Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik

Vol. 5, No. 2, Juli 2023

 

RELEVANSI NILAI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KITAB AKHLAK LIL BANAT DENGAN SANTRI ERA MILLENIAL

 

Qurrotul A’yun, Mahmud Arif, Alfauzan Amin

Program Studi Pendidikan Agama Islam FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program Studi Pendidikan Agama Islam FTT UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Email: ayunanaksantri@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam kitab akhlak lil banat dengan santri era millennial. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni studi kasus. Lokasi penelitian di madrasah salafiyah V pondok pesantren komplek R krapyak yogyakarta. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, dan wawancara yang dilakukan dengan beberapa santri dan ustadzah pengajar kitab akhlak lil banat. Temuan dalam penelitian ini adalah ada beberapa nilai-nilai pendidikan karakter dalam kitab akhlak lil banat, seperti berakhlak, sopan santun, taat, tawadhu’, religius, menghormati, dan kasih sayang. Selain itu dalam relevansinya menunjukkan bahwa santri era millenial menerapkan beberapa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat. Adaya pengkajian kitab akhlak lil banat untuk membentuk karakter pada diri santri di era millenial. Selain itu, pengkajian kitab akhlak lil banat diharapkan dapat menjadi pengingat, benteng dan sebagai pedoman ketika atau akan melakukan segala sesuatu agar tetap sesuai dengan ajaran ajaran agama Islam.

 

Kata kunci: relevansi, pendidikan karakter, santri millennial

 

Abstract

This study aims to determine the relevance of character education values in the book of akhlak lil Banat to millennial-era students. This research method uses qualitative research. The type research used in this study is a case study. The research location was at the Islamic boarding school Salafiyah V Islamic boarding school, the R Krapyak complex, Yogyakarta. Data collection techniques namely observation, documentation, and interviews were conducted with several students and ustadzahs teaching the book of morals lil banat. The findings in this study are that there are several values of character education in the book of morals lil banat, such as having good character, good manners, obedience, humility, being religious, respecting, and compassion. Apart from that, its relevance shows that millennial era students apply some of the values of character education contained in the book of morals lil banat. There is a study of the lil banat moral book to shape the character of students in the millennial era. Apart from that, the study of the book of morals lil banat is expected to be a reminder, a fortress and a guide when or when to do everything so that it remains in accordance with the teachings of the Islamic religion.

 

Keywords: relevanance, character education, millenial santri

 

Pendahuluan

Pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Terdapat banyak permasalahan dalam pendidikan, salah satunya adalah semakin buruknya karakter anak didik dari hari ke hari. Beberapa masalah yang memperlihatkan degradasi karakter, yakni bertambah banyaknya tawuran antar pelajar, kekerasan, senioritas, dan lain sebagainya.(Faiq Nurul Izzah dan Nur Hidayat, 2013).

Selain itu, banyak generasi menjadi korban darikeganasan” media social. Smartphone menjadi pintu akses menuju dunia tanpa pembatas, adanya internet banyak disalahgunakan dengan perilaku perilaku yang tidak sesuai dengan norma.(Walinah, 2020). Kelebihan dan kemajuan teknologi dapat membuat segala sesuatu lebih sederhana dan canggih. Namun disisi lain, semakin berkembangnya teknologi dapat mengganggu nilai, norma, standar dan moral yang ada di masyarakat.(Puspa Handayani, Mira Septiana, 2022)

Era digital telah memunculkan banyak perubahan, baik perubahan dalam tatanan sosial, moral yang dulu merupakan suatu yang cukup diperhatikan dan dipandang urgen, namun saat ini sudah teracukan. Mulai terkikisnya nilai-nilai mulia, kultur, dan norma social yang sangat dijunjung tinggi telah terabaikan. Hasil survei oleh badan koordinasi Keluarga Berencana nasional BKKBN menyampaikan bahwa remaja di Indonesia melakukan seks pernikahan dengan presentase 63% tidak kurang dari 900 ribu dan yang cukup memperhatikan adalah adanya bullying, tawuran, dan lain sebagainya. (Fajriyati Khofifah, Mahrur Adam Maulana, 2022).

Mewujudkan generasi yang berakhlak mulia adalah tanggung jawab semua lapisan masyarakat, karena pada dasarnya pendidikan adalah tanggung jawab bersama, dan ini tidaklah muda. Dengan ini, kesadaran akan pendidikan karakter sangat penting untuk di laksanakan.(Sofia Gussevi dan Nur Aeni Muhfi, 2021). Proses pendidikan adalah terpenuhinya dua kepentingan manusia dunia- ukhrowi, jasmani-rohani dengan pengembangan potensi dasar pada manusia.(Alfauzan Amin, 2014).

