. Apart from that, the study of the book of morals lil banat is expected
to be a reminder, a fortress and a guide when or when to do
everything so that it remains in accordance with the teachings of the Islamic religion.
Keywords:
relevanance, character education, millenial
santri
Pendidikan
merupakan tolak ukur kemajuan suatu
bangsa. Terdapat banyak permasalahan dalam pendidikan, salah satunya adalah semakin buruknya karakter anak didik
dari hari ke hari. Beberapa
masalah yang memperlihatkan
degradasi karakter, yakni bertambah banyaknya tawuran antar pelajar, kekerasan, senioritas, dan lain sebagainya.(Faiq Nurul Izzah dan Nur Hidayat,
2013).
Selain itu, banyak
generasi menjadi korban dari “keganasan” media social.
Smartphone menjadi pintu akses menuju dunia tanpa pembatas, adanya internet banyak disalahgunakan dengan perilaku perilaku yang tidak sesuai dengan
norma.(Walinah, 2020). Kelebihan dan kemajuan teknologi dapat membuat segala
sesuatu lebih sederhana dan canggih. Namun disisi lain,
semakin berkembangnya teknologi dapat mengganggu nilai, norma, standar dan moral yang ada di masyarakat.(Puspa Handayani, Mira Septiana, 2022)
Era
digital telah memunculkan banyak perubahan, baik perubahan dalam tatanan sosial,
moral yang dulu merupakan suatu yang cukup diperhatikan dan dipandang urgen, namun saat
ini sudah teracukan. Mulai terkikisnya nilai-nilai mulia, kultur, dan norma social
yang sangat dijunjung tinggi
telah terabaikan. Hasil survei oleh badan koordinasi Keluarga Berencana nasional BKKBN menyampaikan bahwa remaja di Indonesia melakukan seks pernikahan dengan presentase 63% tidak kurang dari 900 ribu dan yang cukup memperhatikan adalah adanya bullying, tawuran, dan
lain sebagainya. (Fajriyati
Khofifah, Mahrur Adam Maulana, 2022).
Mewujudkan generasi
yang berakhlak mulia adalah tanggung jawab semua lapisan
masyarakat, karena pada dasarnya pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dan ini tidaklah muda.
Dengan ini, kesadaran akan pendidikan karakter sangat penting untuk di laksanakan.(Sofia
Gussevi dan Nur Aeni Muhfi, 2021). Proses pendidikan adalah terpenuhinya dua kepentingan manusia dunia- ukhrowi, jasmani-rohani dengan pengembangan potensi dasar pada manusia.(Alfauzan Amin, 2014).
Pendidikan karakter adalah bentuk kegiatan untuk memberikan bimbingan dan tuntunan dalam rangka menjadikan
manusia seutuhnya, manusia (anak didik) yang memiliki nilai-nilai religius, jujur, toleransi,disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis,menghargai,
peduli, dan tanggung jawab.(Faiq Nurul Izzah dan Nur Hidayat, 2013).
Pendidikan karakter bisa didapatkan dimana saja, baik di rumah
maupun di suatu lembaga pendidikan formal ataupun non formal. Pondok pesantren adalah salah satu tempat yang bisa untuk memperoleh
pendidikan karakter. Pondok pesantren juga lembaga pendidikan yang diyakini dapat menjadikan seseorang memiliki akhlak yang baik. (Kurniawan, 2021).
Kegiatan di pondok
pesantren mewajibkan santri untuk mengikuti
berbagai kegiatan, salah satunya kegiatan mengaji kitab- kitab. Salah satu
kitab yang mengkaji mengenai
pendidikan karakter yakni kitab akhlak lil banat. Salah satu pondok pesantren
yang mengaji kitab akhlak lil banat yakni Madrasah Salafiyah V Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek R Krapyak Yogyakarta.
Madrasah
Salafiyah V Pondok PP. Al Munawwir Komplek R Krapyak yang sebagian besar santrinya adalah mahasiswa, selain menuntut pengetahuan umum, santri juga mengikuti kegiatan mengaji kitab akhlak lil banat yang dilaksanakan di kelas I’dad. Kitab akhlak lil banat mengaji mengenai bagaimana akhlak seorang perempuan yang baik, baik habluminannas maupun habluminallah.
