Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik
Vol. 3, No. 1, Januari 2021
Agus Ali, Atik Mardiati
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Jati Bandung Jawa Barat, Indonesia
Email: agusali12121212@gmail.com, atikmardiatiatikmardiati@gmail.com
Abstract
Education as the basic capital of the development of a nation and is a process to improve and develop human resources needed in the process of nation building. The purpose of this research is to know the implementation of integrated quality management of the Center for Community Learning Activities (PKBM) anshor cibungbulang Bogor district. This type of research is qualitative research. Qualitative research is research that intends to understand phenomena about what is experienced by research subjects such as behavior, perception, motivation, actions, etc. The result of the implementation of TQM is (a) the establishment of good communication on all parties (b) the establishment of good habituation of worship in school residents, (c) the establishment of noble morals / character (d) the implementation of an open school ecosystem, (e) the implementation of training and coaching of teachers and employees, and (f) the implementation of student activitas in the form of quality self-development. The impact of the implementation of local excellence-based TQM (character building and ruhani strengthening) is the increasing: (a) public trust, (b) the quantity and quality of student inputs, (c) the quality of output, with the achievement of SKL with balance in academic and non-academic achievements and (d) the support of stake holders.
Keywords: quality management; learning; Community
Abstrak
Pendidikan sebagai modal dasar pembangunan suatu bangsa serta merupakan proses untuk meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam proses pembangunan bangsa. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui implementasi menajemen mutu terpadu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) anshor cibungbulang kabupaten Bogor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Hasil implementasi TQM adalah (a) terbangunnya komunikasi yang baik pada semua pihak (b) terbentuknya pembiasaan peribadahan yang baik pada warga sekolah, (c) terbentuknya akhlak mulia/karakter (d) terlaksananya ekosistem sekolah yang terbuka, (e) terlaksanannya training dan pembinaan guru dan karyawan, dan (f) terlaksananya activitas siswa berupa pengembangan diri yang berkualitas. Dampak implementasi TQM berbasis keunggulan lokal (pembinaan karakter dan penguatan ruhani) adalah meningkatnya: (a) kepercayaan masyarakat, (b) kuantitas dan kualitas input siswa, (c) kualitas output, dengan ketercapaian SKL dengan keseimbangan dalam prestasi akademik dan non akademik dan (d) dukungan stake holder.
Kata Kunci: manajemen mutu; belajar; masyarakat
Pendahuluan
Pendidikan sebagai modal dasar pembangunan suatu bangsa serta merupakan proses untuk meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam proses pembangunan bangsa. Untuk mencapai tujuan pendidikan, maka proses pendidikan harus dikelola secara professional. Pendidikan nasional merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Presiden Republik Indonesia, 2003). Dunia pendidikan merupakan cara yang telah dilakukan umat manusia sepanjang kehidupannya untuk menjadi sarana dalam melakukan transmisi dan transformasi (Sudrajat, 2011). Pendidikan merupakan proses humanisasi atau pemanusiaan manusia (Tholkhah & Barizi, 2004).
Menurut (Mustari & Rahman, 2014), pendidikan merupakan aspek penting dalam era globalisasi. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka suatu bangsa perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan keniscayaan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, jika tidak ingin suatu bangsa kalah dalam persaingan di era globalisasi dewasa ini. Di samping itu pendidikan merupakan usaha untuk membentuk manusia yang utuh lahir dan batin cerdas, sehat, dan berbudi pekerti luhur (Rini & Tari, 2013).
Secara kuantitas, pendidikan di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat, meski demikian secara kualitas perkembangannya masih belum merata. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya kesenjangan pendidikan pada wilayah Timur dan Barat Indonesia.
Mutu atau kualitas merupakan “suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan-harapan” (Arlina, 2015). Pada bidang pendidikan, “mutu pendidikan bersifat menyeluruh melibatkan seluruh komponen, pelaksana, dan kegiatan yang ada dalam pendidikan disebut Mutu Total atau Total Quality”.
Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari kompleksnya problematika pendidikan yang ada. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut, yaitu sistem pendidikan yang termaginalisasi akibat tidak stabilnya kondisi pemerataan pendidikan yang masih belum terlaksana dengan baik. Melihat dari fenomena itu seharusnya pendidikan Indonesia secepatnya untuk berbenah, apalagi saat ini Indonesia merupakan bagian dari Akta perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau biasa dikenal dengan masa pasar bebas ASEAN (Diansyah, Wiyono, & Maisyaroh, 2016).
Menurut (Sumintono & Widhiarso, 2015), peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara. MEA merupakan peluang bagi Indonesia dengan segala potensi yang ada, akan tetapi disisi lain akan juga menjadi senjata yang akan membuat Indonesia menjadi tamu di negaranya sendiri (Rifqi, 2018). Dinyatakan pula bahwa setiap SDM di negara anggota MEA diperbolehkan untuk mencari peluang pekerjaan secara bebas ke negara lainnya. Fenomena tersebut tentunya harus mampu kita tangani secara baik, solusi dalam perbaikan hal tersebut adalah melalui peningkatan mutu SDM di Indonesia melalui pendidikan.