Pendidikan karakter adalah bentuk kegiatan untuk memberikan bimbingan dan tuntunan dalam rangka menjadikan manusia seutuhnya, manusia (anak didik) yang memiliki nilai-nilai religius, jujur, toleransi,disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis,menghargai, peduli, dan tanggung jawab.(Faiq Nurul Izzah dan Nur Hidayat, 2013). Pendidikan karakter bisa didapatkan dimana saja, baik di rumah maupun di suatu lembaga pendidikan formal ataupun non formal. Pondok pesantren adalah salah satu tempat yang bisa untuk memperoleh pendidikan karakter. Pondok pesantren juga lembaga pendidikan yang diyakini dapat menjadikan seseorang memiliki akhlak yang baik. (Kurniawan, 2021).

Kegiatan di pondok pesantren mewajibkan santri untuk mengikuti berbagai kegiatan, salah satunya kegiatan mengaji kitab- kitab. Salah satu kitab yang mengkaji mengenai pendidikan karakter yakni kitab akhlak lil banat. Salah satu pondok pesantren yang mengaji kitab akhlak lil banat yakni Madrasah Salafiyah V Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek R Krapyak Yogyakarta.

Madrasah Salafiyah V Pondok PP. Al Munawwir Komplek R Krapyak yang sebagian besar santrinya adalah mahasiswa, selain menuntut pengetahuan umum, santri juga mengikuti kegiatan mengaji kitab akhlak lil banat yang dilaksanakan di kelas I’dad. Kitab akhlak lil banat mengaji mengenai bagaimana akhlak seorang perempuan yang baik, baik habluminannas maupun habluminallah.

Dengan adanya kajian kitab akhlakul lil banat di era milenial ini diharapkan dapat menjadi benteng dan pengingat untuk santri agar tetap melakulan segala sesuatu yang sesuai dengan ajaran ajaran islam dan tidak keluar dari batasan ajaran islam. Sehingga fokus dalam penelitian ini bagaimana relevansi nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat dengan santri era millennial. Dengan hal ini, yang melatarbelakangi peneliti melaksanakan penelitian di Madrasah Salafiyah V PP. Al Munawwir Komplek R Krapyak.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian dalam penelitian adalah kualitatif. Jenis penelitian menggunakan studi kasus, artinya penelitian yang bertujuan untuk menggali suatu peristiwa menggunakan berbagai langkah pengambilan data dalam waktu tertentu. (Sri Wahyuningsih, 2013). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yakni observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari data tersebut dianalisis dan dilihat relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam kitab akhlakl lil banat dengan santri era millennial. Subjek dalam penelitian ini ustadzah pengajar akhlak lil banat dan santri kelas i’dad Madrasah Salafiyah V PP. Al Munawwir Komplek R Krapyak. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, kemudian penarikan kesimpulan.

 

Hasil dan Pembahasan

Santri era millenial dihadapkan dengan berbagai tantangan yang tidak mudah. Kemudahan dalam segala aspek bisa didapatkan dengan sangat mudah, baik transportasi, informasi, dan lain sebagainya, namun hal tersebut dapat menjadi sesuatu yang cukup berdampak negatif jika tidak digunakan dan dimanfaatkan untuk sesuatu yang tidak baik.

Adanya kemajuan teknologi yang begitu pusat dapat dimanfaatkan dengan melakukan sesuatu atau hal-hal yang positif, hal tersebut dapat mengembangkan diri menjadi seseorag yang memiliki value, namun jika memanfaatkan kemudhan kemudahan yang ada dengan hal-hal yang tidak baik, hal tersebut dapat menjerumuskan dirinya sendiri kedalam jurang kehancuran.

Pentingnya nilai nilai pendidikan karakter ditanamkan dan diimplementasikan di kehidupan sehari hari merupakan satu bentuk wujud menciptakan generasi-generasi yang memiliki akhlakul karimah, santri boleh mengikuti perkembanan zaman namun harus tetap memperhatikan batasan batasan tertentu.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pentingnya dan dibutuhkannya generasi yang memiliki karakter dan generasi yang berintegritas yang dibutuhkan oleh negara ini. Pada hakikatnya pendidikan adalah suatu langkah atau proses perubahan tingkah laku dan merupakan kebutuhan social masyarakat (Sariwandi Syahroni, 2017).

Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, serta dokumentasi. Berdasarkan hasil dari wawancara yang telah dilakukan di Madrasah Salafiyah V PP. Al Munawwir Komplek R Krapyak, bahwa santri-santri telah mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat seperti berakhlak, tawadhu’, taat, sopan santun, syukur, religius, menghormati dan kasih saying dan hal tersebut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat relevansi antara nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat dengan santri era millennial. Data tersebut dikuatkan dengan hasil dari wawanacara dengan ustadzah pengajar kitab akhlak lil banat dan santri. Selain wawancara, peneliti juga melakukan dokumentasi sebagai data penelitian, sebagai berikut:

 

Gambar 1

Proses Santri Belajar Mengaji Kitab Akhlak Lil Banat Bersama Ustadzah

 

Berdasarkan gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa pengajian kitab akhlak lil banat dilaksanakan pada hari rabu malam pukul 18.30-19.30. Proses mengaji dilakukan menggunakan metode bandongan yakni ustadzah membacakan kitab dan menerangkan materi yang sedang dipelajari dan dikaitkan dengan kehidupan.

Gambar 2

Kitab akhlak lil banat jilid 1

                                            

Berdasarkan gambar tersebut menunjukan cover dan isi yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat. Kitab akhlak lil banat mempelajari menganai bagaimana akhlak-akhlak seorang perempuan terhadap yang lebih tua maupun yang lebih mudah, di lingkungan keluarga maupun di masyarakat. Selain itu juga mengajarkan bagaimana hubungan dengan sesama manusia maupun dengan Allah.

Gambar 3

Proses santri memaknai kitab akhlak lil banat

 


Berdasarkan gambar diatas dapat dijelaskan santri mengikuti apa yang dibacakan oleh ustadzah atau memaknai kitab menggunakan huruf pegon, kemudian salah satu santri ditunjuk secara acak untuk membacakan kembali apa yang telah dimaknai dan memberikan contoh dengan menghubungkan materi dengan realita.


Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Kitab Akhlak Lil Banat

Meningkatanya penggunaan komunikasi digital dan teknologi digital meruapakan salah satu ciri-ciri dari generasi melenial. Saat ini, generasi milenial selain pintar juga harus memiliki tata krama yang baik. Dengan demikian akan membentuk generasi muslim milenial yang memiliki sudut pandang bahwa dunia keimanan dan modernitas bisa berjalan berdampingan. (Sofia Gussevi dan Nur Aeni Muhfi, 2021). Keimanan dapat menjadikan cara pandang dan pemikiran bahwa sudut pandang manusia terhadap segala sesuatu dengan perspektif ketuhanan. (Alfauzan Amin, 2017).

Membentuk karakter yang baik pada diri santri dapat dilakukan melalui banyak cara, salah satunya dengan mengaji kitab akhlak lil banat yang mempelajari mengenai bagaimana akhlak dan karakter seorang perempuan baik diimplementasikan dengan menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter sejak dini sehingga kelak dapat menjadi seseorang muslimah yang memiliki akhlakul karimah.

Beberapa nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab Akhlak lil Banat, yakni:

1.   Berakhlak


ك ْب ِرها


ش محبُو َبةً فى


ِع ْي لتَ


صغ ِرهاَ,


سنَ ِة من


ق  اْلح


خالَ


اْالَ


خلَّق



Artinya : Akhlak baik yang ditanamkan sejak usia dini, kelak akan membentuk seseorang dewasa yang banyak dicintai

Lafadz diatas menjelaskan bahwa seseorang perempuan harus diberi pendidikan yang baik sejak usia dini, agar kelak ketika dewasa ia mempunyai bekal dan pedoman hidup, supaya dicintai tuhan maupun sesama manusia. Seperti yang terdapat pada hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim:


سا نِ ِه


نِ ِه اَ ْو يُ َم   ج  ص َرا


َه  ِو دَا ِن ِه اَ ْو يُ َن َواهُ يُ


 َر ِة فَاَ ط


ا ْل ِف على


كل م ْولُ ْود يُ ْولَدُ


Artinya: Tiap-tiap anak terlahir menurut fitrah, hingga kedua orang tuanya yang membuatnya menjadi orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.


Hadits tersebut menjelaskan bahwa pendidikan orang tua kepada anak sejak dini sangat berpengaruh terhadap akidah dan kepribadian anak kelak ketika dewasa dan lingkungan juga salah satu faktor pembentuk kepribadian seorang anak. (Syamsu Nahar, 2021).