Dengan adanya kajian
kitab akhlakul lil banat di era milenial ini diharapkan dapat menjadi benteng
dan pengingat untuk santri agar tetap melakulan segala sesuatu yang sesuai dengan ajaran ajaran
islam dan tidak keluar dari batasan
ajaran islam. Sehingga fokus dalam penelitian ini bagaimana relevansi
nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat dengan
santri era millennial. Dengan
hal ini, yang melatarbelakangi peneliti melaksanakan penelitian di
Madrasah Salafiyah V PP. Al Munawwir
Komplek R Krapyak.
Santri era millenial dihadapkan dengan berbagai tantangan yang tidak mudah. Kemudahan
dalam segala aspek bisa didapatkan
dengan sangat mudah, baik transportasi, informasi, dan lain sebagainya, namun hal tersebut
dapat menjadi sesuatu yang cukup berdampak negatif jika tidak digunakan
dan dimanfaatkan untuk sesuatu yang tidak baik.
Adanya kemajuan teknologi yang begitu pusat dapat dimanfaatkan dengan melakukan sesuatu atau hal-hal yang
positif, hal tersebut dapat
mengembangkan diri menjadi seseorag yang memiliki value, namun jika memanfaatkan
kemudhan kemudahan yang ada dengan hal-hal
yang tidak baik, hal tersebut dapat
menjerumuskan dirinya sendiri kedalam jurang kehancuran.
Pentingnya nilai nilai pendidikan karakter ditanamkan dan diimplementasikan di kehidupan sehari hari merupakan
satu bentuk wujud menciptakan generasi-generasi yang memiliki akhlakul karimah, santri boleh mengikuti
perkembanan zaman namun harus tetap memperhatikan
batasan batasan tertentu.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pentingnya
dan dibutuhkannya generasi
yang memiliki karakter dan generasi yang berintegritas yang dibutuhkan oleh negara ini. Pada hakikatnya pendidikan adalah suatu langkah atau proses
perubahan tingkah laku dan merupakan kebutuhan social masyarakat (Sariwandi Syahroni, 2017).
Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, serta dokumentasi. Berdasarkan hasil dari wawancara yang telah dilakukan di Madrasah Salafiyah V PP. Al Munawwir Komplek R Krapyak, bahwa santri-santri telah mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat seperti
berakhlak, tawadhu’, taat, sopan santun,
syukur, religius, menghormati dan kasih saying dan hal tersebut diimplementasikan
dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil
penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat relevansi antara nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat dengan santri era millennial. Data tersebut dikuatkan dengan hasil dari
wawanacara dengan ustadzah pengajar kitab akhlak lil banat dan santri. Selain wawancara, peneliti juga melakukan dokumentasi sebagai data penelitian, sebagai berikut:
Gambar 1
Proses Santri Belajar Mengaji Kitab Akhlak Lil Banat Bersama Ustadzah

Berdasarkan gambar
tersebut dapat dijelaskan bahwa pengajian kitab akhlak lil banat dilaksanakan
pada hari rabu malam pukul 18.30-19.30. Proses mengaji dilakukan menggunakan metode bandongan yakni ustadzah membacakan kitab dan menerangkan materi yang sedang dipelajari dan dikaitkan dengan kehidupan.
Gambar
2
Kitab
akhlak lil banat jilid 1

Berdasarkan gambar
tersebut menunjukan cover
dan isi yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat. Kitab akhlak lil banat
mempelajari menganai bagaimana akhlak-akhlak seorang perempuan terhadap yang lebih tua maupun
yang lebih mudah, di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. Selain itu juga mengajarkan bagaimana hubungan dengan sesama manusia maupun dengan Allah.
Gambar 3
Proses santri memaknai kitab akhlak lil banat

Berdasarkan gambar
diatas dapat dijelaskan santri mengikuti apa yang dibacakan oleh ustadzah atau memaknai kitab menggunakan huruf pegon, kemudian salah satu santri ditunjuk
secara acak untuk membacakan kembali apa yang telah dimaknai dan memberikan contoh dengan menghubungkan
materi dengan realita.