Menurut (Sudarsana, 2016), pendidikan sesungguhnya memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu bentuk atau langkah yang mampu memperbaiki peningkatan kualiatas SDM Indonesia adalah dengan peningkatan kualifikasi kelulusan jenjang sekolah masyarakat Indonesia. Tidak bisa dipungkiri tinggi rendahnya kualifikasi kelulusan sekolah memengaruhi dalam dunia kerja. Sementara itu, pesaing dari luar akan berdatangan ke Indonesia dengan segala kualitas dan kualifikasi kelulusan yang tinggi. Solusi dari permasalahan tersebut dapat diakomodir, salah satunmya dengan melalui penyetaraan tingkat kualifikasi SDM di Indonesia atau yang lebih dikenal dengan kejar paket.
Indonesia merupakan negara dengan angka putus sekolah cukup tinggi. Tahun 2016 lalu, merujuk pada data Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), ada sekitar 946.013 siswa lulusan SD yang tidak mampu melanjutkan ke jenjang berikutnya, SMP. Kondisi ini diperparah dengan data 51.541 orang jumlah siswa yang melanjutkan ke SMP ternyata tidak lulus. Artinya ada 997.445 jiwa data siswa yang hanya memiliki ijazah SD (Muhamad, 2013).
Padahal sudah jauh hari pemerintah menggalakan program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun namun hasil yang dicapai belum maksimal. Sayangnya, kebanyakan mereka yang putus sekolah tidak menyadari betapa pentingnya peran ijazah sampai akhirnya mereka kesulitan mendapat pekerjaan dan menjadi pengangguran.
Kejar paket atau sekolah kesetaraan adalah solusi bagi mereka yang putus sekolah. Ketentuan mengenai kesetaraan ini diatur dalam Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 26, ayat (6), “Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.”
Dengan demikian legalitas ijazah nonformal memiliki fungsi yang sama dengan sekolah formal, yaitu bisa digunakan untuk melamar kerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Solusi dari mengurangi angka putus sekolah adalah dengan PKBM.
PKBM adalah singkatan dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, yakni lembaga pendidikan nonformal di bawah naungan Pendidikan Non Formal Indonesia (PNFI) dengan induk Dinas Pendidikan Nasional. Jadi PKBM merupakan lembaga yang ditunjuk pemerintah sebagai wadah bagi mereka yang putus sekolah dan membutuhkan ijazah. Di PKBM sendiri terdiri dari tiga jenjang pendidikan yaitu paket A setara SD, paket B setara SMP dan paket C setara SMA.
Pendidikan Kesetaraan adalah salah satu satuan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal yang meliputi kelompok belajar (kejar) Program Paket A setara SD/MI, Program Paket B setara SMP/MTs, dan Program Paket C setara SMA/MA yang dapat diselenggarakan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Pusat kegiatan belajar Masyarakat (PKBM), atau satuan sejenis lainnya. Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan mengganti.
Program kejar paket tentunya tidak bisa lepas dari manajemen mutu terpadu dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan kegiatan pendukung lainnya. Terlebih lagi pendidikan kejar paket merupakan salah satu solusi dalam meningkatkan mutu peserta didik.
Metode Penelitian
Pendekatan penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. dengan alasan (1) data penelitian bersifat alamiah, (2) penelitian ini mementingkan proses, dan (3) data merupakan data deskriptif yang berupa kata-kata, frase, kalimat atau teks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah study kasus (case study) yaitu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu gambaran yang utuh dan terorganisasi dengan baik tentang komponen-komponen tertentu sehingga dapat memberikan kevalidan hasil penelitian.
Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi; (1) observasi terlibat, (2) wawancara mendalam, dan (3) dokumentasi. Untuk menjamin akurasi data yang diperoleh dan kesesuainnya dengan masalah penelitian maka dilakukan telaah; (1) keaslian dokumen, (2) kebenaran isi dokumen, dan (3) relevansi isi dokumen dengan permasalahan yang dikaji dalam penelitian.
Analisis data dibagi ke dalam dua tahap; (1) analysis in the field, dan (2) analysis after data collection. Hasil yang diperoleh pada tahap pertama berupa catatan lapangan (field note) atau field work. Hasil analisis pada tahap ini berupa kesimpulan sementara yang diperoleh dari hasil observasi, dan kajian dokumen dengan menggunakan model analisis induktif. Data (kesimpulan) yang diperoleh pada analisis tahap pertama selanjutnya dikembangkan pada analisis tahap kedua, yaitu analysis after data collection. Pada tahap ini semua data dianalisis secara induktif dengan menggunakan analisis kualitatif deskriptif, yaitu dengan menguraikan berbagai fenomena pengelolaan dan aktivitas sekolah secara verbal. Dalam penelitian ini diperlukan subjek penelitian, yaitu orang atau apa saja yang menjadi subyek penelitian.