2.  Tawadhu


ا ْالذَى علَى


ص ِب ُر


و تَ


س َها


ب  نَ ْف


والَ تَ ْعج


ها,


لغَ ْي ِر ضع


وتَتَ َوا


ِم    َها, كالَ


ق فى


صدُ


وتَ


 

Artinya : ”Perempuan baik ialah perempuan yang berbicara jujur, rendah diri, tidak bangga diri, dan sabar akan ujian.”

Lafadz diatas menjelaskan bahwa seseorang perempuan harus memiliki sifat rendah hati atau tawadhu’ dan tidak bersifat sombong atas apa yang dimilikinya. Karena sombong dan membanggakan diri merupakan sifat yang Allah benci. Seperti pada surah Al Luqman ayat 18:


ب كل


 هللاَ الَ يُ ِح ن


م َرحاً اِ ض


ا ْالَ ْر ى


والَ تَ ْمش ف


 لنَّاَ ِس ك


خدَّ


ِع  ْر ص


والَ تُ


خ ْو ٍر


ل فَ


مختَا


Artinya: “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.

Ayat tersebut menjelaskan Allah tidak menyukai seseorang yang mempunyai sifat sombong, hendaknya seseorang memiliki sifat rendah hati dan menjauhi sifat membanggakan diri karena akan Allah murka. (Emi Suhemi, 2019)

3.  Taat

 


ى اَ ْو


 اَ ْو تَ ْمش ل


َها تأْ ُك ح ْي َن


: ل ك


ب  ِفى


 تُالَ ِز ُم ا ْالدَ و


َها


  ِل  َما م


ِلدَ ْي َها و وا


صائِح


َمع س


وتَ


كلَّ ُم اَ ْوتَنَا ُم

Artinya: ”Mematuhi nasihat orang tua, gurunya, dan membiasakan berlaku baik pada tiap keadaan, seperti ketika makan, berjalan, atau tidur.”

Lafadz diatas menjelaskan bahwa seseorang perempuan hendaknya mendengarkan nasihat-nasihat dari kedua orang tua maupun gurunya, dengan mendengarkan dan melaksanakan nasihat tersebut dalam kehidupannya kelak menjadi seseorang yang memiliki kepribadian yang baik. Seperti pada surah Al Baqoroh ayat 83:


سانًا


ن اِح


َوا ِلدَ ْي ل


و ِبا


 اِالَّ هللاَ ن


تَ ْعبُ ْودُ ْو ل الَ


ء ْي


َرآ س


نِي اِ


ْيثَاق م


ْذنَا خ


واِ ْذ اَ


Artinya: “(Ingatlah) ketika kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada orang tua”.

Ayat tersebut menjelasakan bahwa sebagai anak hendaknya berbakti dan taat kepada orang tua, selama apa yang diajarkan dan diperintahkan sesuai dengan ajaran agama Islam.(Hofifah Astuti, 2021)

4.   Sopan Santun


ذَ ِكيَّةٌ : تُ ِحب ي اَ ْيضاً


ُّم َها وه واُ


يُ ِحبُّ َها اَبُ ْوها و ِلهذَا


لَ ِكنَّ َها اَ ِد ْي َبةٌ, ص ِغ ْي َرةٌ,


ْنت


فَط َمةٌ


شي ٍء الَ تَ ْف َه ُمهُ


ك ل عن


الس َؤال


Artinya: ”Fatimah merupakan anak kecil, namun Fatimah mempunyai tata krama, sehingga orang tuanya menyayanginya. Fatimah cerdas, ia menanyakan sesuatu yang tidak ia mengerti.”

Lafadz diatas menjelaskan bahwa seseorang perempuan yang harus memiliki sikap sopan santun. Karena dengan memiliki sikap sopan santun seseorang akan disenangi oleh banyak orang. Seperti pada surah Al Hujarat ayat 2:


ج َه ُر ْوا لَه


والَ تَ يِ


 النَّ ِب ت


ص ْو


ْوق


َواتَ ُك ْم ص


ْوا الَ تَ ْرفَعُوآ اَ ن ا َمنُ


يآَيُّ َها ال  ِذ ْي


ل َبعض


ْه      ِر كج


ا ْلقَ ْول


Artinya:” Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata

kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa seseorang hendaknya tidak meninggikan suara ketika berbicara dan merendahkan suaranya, karena hal tersebut merupakan perbuatan yang kurang sopan. (Siti Fatimah, 2014)

5.  Syukur


ي ِه


       ْن تَ ْعبُ ِد اَ


على ذ ِلك :


ِر ْي ِه شك


َم ِة فَا ظ ْي


َم ِة ا ْل ِنع


ْيك علَ


اَ ْن  َع َم اَللُ ف


ت ك ْي


 َر ْف ع


قَ ْد


ع ْنهُ.