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Kitab Akhlak Lil Banat
Meningkatanya penggunaan
komunikasi digital dan teknologi
digital meruapakan salah satu
ciri-ciri dari generasi melenial. Saat ini, generasi
milenial selain pintar juga harus memiliki tata krama yang baik. Dengan demikian akan membentuk generasi muslim milenial yang memiliki sudut pandang bahwa
dunia keimanan dan modernitas
bisa berjalan berdampingan. (Sofia Gussevi dan
Nur Aeni Muhfi, 2021). Keimanan dapat menjadikan cara pandang dan pemikiran bahwa sudut pandang
manusia terhadap segala sesuatu dengan perspektif ketuhanan. (Alfauzan Amin, 2017).
Membentuk karakter
yang baik pada diri santri dapat dilakukan melalui banyak cara, salah satunya dengan mengaji kitab akhlak lil banat yang mempelajari mengenai bagaimana akhlak dan karakter seorang perempuan baik diimplementasikan dengan menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter sejak dini sehingga kelak dapat menjadi seseorang muslimah yang memiliki akhlakul karimah.
Beberapa nilai-nilai
pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab Akhlak lil Banat, yakni:
1. Berakhlak
ش محبُو َبةً فى
ِع ْي لتَ
صغ
ِرهاَ,
سنَ ِة من
ق اْلح
خالَ
اْالَ
خلَّق
Artinya : ”Akhlak baik yang ditanamkan sejak usia dini, kelak akan membentuk
seseorang dewasa yang banyak dicintai”
Lafadz diatas
menjelaskan bahwa seseorang perempuan harus diberi pendidikan
yang baik sejak usia dini, agar kelak ketika dewasa
ia mempunyai bekal dan pedoman hidup, supaya dicintai
tuhan maupun sesama manusia. Seperti yang terdapat pada hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
نِ ِه اَ ْو يُ َم ج ص َرا
َه ِو دَا ِن ِه اَ ْو يُ َن َواهُ يُ
َر ِة فَاَ ط
ا ْل ِف على
كل م ْولُ ْود
يُ ْولَدُ
Artinya: ”Tiap-tiap anak terlahir menurut fitrah, hingga kedua orang tuanya yang membuatnya menjadi orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Hadits tersebut
menjelaskan bahwa pendidikan orang tua kepada anak sejak
dini sangat berpengaruh terhadap akidah dan kepribadian anak kelak ketika dewasa
dan lingkungan juga salah satu
faktor pembentuk kepribadian seorang anak. (Syamsu Nahar, 2021).
2. Tawadhu’
ص ِب ُر
و تَ
س َها
ب نَ ْف
والَ تَ ْعج
ها,
وتَتَ َوا
ِم َها, كالَ
ق فى
صدُ
وتَ
Artinya : ”Perempuan baik ialah perempuan
yang berbicara jujur, rendah diri, tidak
bangga diri, dan sabar akan ujian.”
Lafadz diatas menjelaskan
bahwa seseorang perempuan harus memiliki sifat rendah hati atau
tawadhu’ dan tidak bersifat sombong atas apa yang dimilikinya.
Karena sombong dan membanggakan diri merupakan sifat yang Allah benci. Seperti pada surah Al Luqman
ayat 18:
هللاَ الَ يُ ِح ن
م َرحاً اِ ض
ا ْالَ ْر ى
والَ تَ ْمش ف
لنَّاَ ِس ك
خدَّ
ِع ْر ص
والَ تُ
خ
ْو
ٍر
ل فَ
مختَا
Artinya: “Janganlah
memalingkan wajahmu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
Ayat
tersebut menjelaskan Allah tidak menyukai seseorang yang mempunyai sifat sombong, hendaknya seseorang memiliki sifat rendah hati dan menjauhi sifat membanggakan diri karena akan Allah murka. (Emi Suhemi, 2019)
3. Taat
اَ ْو تَ ْمش ل
َها تأْ ُك ح ْي َن
: ل ك
ب ِفى
تُالَ ِز ُم ا ْالدَ و
َها
ِلدَ ْي َها و وا
صائِح
َمع س
وتَ
كلَّ ُم اَ ْوتَنَا ُم
Artinya: ”Mematuhi
nasihat orang tua, gurunya, dan membiasakan berlaku baik pada tiap keadaan, seperti
ketika makan, berjalan, atau tidur.”