Hasil dan Pembahasan
Manajemen Mutu Terpadu (TQM) adalah suatu konsep manajemen yang telah dikembangkan sejak lima puluh tahun lalu dari berbagai praktek manajemen serta usaha peningkatan dan pengembangan produktivitas. Di masa lampau, literatur manajemen berfokus pada fungsi-fungsi kontrol kelembagaan, termasuk perencanaan, pengorganisasian, perekrutan staf, pemberian arahan, penugasan, strukturisasi dan penyusunan anggaran. Konsep manajemen ini membuka jalan menuju paradigma berpikir baru yang memberi penekanan pada kepuasan pelanggan, inovasi dan peningkatan mutu pelayanan secara berkesinambungan. Faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya “perubahan paradigma” adalah menajamnya persaingan, ketidakpuasan pelanggan terhadap mutu pelayanan dan produk, pemotongan anggaran serta krisis ekonomi (Saril, 2019). Meskipun akar TQM berasal dari model-model perusahaan dan industri, namun kini penggunaannya telah merambah sturuktur manajemen, baik di lembaga pemerintah maupun lembaga nirlaba (Indana, 2017).
Alasan pemilihan Manajemen Mutu Terpadu (TQM) di PKBM Anshor Cibungbulang ini dilandasi bahwa sistem manajemen ini terbukti sukses diterapkan di beberapa lembaga. Adapun penerapannya di PKBM Anshor Cibungbulang berbasis kearifan lokal (pembinaan karakter dan penguatan ruhani) sebagai strategi melejitkan prestasi yang progressive di PKBM Anshor Cibungbulang Bogor. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa melejitkan prestasi siswa, guru, maupun sekolah dapat terlaksana apabila (1) fokus terhadap pembinaan karakter dan penguatan ruhani, (2) agar sekolah melakukan inovasi secara kontinu dengan, melakukan berbagai perbaikan dan perubahan yang terarah secara terus menerus, serta mempunyai “pijakan” kuat dalam tata kelola pembinaan karakter untuk mencapai prestasi (3) melibatkan seluruh perserta didik sehingga memiliki culture serta habit yang mendukung naiknya prestasi.
1. Menjalin komunikasi yang baik.
Kerjasama yang baik telah dilakukan oleh PKBM Anshor Cibungbulang di antaranya dengan pihak orangtua siswa selaku pendidik utama para siswa PKBM Anshor Cibungbulang Bogor, selain itu kerja sama dengan berbagai pihak didalam negeri. Kerja sama dengan berbagai pihak dalam negeri bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan mutu sekolah.
Kegiatan pembiasaan siswa dilaksanakan rutin dan terprogram untuk membentuk sikap anak cerdas berakhlak mulia sebagai pengejawantahan dari visi melahirkan generasi qur’ani, unggul dalam ilmu pengetahuan dan penanaman karakter islami. Hal ini, dimaksudkan agar identitas dan karakter sebagai masyarakat Indonesia tetap dipertahankan dan sesuai budaya islami.
3. Pembentukan pribadi yang berakhlak mulia.
Akhlak atau moral harus dibina sejak dini apalagi di usia PKBM yang memasuki fase remaja sebagai bekal untuk menjadi insan yang bertanggung jawab dalam bersosialisasi dengan masyarakat dalam kehidupan seharihari. “Sejuta Pesan” (semangat, jujur, tanggung jawab, peduli dan santun) yang merupakan penerapan karakter siswa, dengan motto “Membimbing Sepenuh Hati Agar Shalih dan Berprestasi” ini dapat dilihat dari penerapan sikap dengan 5 S (senyum, salam, dan sapa, sopan, santun), prinsip saling menghormati, jujur, serta peduli terhadap orang lain sebagai perwujudan dari karakter semangat, jujur, tanggung jawab, peduli dan santun.
4. Optimalisasi pengembangan diri bagi siswa.
Kegiatan pengembangan diri bagi siswa bertujuan untuk memfasilitasi dan mengembangkan bakat siswa. Kegiatan pengembangan diri dimasukkan dalam program pengembangan bakat minat dengan layanan intensif atau khusus.
Hasil Observasi di PKBM Anshor Cibungbulang, ditemukan penerapan Manajemen Mutu Terpadu di PKBM Anshor Cibungbulang dapat dideskripsikan sebagai berikut:
Pembentukan akhlak mulia di PKBM Anshor Cibungbulang Bogor bertujuan untuk membentuk karakter yang dapat diterapkan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi di lingkungan masyarakat. Proses pembentukan karakter sejuta pesan ini secara tidak langsung mengajarkan unggah-ungguh yang berbasis keunggulan lokal dan agama dalam berinteraksi dengan orang lain dan peka terhadap keadaan sekitar.