ٍء نَهاَك شي


ى كل


وتَتْ ُرك


ِه    ك


ٍء اَ   َم   َر شي


وتَ ْع َم ِلى كل


 ِم ْي ِه  ظ


وتُ َع


Artinya: "Kamu mengerti Allah telah memberikanmu nikmat yang begitu banyak, maka bersyukurlah atas nikmat yang telah kamu dapat, dengan beribadah dan kepada Allah, menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.”

Lafadz diatas menjelaskan bahwa seseorang harus bersyukur atas nikmat yang diberi Allah. Seseorang yang bersyukur, ia akan merasa lebih dekat dengan Allah dan Allah akan menambah nikmat seseorang yang bersyukur, seperti yang terdapat pada surah Ibrahim ayat 7:


ش ِد ْيدٌ


ي لَ


ِب عذَا


ْرتُ ْم اِن كفَ


ولَئِن


ْم ك


ز ْيدَنَّ


ْرتُ ْم الَ شك


ْم لَ ِئن ك


ربُّ


و اِ ْذ تَاَذَّن


Artinya: “(Ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar benar keras.”

Ayat diatas menjelaskan, seseorang yang bersyukur terhadap nikmat dari Allah, maka Allah akan menambah nikmat seseorang tersebut.

6.  Religius


ْو ِم َها من


 ْول ط


َها ظ


ح ِف


على اَ ْن


 ُرهُ شك


ربَّ َها فَتَ


ُر ك


 النَّ ْو َم : اَ ْن تَ ْذ ت


ذَا اَ َرادَ


ِت َها عادَ


و ِمن


 ِة النَّ ْو ِم ع َم


على


تَشك َرهُ


: ضا


َرا للَ اَ ْي ك


من نَ ْو ِم َها : اَ ْن تَ ْذ ت


واِذَا قَا َم


ْالَذَى وا


ا ْل َبالَ ِء


الَّذى يُ ِر ْي

Artinya: “salah satu dari kebiasaan Khadijah yakni ketika ia akan tidur, ia berdzikir kepada Tuhannya dan bersyukur karena telah menjaganya dari bahaya dan penyakit dan ketika ia bangun tidur ia juga berdizikir kepada Tuhannya dan bersyukur atas nikmat tidursehingga dapat beristirahat dari rasa letih dan kemudian diberi semangat kembali

Lafadz diatas menjelaskan bagaimana seseorang yang selalu ingat dan bersyukur kepada Allah atas nikmatNya, seperti masih diberi kesempatan umur panjang untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal untuk akhirat kelak. Seperti yang terdapat pada surah Luqman ayat 13:


عظ ْي ٌم


 ْل ٌم ظ


ك لَ


ْر  ش


ن ال


ك با هللاِ


ٍر ش


الَتُ ي


يبُ َن ظه


وهو       ِع


ْب ِنه ال


واِ ْذ قَاَ َل لٌ ْقمن


Artinya: ”(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ”Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.

Ayat diatas menjelaskan bahwa tidak boleh hukumnya melakukan segala sesuatu yang mempersekutukan Allah. Hal tersebut termasuk dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah.(Nurdiana Sari, 2020)

7.   Menghormati


تُ َر ِب  ْيك  ى الَنَّ َها


ستَاذَ تَك :


ى اُ ح ِب


ت, فَا


  ِفى ا ْلبَ ْي ك


َما يُ َربِ  َيا ِن الَنَّ ُه


وا ِلدَ ْيك:


 تُ ِحبَّ ْين, ك


اِنَّ


م ِف ْيدَ ٍة


صائِح


صحك  نَ


و تَ ْن


ْنفَعُك


ِع ْل َم الَّ ِذى ك ا ْل


و تُ َع ِل  ُم


خالَ قَك,


ب اَ


 : تُ َه ِذ  س ِة


ا ْل َم ْد َر


Artinya: “sesungguhnya kamu menyayangi orang tuamu karena mereka telah merawatmu ketika kamu di rumah, dan sayangilah gurumu, karena dia telah mengajarimu ketika kamu di sekolah. Dia mengajarimu akhlak, memberi ilmu yang manfaat dan memberimu nasihat”.