Lafadz diatas menjelaskan
bahwa seseorang perempuan hendaknya mendengarkan nasihat-nasihat dari kedua orang tua maupun gurunya,
dengan mendengarkan dan melaksanakan nasihat tersebut dalam kehidupannya kelak menjadi seseorang yang memiliki kepribadian yang baik. Seperti pada surah Al Baqoroh ayat 83:
ن اِح
َوا ِلدَ ْي ل
و ِبا
اِالَّ هللاَ ن
تَ ْعبُ ْودُ ْو ل
الَ
ء ْي
َرآ س
نِي اِ
ْيثَاق
م
ْذنَا خ
واِ ْذ
اَ
Artinya: “(Ingatlah)
ketika kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah,
dan berbuat
baiklah kepada orang tua”.
Ayat
tersebut menjelasakan bahwa sebagai anak
hendaknya berbakti dan taat kepada orang tua, selama apa
yang diajarkan dan diperintahkan
sesuai dengan ajaran agama Islam.(Hofifah Astuti, 2021)
4. Sopan Santun
ُّم
َها وه واُ
يُ ِحبُّ َها اَبُ ْوها و
ِلهذَا
لَ ِكنَّ َها اَ ِد
ْي َبةٌ,
ص ِغ ْي َرةٌ,
ْنت
شي ٍء الَ تَ ْف َه ُمهُ
ك ل
عن
الس َؤال
Artinya: ”Fatimah merupakan
anak kecil, namun Fatimah mempunyai tata
krama, sehingga orang tuanya
menyayanginya. Fatimah cerdas,
ia menanyakan sesuatu yang tidak ia mengerti.”
Lafadz diatas menjelaskan
bahwa seseorang perempuan yang harus memiliki sikap sopan santun. Karena dengan memiliki sikap sopan santun
seseorang akan disenangi oleh banyak orang. Seperti pada surah Al Hujarat ayat 2:
والَ تَ يِ
النَّ ِب ت
ص ْو
ْوق
ْوا الَ تَ ْرفَعُوآ
اَ ن ا َمنُ
يآَيُّ
َها ال ِذ
ْي
ل َبعض
ْه ِر كج
ا ْلقَ ْول
Artinya:” Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah
meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata
kepadanya dengan
suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain.
Ayat
tersebut menjelaskan bahwa seseorang hendaknya tidak meninggikan suara ketika berbicara dan merendahkan suaranya, karena hal tersebut
merupakan perbuatan yang kurang sopan. (Siti Fatimah,
2014)
5. Syukur
ْن تَ ْعبُ ِد اَ
على ذ ِلك :
ِر ْي ِه شك
َم ِة فَا ظ ْي
َم ِة ا ْل ِنع
ْيك
علَ
اَ ْن َع َم اَللُ ف
ت ك ْي
َر ْف ع
قَ ْد
ع ْنهُ.
ٍء نَهاَك
شي
ى كل
وتَتْ ُرك
ِه ك
ٍء اَ َم َر شي
وتَ ْع َم ِلى كل
ِم ْي ِه ظ
وتُ َع
Artinya: "Kamu
mengerti Allah telah memberikanmu nikmat yang begitu banyak, maka bersyukurlah atas nikmat yang telah kamu dapat,
dengan beribadah dan kepada Allah, menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.”
Lafadz diatas menjelaskan
bahwa seseorang harus bersyukur atas nikmat yang diberi Allah. Seseorang yang bersyukur, ia akan
merasa lebih dekat dengan Allah dan Allah akan menambah nikmat seseorang yang bersyukur, seperti yang terdapat pada surah
Ibrahim ayat 7:
ي لَ
ِب عذَا
ْرتُ ْم اِن كفَ
ولَئِن
ْم ك
ز ْيدَنَّ
ْرتُ ْم الَ شك
ْم لَ ِئن ك
ربُّ
و اِ ْذ تَاَذَّن
Artinya: “(Ingatlah),
ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar benar keras.”
Ayat
diatas menjelaskan, seseorang yang bersyukur terhadap nikmat dari Allah, maka Allah akan menambah nikmat
seseorang tersebut.