Pengembangan diri dilakukan PKBM Anshor Cibungbulang Bogor juga memperhatikan keunggulan lokal antara lain khitobah, klub bahasa, nasyid dan hadrah
Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa PKBM Anshor Cibungbulang Bogor yang pada awalnya merupakan sekolah yang hanya diisi oleh beberapa siswa, kemudian banyak memperoleh prestasi dan diminati masyarakat banyak disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: PKBM Anshor Cibungbulang Bogor benar-benar menerapkan konsep Manajemen Mutu Terpadu secara baik dengan konsentrasi pada keunggulan lokal yang dimilikinya, yaitu pembinaan karakter sebagai strategi meningkatkan kualitas dan prestasi sekolah. Manajemen Mutu Terpadu sebagai strategi melejitkan prestasi yang progressive di PKBM Anshor Cibungbulang Bogor menjadi 6 tahap, yaitu (a) membangun komunikasi yang baik, (b) membentuk kebiasaan yang baik, (c) membentuk akhlak yang baik, (d) membangun ekosistem sekolah yang terbuka (e) pelaksanaan training dan pembinaan guru, dan (f) pelaksanaan kegiatan siswa dalam rangka membentuk karakter mulia dan penguatan ruhani. Hasil implementasi TQM adalah (a) terbangunnya komunikasi yang baik pada semua pihak (b) terbentuknya pembiasaan peribadahan yang baik pada warga sekolah, (c) terbentuknya akhlak mulia/karakter (d) terlaksananya ekosistem sekolah yang terbuka, (e) terlaksanannya training dan pembinaan guru dan karyawan, dan (f) terlaksananya activitas siswa berupa pengembangan diri yang berkualitas. Dampak implementasi TQM berbasis keunggulan lokal (pembinaan karakter dan penguatan ruhani) adalah meningkatnya: (a) kepercayaan masyarakat, (b) kuantitas dan kualitas input siswa, (c) kualitas output, dengan ketercapaian SKL dengan keseimbangan dalam prestasi akademik dan non akademik dan (d) dukungan stakeholder.
BIBLIOGRAFI
Arlina, Arlina. (2015). Penerapan Manajemen Mutu Terpadu Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Di SMA Wahyu Makassar. Makassar: Universitas Negeri Makassar.
Diansyah, Aziz Shofi Nur, Wiyono, Bambang Budi, & Maisyaroh, Maisyaroh. (2016). Implementasi Total Quality Management pada Program Pendidikan Kejar Paket (Studi Multi Situs di PKBM Bintang Bangsa Kab Malang dan Ki Hajar Dewantara Kota Malang). Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, Dan Pengembangan, 1(3), 369–376.
Indana, Nurul. (2017). Implementasi Total Quality Management (TQM) dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan:(Studi Kasus di MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng). Al-Idaroh: Jurnal Studi Manajemen Pendidikan Islam, 1(1), 62–86.
Indonesia, Presiden Republik. (2003). Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Muhamad, Indoyanu. (2013). Putus Sekolah? PKBM Bisa Jadi Solusinya.
Mustari, Muhamad, & Rahman, M. Taufiq. (2014). Manajemen pendidikan. RajaGrafika Persada.
Rifqi, Ainur. (2018). Implementasi Total Quality Management pada Pendidikan Jarak Jauh. Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 2(2), 167–176.
Rini, Yuli Sectio, & Tari, Jurusan Pendidikan Seni. (2013). Pendidikan: Hakekat, Tujuan, dan Proses. Jogyakarta: Pendidikan Dan Seni Universitas Negeri Jogyakarta.
Saril, SARIL. (2019). Total Quality Management (TQM) Sebagai Wujud Peningkatan Mutu Pendidikan. Adaara: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 9(2), 963–972.
Sudarsana, I. Ketut. (2016). Peningkatan mutu pendidikan luar sekolah dalam upayapembangunan sumber daya manusia. Jurnal Penjaminan Mutu, 1(1), 1–14.
Sudrajat, Ajat. (2011). Mengapa pendidikan? Jurnal Pendidikan Karakter, 1(1).
Sumintono, Bambang, & Widhiarso, Wahyu. (2015). Aplikasi pemodelan rasch pada assessment pendidikan. Trim komunikata.
Tholkhah, Imam, & Barizi, Ahmad. (2004). Membuka Jendela Pendidikan: mengurai akar tradisi dan integrasi keilmuan pendidikan islam/Imam Tolkhah.
|
Copyright holder: Agus Ali, Atik Mardiati (2021)
|
|
First publication right: Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik
|
|
This article is licensed under:
|