Lafadz diatas menjelaskan bahwa hendaknya menghormati orang tua dan guru, karena guru telah mendidik dan mengajarkan mengenai banyak hal. Hendaknya menghoramti


guru seperti halnya menghormati kedua orang tua. Seperti pada surah An Nisaayat 86:


حس ْيبًا


  ٍء شي


ك ل


كان على


هللاَ ن


 اِ ها


ْنهآ اَ ْو ُردُّ ْو م


اَحسن


حيُّ ْوا


بِتَ ِحيَّ ٍة فَ ح ِي  ْيتُ ْم


واِذَا


Artinya: ”Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu”.

Ayat diatas menjelaskan bahwa anjuran untuk saling menghormati antar sesama dengan membalas kebaikan seseorang dengan balasan yang lebih baik ataupun dengan kebaikan yang sepadan.(Alvita Niamullah, 2022)

8.  Kasih Sayang


ش ْين


 تَ ِع ْي ك


اَنَّ ك َما


وحدَ ٍة,


ٍة س


م  ْد َر


 ِم ْيلَ ِتك  ى ز


ن مع


لَّ ِم ْي


تَتَ ت


 : اَ ْن ت


اَيَّتُ َها ال ِت  ْل ِم ْيذَةُ النَّ ِج ْي َب


وحتَ ِر ِمى من


اَخ َوا ِتك,


تُ ِح ِب  ْين كما


 تُ ِحبِ  ْين ك َما


     ِح ِب  ْي ُهن ك اَ


 واح ٍد فَ ِلذ ِل ت


ى بَ ْي


َوا ِتك خ


مع اَ


م ْنك


صغَ ُر


اَ هى


ى من


ح ِم


واَ ْر


م ْنك,


هى اَ ْك َب ُر


Artinya: “Wahai murid yang cerdas, belajarlah dengan rekan- rekan satu sekolahmu, seperti kamu memperlakukan saudara- saudaramu ketika di rumah, maka sayangilah mereka seperti kamu menyayangi saudara-saudaramu, menghormati yang lebih tua dan yang lebih muda darimu”. (Al Ustadz Umar Bin Ahmad Baraja, n.d.) Lafadz diatas menjelaskan bahwa hendaknya mencintai teman seperti                halnya     mencintai     saudara      sendiri,                menyayangi                dan menghormati orang yang lebih tua maupun orang yang lebih muda. Seperti yang terdapat pada hadist yang diriwayatkan oleh Imam

Bukhori yang berbunyi:


ح َما َء


ِد ِه ال ُّر عبَا


ُم هللاُ من ْرح


اِنَّ َما


Artinya: ”Sesungguhnya Allah menyayangi hambaNya yang penyayang”.

Hadist diatas menjelaskan bahwa Allah menyayangi hamba yang memiliki sifat penyayang. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memberikan kasih sayang terhadap sesama makhluk ciptaanNya.(Prasetyo, 2020).

 

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Kitab Akhlak Lil Banat dan Relevansinya Dengan Santri Era Milenial

Salah satu karakter generasi era millenial yakni menggunaan media sosial secara berlebihan, pentingnya pendidikan karakter bagi generasi era millenial menjadi sesuatu hal yang harus diperhatikan. Berlebihan dalam penggunaan internet dan media sosial cukup berdampak negatif, antara lain semakin kurangnya interaksi sosial secara langsung, kebiasaan menunda pekerjaan, turunnya prestasi, dan sebagainya.(Said, 2019)

Peserta didik di era milenial diberi kemudahan dalam teknologi yang membuat seseorang dapat berubah sikap, cara berpikir bahkan cara pandang akan sesuatu hal. Sementara, peserta didik belum dapat memilih informasi yang diterimanya. Dengan hal ini, peran guru sangat penting di era millenial yakni penanaman nilai-nilai pendidikan karakter pada peserta didik.

Salah satu upaya dalam penanaman nilai-nilai pendidikan karakter yakni dengan adanya pengajian kitab akhlakul lil banat. Madrasah salafiyah V PP. Komplek R Krapyak adalah salah satu pondok pesantren yang menggunakan kitab akhlak lil banat untuk mengkaji akhlak.

Beberapa karakter yang telah diterapkan oleh santri millenial khusunya pada santri Madrasah Salafiyah V PP. Komplek R Krapyak adalah sebagai berikut:

a.      Berakhlak

 

Sifat berakhalak tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial, yang mana kebanyakan memiliki karakter acuh terhadap sekelilingnya akibat dari kemajuan teknologi yang memanjakan di era millenial. Karakter tersebut dapat diimbangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya berakhlak.