6. Religius
ْول ط
َها ظ
ح ِف
على اَ ْن
ُرهُ شك
ربَّ َها فَتَ
ُر ك
النَّ ْو َم : اَ ْن تَ ْذ ت
ذَا اَ َرادَ
ِت َها عادَ
و ِمن
ِة النَّ ْو ِم ع َم
على
: ضا
َرا
للَ اَ ْي
ك
من نَ ْو ِم َها
: اَ ْن تَ ْذ ت
واِذَا قَا َم
ْالَذَى وا
ا
ْل
َبالَ ِء
الَّذى يُ ِر ْي
Artinya: “salah satu dari kebiasaan
Khadijah yakni ketika ia akan tidur,
ia berdzikir kepada Tuhannya dan bersyukur karena telah menjaganya dari bahaya dan penyakit dan ketika ia bangun tidur ia juga berdizikir kepada Tuhannya dan bersyukur atas nikmat tidursehingga dapat beristirahat dari rasa letih dan kemudian diberi semangat kembali”
Lafadz diatas menjelaskan
bagaimana seseorang yang selalu ingat dan bersyukur kepada Allah atas nikmatNya, seperti masih diberi kesempatan umur panjang untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal untuk akhirat kelak.
Seperti yang terdapat pada
surah Luqman ayat 13:
ْل ٌم ظ
ك لَ
ْر ش
ن ال
ك با هللاِ
ٍر ش
الَتُ ي
يبُ َن ظه
وهو ِع
ْب ِنه ال
واِ ْذ قَاَ َل لٌ ْقمن
Artinya: ”(Ingatlah)
ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia
menasihatinya, ”Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah)
itu benar-benar kezaliman yang besar.
Ayat
diatas menjelaskan bahwa tidak boleh
hukumnya melakukan segala sesuatu yang mempersekutukan Allah. Hal tersebut
termasuk dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah.(Nurdiana Sari, 2020)
7. Menghormati
ستَاذَ تَك :
ى
اُ ح ِب
ت, فَا
ِفى ا
ْلبَ ْي ك
َما يُ َربِ َيا ِن الَنَّ ُه
وا ِلدَ ْيك:
تُ ِحبَّ ْين, ك
اِنَّ
م ِف ْيدَ ٍة
صائِح
صحك نَ
و تَ ْن
ْنفَعُك
ِع ْل َم الَّ ِذى ك ا ْل
و تُ َع ِل ُم
خالَ قَك,
ب اَ
: تُ َه ِذ س ِة
ا
ْل َم ْد َر
Artinya: “sesungguhnya
kamu menyayangi orang tuamu karena mereka telah
merawatmu ketika kamu di rumah, dan sayangilah gurumu, karena dia telah
mengajarimu ketika kamu di sekolah. Dia mengajarimu akhlak, memberi ilmu yang manfaat dan memberimu nasihat”.
Lafadz diatas
menjelaskan bahwa hendaknya menghormati orang tua dan guru, karena guru telah mendidik dan mengajarkan
mengenai banyak hal. Hendaknya menghoramti
guru seperti
halnya menghormati kedua orang tua. Seperti pada surah An Nisa’ ayat 86:
ٍء شي
ك ل
هللاَ ن
اِ ها
ْنهآ اَ ْو ُردُّ ْو م
اَحسن
حيُّ
ْوا
بِتَ ِحيَّ ٍة فَ ح ِي ْيتُ ْم
واِذَا
Artinya: ”Apabila kamu
dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan
yang sepadan. Sesungguhnya
Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu”.