Seperti yang telah diimplementasikan oleh santri santri- santri, yakni dengan mengutamakan akhlak dan adab dalam melakukan segala sesuatu. Selain itu, berbaik sangka atau husnudzon, karena dengan husnudzon dapat menjalani hidup dengan damai.

b.      Tawadhu

Sifat tawadhu tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial, yang mana kebanyakan santri era millenial memiliki karakter percaya diri, mempunyai banyak gagasan dan menyampaikan sesuai dengan pandangan mereka. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya tawadhu atau rendah hati.

Seperti yang telah diimplementasikan oleh santri-santri, yakni dengan mendengarkan nasihat guru dan orang tua. Selain itu, tidak merasa sombong dan tidak membanggakan diri.

c.       Taat

Sifat taat tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial, yang mana memiliki karakter menyukai sesuatu yang serba instan, kurang suka membaca, dan lebih banyak menghabiskan waktu dikamar dengan gatged, dan memiliki gaya hidup yang konsumtif. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya sifat taat.

Seperti yang telah diimplementasikan oleh santri-santri yakni dengan menjaga hubungan dengan sesama manusia atau habluminanas maupun menjaga hubungan dengan tuhan atau habluminallah, karena ketika seseorang cinta kepada Allah, dia tidak akan mudah menyakiti hati seseorang.

d.      Sopan santun

Sifat sopan santun tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial, yang kebanyakan memiliki karakter kesopanan dan rasa hormat yang mulai meluntur. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya sifat sopan santun

Seperti yang telah diimplementasikan oleh santri-santri, yakni menggunakan bahasa krama atau bahasa halus ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Selain itu juga dengan mengecilkan suara ketika berbicara maupun tertawa.

e.      Religius

 

Sifat religius tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial yang kebanyakan sibuk dengan urusan urusan dunia, sehingga terkadang lengah dengan urusan akhirat. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya sifat religius.

Seperti yang telah diimplementasikan oleh santri-santri, yakni dengan mendoakan guru ketika setelah setiap sholat, karena guru sebagai wasilah untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Selain itu, bersyukur dengan mengucapkan hamdalah setiap bangun dari tidur, karena masih diberi kesehatan dan panjang umur.

f.        Menghormati

Sifat menghormati tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial yang kebanyakan sudah mulai luntur tata krama dan sopan santunnya. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya sifat saling menghormati.

Seperti yang telah diimplementasikan oleh santri-santri, yakni dengan menghormati orang tua maupun guru. Selain itu menghormati orang yang lebih tua dan lebih muda, tidak

memandang rendah dan berlaku semena-mena kepada orang yang lebih muda.

g.      Kasih Sayang

Sifat kasih sayang tersebut memiliki relevansi dengan santri era millenial yang kebanyakan sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak simpati dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Karakter tersebut dapat diimabangi dengan nilai nilai pendidikan karakter yang telah dikaji dalam kitab akhlak lil banat, salah satunya sifat kasih sayang

Seperti yang telah diimplementasikan oleh santri-santri, yakni dengan saling menolong jika ada teman yang membutuhkan bantuan. Menyayangi teman seperti menyayangi diri sendiri.

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengajian kitab akhlak lil banat menjadi pengingat atau benteng sebelum melakukan segala sesuatu. Perempuan harus bisa menjaga marwahnya dengan mengecilakan suara ketika tertawa, menghormati orang yang lebih tua maupun orang yang lebih muda, menjaga pergaulan, saling tolong menolong antar teman, mendengarkan nasihat orang tua dan guru, taat kepada perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Bagi santri yang sebelumnya sudah pernah mengaji kitab akhlak lil banat dan sudah lupa, dengan adanya pengajian ini untuk mengingatkan kembali mengenai pentingnya nilai-nilai pendidikan karakter di santri era millennial.

Menurut ustadzah pengajar kitab akhlak lil banat pentingnya menanamkan nilai nilai pendidikan karakter pada santri adalah karena yang terpengaruh perkembangan zaman tidak hanya teknologi saja, namun dari segi peradaban sudah berbeda. Masalah pendidikan karakter sangat penting ditanamkan sejak usia dini khususnya pada perempuan.

Seorang santri ketika dihadapkan dengan perkembangan globalisasi yang begitu pesat, hendaknya mampu beradaptasi dan melakukan perubahan. Untuk dapat menyeimbangkan antara duniawi dan akhirat, seorang santri hendaknhya memiliki intelektualitas yang luas. (Chusnul Muali, Adi Wibowo, 2020)

Perempuan harus bisa menjaga marwahnya atau kehormatannya dan menjaga sikapnya. Dibeberapa keadaan perempuan diharapkan untuk menampilkan dirinya atau show up dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya namun tetap pada betasan batasan tertentu.