Ayat
diatas menjelaskan bahwa anjuran untuk
saling menghormati antar sesama dengan membalas kebaikan seseorang dengan balasan yang lebih baik ataupun
dengan kebaikan yang sepadan.(Alvita Niamullah, 2022)
8. Kasih Sayang
تَ ِع ْي ك
اَنَّ ك َما
وحدَ
ٍة,
ٍة س
م ْد َر
ِم ْيلَ ِتك ى ز
ن مع
لَّ ِم ْي
تَتَ ت
:
اَ ْن ت
اَيَّتُ َها ال ِت ْل ِم ْيذَةُ النَّ ِج ْي َب
وحتَ ِر ِمى من
اَخ َوا ِتك,
تُ ِح ِب ْين
كما
تُ ِحبِ ْين ك َما
ِح ِب ْي ُهن ك اَ
واح ٍد فَ ِلذ ِل ت
ى بَ ْي
َوا ِتك خ
مع
اَ
م ْنك
صغَ ُر
اَ هى
ى من
ح ِم
واَ ْر
م ْنك,
هى اَ ْك َب ُر
Artinya: “Wahai
murid yang cerdas, belajarlah dengan rekan- rekan satu sekolahmu, seperti kamu memperlakukan saudara- saudaramu ketika di rumah, maka sayangilah mereka seperti kamu menyayangi saudara-saudaramu, menghormati yang lebih tua dan yang lebih muda darimu”. (Al Ustadz Umar Bin Ahmad Baraja, n.d.) Lafadz diatas menjelaskan bahwa hendaknya mencintai teman seperti halnya mencintai saudara sendiri, menyayangi dan menghormati orang yang lebih tua maupun orang
yang lebih muda. Seperti yang terdapat pada hadist yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhori yang berbunyi:
ِد ِه
ال ُّر عبَا
ُم هللاُ من ْرح
اِنَّ َما
Artinya: ”Sesungguhnya Allah menyayangi
hambaNya yang penyayang”.
Hadist diatas
menjelaskan bahwa Allah menyayangi hamba yang memiliki sifat penyayang. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan kasih sayang terhadap sesama makhluk ciptaanNya.(Prasetyo, 2020).
Salah
satu karakter generasi era millenial yakni menggunaan media sosial secara berlebihan,
pentingnya pendidikan karakter bagi generasi
era millenial menjadi sesuatu hal yang harus diperhatikan. Berlebihan dalam penggunaan internet dan media sosial
cukup berdampak negatif, antara lain semakin kurangnya interaksi sosial secara langsung, kebiasaan menunda pekerjaan, turunnya prestasi, dan sebagainya.(Said, 2019)
Peserta didik di
era milenial diberi kemudahan dalam teknologi yang membuat seseorang dapat berubah sikap, cara berpikir bahkan
cara pandang akan sesuatu hal.
Sementara, peserta didik belum dapat
memilih informasi yang diterimanya. Dengan hal ini, peran guru sangat penting
di era millenial yakni penanaman nilai-nilai pendidikan karakter pada peserta didik.
Salah
satu upaya dalam penanaman nilai-nilai pendidikan karakter yakni dengan adanya pengajian
kitab akhlakul lil banat. Madrasah salafiyah V
PP. Komplek R Krapyak adalah salah satu pondok pesantren yang menggunakan kitab akhlak lil banat untuk
mengkaji akhlak.
Beberapa karakter
yang telah diterapkan oleh santri millenial khusunya pada santri Madrasah Salafiyah V PP. Komplek R Krapyak adalah sebagai berikut:
a.
Berakhlak
Sifat
berakhalak tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial, yang mana kebanyakan memiliki karakter acuh terhadap sekelilingnya
akibat dari kemajuan teknologi yang memanjakan di era millenial. Karakter tersebut dapat diimbangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat,
salah satunya berakhlak.
Seperti yang telah
diimplementasikan oleh santri
santri- santri, yakni dengan mengutamakan
akhlak dan adab dalam melakukan segala sesuatu. Selain itu, berbaik
sangka atau husnudzon, karena dengan husnudzon dapat menjalani
hidup dengan damai.
b.
Tawadhu’
Sifat tawadhu’ tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial,
yang mana kebanyakan santri
era millenial memiliki karakter percaya diri, mempunyai banyak gagasan dan menyampaikan sesuai dengan pandangan mereka. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai pendidikan
karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya tawadhu atau rendah hati.
Seperti yang telah
diimplementasikan oleh santri-santri,
yakni dengan mendengarkan nasihat guru dan
orang tua. Selain itu, tidak merasa
sombong dan tidak membanggakan diri.
c.
Taat
Sifat
taat tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial, yang mana memiliki karakter menyukai sesuatu yang serba instan, kurang suka membaca, dan lebih banyak menghabiskan
waktu dikamar dengan gatged, dan memiliki gaya hidup yang konsumtif. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai
pendidikan karakter yang telah dikaji dalam
kitab akhlak lil banat, salah satunya sifat taat.
Seperti yang telah
diimplementasikan oleh santri-santri
yakni dengan menjaga hubungan dengan sesama manusia
atau habluminanas maupun menjaga hubungan dengan tuhan atau habluminallah, karena ketika seseorang
cinta kepada Allah, dia tidak akan
mudah menyakiti hati seseorang.
d.
Sopan santun
Sifat sopan santun tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial, yang kebanyakan memiliki karakter kesopanan dan rasa hormat yang mulai meluntur. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai
pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya sifat sopan santun
Seperti yang telah
diimplementasikan oleh santri-santri,
yakni menggunakan bahasa krama atau bahasa halus ketika
berbicara dengan orang yang
lebih tua. Selain itu juga dengan mengecilkan suara ketika berbicara
maupun tertawa.
e.
Religius
Sifat
religius tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial yang kebanyakan sibuk dengan urusan
urusan dunia, sehingga terkadang lengah dengan urusan akhirat.
Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai
pendidikan karakter yang telah dikaji dalam
kitab akhlak lil banat, salah satunya sifat religius.
Seperti yang telah
diimplementasikan oleh santri-santri,
yakni dengan mendoakan guru ketika setelah setiap sholat, karena guru sebagai wasilah untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Selain itu, bersyukur
dengan mengucapkan hamdalah setiap bangun dari tidur, karena masih diberi kesehatan dan panjang umur.
f.
Menghormati
Sifat
menghormati tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial yang kebanyakan sudah mulai luntur
tata krama dan sopan santunnya.
Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat,
salah satunya sifat saling menghormati.
Seperti yang telah
diimplementasikan oleh santri-santri,
yakni dengan menghormati orang tua maupun guru. Selain itu menghormati orang yang lebih tua dan lebih
muda, tidak
memandang rendah
dan berlaku semena-mena kepada orang yang lebih muda.
g.
Kasih Sayang
Sifat
kasih sayang tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial yang kebanyakan sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak simpati dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya sifat kasih sayang
Seperti yang telah
diimplementasikan oleh santri-santri,
yakni dengan saling menolong jika ada teman yang membutuhkan bantuan. Menyayangi teman seperti menyayangi
diri sendiri.
Berdasarkan pembahasan
tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengajian kitab akhlak lil banat menjadi
pengingat atau benteng sebelum melakukan segala sesuatu. Perempuan harus bisa menjaga marwahnya dengan mengecilakan suara ketika tertawa, menghormati
orang yang lebih tua maupun orang yang lebih muda, menjaga pergaulan,
saling tolong menolong antar teman, mendengarkan nasihat orang tua dan guru, taat kepada perintah
Allah dan menjauhi laranganNya.
Bagi santri yang sebelumnya sudah pernah mengaji kitab akhlak lil banat dan sudah lupa, dengan adanya
pengajian ini untuk mengingatkan kembali mengenai pentingnya nilai-nilai pendidikan karakter di santri era millennial.
Menurut ustadzah
pengajar kitab akhlak lil banat pentingnya menanamkan nilai nilai pendidikan karakter pada santri adalah karena yang terpengaruh perkembangan zaman tidak hanya teknologi saja, namun dari
segi peradaban sudah berbeda. Masalah pendidikan karakter sangat penting ditanamkan sejak usia dini khususnya
pada perempuan.
Seorang santri ketika dihadapkan dengan perkembangan globalisasi yang begitu pesat, hendaknya mampu beradaptasi dan melakukan perubahan. Untuk dapat menyeimbangkan antara duniawi dan akhirat, seorang santri hendaknhya memiliki intelektualitas yang luas. (Chusnul Muali, Adi Wibowo, 2020)
Perempuan
harus bisa menjaga marwahnya atau kehormatannya dan menjaga sikapnya. Dibeberapa keadaan perempuan diharapkan untuk menampilkan dirinya atau show up dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya namun tetap pada betasan batasan tertentu.
Adanya pengkajian kitab akhlak lil banat diharapkan dapat membentuk dan menjadikan santri di era millenial memiliki nilai nilai pendidikan
karakter yang kapanpun dan dimanapun dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-sehari sehingga segala segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan ajaran agama Islam.
Nilai nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat adalah: berakhlak,tawadhu’,taat, sopan santun, menghormati, religius, dan kasih sayang. Terdapat
relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam kitab akhlak lil banat dengan
santri era milenial. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana
sikap santri di era milenial khususnya santri Madrasah Salafiyah V Pondok Pesantren Komplek R Krapyak di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi yang begitu pusat yang cukup mempengaruhi cara pandang, gaya
hidup, dan bersikap dapat mengimbangi dengan pengajian kitab akhlak lil banat yang memepelajari bagaiamana menjadi muslimah yang baik dengan menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter sebagai benteng dan pegangan dalam melakukan segala sesuatu.
Al
Ustadz Umar Bin Ahmad Baraja.
(n.d.). Kitab Akhlal
lil Banat.
Maktabah
Muhammad bin Ahmad Nabhan wa
Auladah.
Alfauzan
Amin. (2014). Aktualisasi Kebebasan dalam Pendidikan Islam di Era Modern. 6(2), 213.
Alfauzan
Amin. (2017). Sinergisitas Pendidikan Keluarga,
Sokalah dan Masyarakat, Analisis
Tripusat Pendidikan. 16(1), 111.
Alvita Niamullah. (2022). Telaah Makna Thiyyah pada QS. An Nisa’ Ayat 86. 46(1), 117.
Chusnul Muali, Adi Wibowo, H. (2020). Tantangan Pendidikan Pesantren dalam
Membina Karakter Santri Millenial. 3(2), 133.
Emi Suhemi.
(2019). Takabbur Dalam Perspektif Al Quran da Hadits.
16(2),
205.
Faiq
Nurul Izzah dan Nur Hidayat. (2013). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
DalaM Kitab Al-Akhlaq Lil Banin Jilid 1 Karya
Al Ustaz Umar Bin Ahmad Baraja Dan Relevansinya Bagi Siswa MI. 5(1),
66.
Fajriyati
Khofifah, Mahrur Adam Maulana, N. K. (2022). Pembelajaran Kitab Al-Akhlak
Lil Banat dalam Pembentukan
Karakter Religius Santri. 1(2), 46.
Hofifah
Astuti. (2021). Berbakti Kepada Orang Tua dalam Ungkapan Hadis. 1(1), 42.
Kurniawan,
R. S. dan B. (2021). Kajian Konstektual Kitab Akhlaqul Banin Dalam Bentuk
Karakter Santri. 2(1), 44.
Nurdiana
Sari. (2020). Studi Tentang
Pendidikan Keluarga Dalam Tinjauan Hadis Nabi. 10, 157.
Prasetyo,
A. A. (2020). Internalisasi Hadis Kasih Sayang
dalam Mewujudkan Social
Interest di Era Disrupsi. 21(1), 213.
Puspa Handayani,
Mira Septiana, A. A. (2022). Pentingnya Pendidikan Karakter pada Anak Sekolah Dasar di Era Digital. 4(5), 4604.
Said,
R. dan A. (2019). Impelentasi Pendidikan Karakter
Islam di Era Milenial Pada Pondok
Pesantren Mahasiswa. 9(2), 43.
Sariwandi Syahroni. (2017). Peranan Orang Tua dan Sekolah dalam Pengembangan Karakter Anak Didik. 6(1), 13.
Siti
Fatimah. (2014). Etika Komunikasi dalam Al Quran Studi Tafsir Surat Al Hujurat
Ayat 1-8. 1(2), 100.
Sofia
Gussevi dan Nur Aeni Muhfi. (2021). Tantangan Mendidik Generasi Milenial Muslim di Era Revolusi Industri 4.0. 2(1),
47.
Sri
Wahyuningsih. (2013). Metode Penelitian Studi Kasus. UTM Press. Syamsu
Nahar, Z. dan R. (2021). Pendidikan Anak Usia Dini dalam
Persfektif Al Quran.
13(1), 80.
Walinah.
(2020). Pendidikan Karakter
Era Milenial. Qahar
Publisher.
|
Copyright
holder: Qurrotul A’yun, Mahmud Arif, Alfauzan
Amin (2023) |
|
First
publication right: Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik |
|
This
article is licensed under: |