Adanya pengkajian kitab akhlak lil banat diharapkan dapat membentuk dan menjadikan santri di era millenial memiliki nilai nilai pendidikan karakter yang kapanpun dan dimanapun dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-sehari sehingga segala segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan ajaran agama Islam.

 

Kesimpulan

Nilai nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab akhlak lil banat adalah: berakhlak,tawadhu’,taat, sopan santun, menghormati, religius, dan kasih sayang. Terdapat relevansi nilai-nilai pendidikan karakter dalam kitab akhlak lil banat dengan santri era milenial. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana sikap santri di era milenial khususnya santri Madrasah Salafiyah V Pondok Pesantren Komplek R Krapyak di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi yang begitu pusat yang cukup mempengaruhi cara pandang, gaya hidup, dan bersikap dapat mengimbangi dengan pengajian kitab akhlak lil banat yang memepelajari bagaiamana menjadi muslimah yang baik dengan menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter sebagai benteng dan pegangan dalam melakukan segala sesuatu.

 


BLIBLIOGRAFI

Al Ustadz Umar Bin Ahmad Baraja. (n.d.). Kitab Akhlal lil Banat.

Maktabah Muhammad bin Ahmad Nabhan wa Auladah.

Alfauzan Amin. (2014). Aktualisasi Kebebasan dalam Pendidikan Islam di Era Modern. 6(2), 213.

Alfauzan Amin. (2017). Sinergisitas Pendidikan Keluarga, Sokalah dan Masyarakat, Analisis Tripusat Pendidikan. 16(1), 111.

Alvita Niamullah. (2022). Telaah Makna Thiyyah pada QS. An Nisa’ Ayat 86. 46(1), 117.

Chusnul Muali, Adi Wibowo, H. (2020). Tantangan Pendidikan Pesantren dalam Membina Karakter Santri Millenial. 3(2), 133.

Emi Suhemi. (2019). Takabbur Dalam Perspektif Al Quran da Hadits.

16(2), 205.

Faiq Nurul Izzah dan Nur Hidayat. (2013). Nilai-Nilai Pendidikan Karakter DalaM Kitab Al-Akhlaq Lil Banin Jilid 1 Karya Al Ustaz Umar Bin Ahmad Baraja Dan Relevansinya Bagi Siswa MI. 5(1), 66.

Fajriyati Khofifah, Mahrur Adam Maulana, N. K. (2022). Pembelajaran Kitab Al-Akhlak Lil Banat dalam Pembentukan Karakter Religius Santri. 1(2), 46.

Hofifah Astuti. (2021). Berbakti Kepada Orang Tua dalam Ungkapan Hadis. 1(1), 42.

Kurniawan, R. S. dan B. (2021). Kajian Konstektual Kitab Akhlaqul Banin Dalam Bentuk Karakter Santri. 2(1), 44.

Nurdiana Sari. (2020). Studi Tentang Pendidikan Keluarga Dalam Tinjauan Hadis Nabi. 10, 157.

Prasetyo, A. A. (2020). Internalisasi Hadis Kasih Sayang dalam Mewujudkan Social Interest di Era Disrupsi. 21(1), 213.

Puspa Handayani, Mira Septiana, A. A. (2022). Pentingnya Pendidikan Karakter pada Anak Sekolah Dasar di Era Digital. 4(5), 4604.

Said, R. dan A. (2019). Impelentasi Pendidikan Karakter Islam di Era Milenial Pada Pondok Pesantren Mahasiswa. 9(2), 43.

Sariwandi Syahroni. (2017). Peranan Orang Tua dan Sekolah dalam Pengembangan Karakter Anak Didik. 6(1), 13.

Siti Fatimah. (2014). Etika Komunikasi dalam Al Quran Studi Tafsir Surat Al Hujurat Ayat 1-8. 1(2), 100.

Sofia Gussevi dan Nur Aeni Muhfi. (2021). Tantangan Mendidik Generasi Milenial Muslim di Era Revolusi Industri 4.0. 2(1), 47.

Sri Wahyuningsih. (2013). Metode Penelitian Studi Kasus. UTM Press. Syamsu Nahar, Z. dan R. (2021). Pendidikan Anak Usia Dini dalam

Persfektif Al Quran. 13(1), 80.

Walinah. (2020). Pendidikan Karakter Era Milenial. Qahar Publisher.

 

Copyright holder:

Qurrotul A’yun, Mahmud Arif, Alfauzan Amin (2023)

 

First publication right:

Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik

 

This article is licensed under: