Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik
e-ISSN: 2775-0833; p-ISSN: 2775-0329
Vol. 3, No. 2, Juli
2021
PENGEMBANGAN MODUL BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK PERMAINAN KOLABORATIF UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU EMPATI
ANAK USIA DINI
Diah Utamy, Evi Afiati, Putri Dian Dia Conia
Universitas Sultan Ageng
Tirtayasa (Untirta) Banten,
Indonesia
Email:
diah.utamy10@gmail.com, eviafiati@untirta.ac.id, putriconia@unirta.ac.id
Abstrak
Penelitian ini
dilatarbelakangi oleh permasalahan
perilaku empati anak usia dini
yang perlu untuk ditingkatkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu melalui bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif. Penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan modul bimbingan kelompok dengan teknik permainan
kolaboratif, yang diharapkan
dapat membantu guru taman
kanak-kanak dalam memberikan layanan bimbingan kelompok. Modul yang dikembangkan berupa buku bahan ajar yang dapat digunakan sebagai panduan pelaksanaan
kegiatan. Tujuannya untuk
memberikan kemudahan kepada guru dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan kelompok, sehingga fokus pada layanan yang diberikan, serta dapat memberikan
rangsangan pada anak dalam meningkatkan perilaku empati. Metode yang digunakan yaitu metode Penelitian
dan Pengembangan (R&D) dengan
mengadaptasi model pengembangan
ADDIE yang disederhanakan oleh peneliti
kedalam tiga tahapan yaitu analisis,
perancangan dan pengembangan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan
adalah dengan melakukan uji kelayakan ahli terhadap produk
yang dikembangkan. Adapun teknik
pengolahan data yang digunakan
adalah skala likert, yang disajikan dalam bentuk data kuantitatif dan kualitatif. Hasil
uji kelayakan yang telah dilakukan terhadap produk pengembangan, memperoleh hasil rata-rata 93%, artinya modul bimbingan
kelompok dengan teknik permainan kolaboratif untuk meningkatkan empati anak usia dini
yang dikembangkan termasuk dalam kategori “sangat
layak.”
Kata Kunci: pengembangan modul bimbingan kelompok; permainan kolaboratif; empati; anak usia dini
Abstract
This research is motivated by the problem of early
childhood empathy behavior that needs to be improved. One effort that can be
done is through group guidance with collaborative game techniques. This study
aims to develop a group guidance module with collaborative game techniques,
which is expected to help kindergarten teachers in providing group guidance
services. The module developed is in the form of a book of teaching materials
that can be used as a guide for the implementation of activities. The goal is
to make it easier for teachers in implementing group guidance activities, so
that they focus on the services provided, and can provide stimulation to
children in increasing empathetic behavior. The method used is the Research and
Development (R&D) method by adapting the ADDIE development model which is
simplified by the researchers into three stages, namely analysis, design and
development. The data collection technique used is to conduct an expert feasibility
test on the product being developed. The data processing technique used is the
Likert scale, which is presented in the form of quantitative and qualitative
data. The results of the feasibility test that have been carried out on
development products, obtained an average result of 93%, meaning that the group
guidance module with collaborative game techniques to increase empathy for
early childhood developed is included in the "very feasible"
category.
Keywords: development of group guidance modules; collaborative games; empathy; early childhood
Pendahuluan
Anak usia dini adalah bayi yang baru dilahirkan
sampai dengan usia 6 tahun (usia 0 sampai 6 tahun). Pada masa usia dini anak
akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, sekitar 50%
kapabilitas kecerdasan manusia terjadi ketika anak berusia 4 tahun, 80% telah
terjadi ketika berusia 8 tahun dan mencapai titik kulminasi ketika anak berusia
18 tahun (Trenggonowati & Kulsum, 2018). Hal tersebut dapat diartikan bahwa perkembangan yang terjadi
pada manusia, dalam kurun waktu 4 tahun pertama memiliki kapabilitas yang sama
besarnya dengan perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 14 tahun berikutnya
dan selanjutnya perkembangan otak akan manusia akan mengalami keadaan terhenti
atau stagnasi (Syaodih, E dan Agustin, 2012).
Sebagai generasi penerus bagi bangsa dan negara, maka
anak dari kecil harus mendapatkan pendidikan yang tepat. Hal tersebut
dikarenakan agar anak-anak tumbuh menjadi sosok dewasa yang berkarakter,
disiplin, bertanggung jawab, bijaksana, berpikir jauh kedepan dan lain
sebagainya (Lutfiati, 2016). Pentingnya pendidikan bagi
anak-anak yang direalisasikan dengan diadakannya program pemerintah berupa
Pendidikan Anak Usia Dini, yang memiliki tujuan untuk membentuk anak Indonesia
berkualitas, yaitu anak yang akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat
perkembangannya. Selain itu, Pendidikan Anak Usia Dini juga bertujuan membantu
menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah (Rifai & Fahmi, 2017).
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Bab I
Pasal 1 Ayat 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Hal tersebut
sesuai dengan pendapat Hurlock (Aryanti, 2015) yang mengemukakan bahwa kesiapan bersekolah terdiri
dari kesiapan fisik, kesiapan kognitif, kesiapan emosi, kesiapan sosial dan
mental.
Menurut (Pratiwi, 2018) kesiapan
bersekolah merupakan kemampuan anak dalam mencapai tingkat perkembangan emosi,
fisik dan kognisi yang memadai, sehingga anak mampu atau berhasil dengan baik
dalam proses pembelajaran dan penyesuaian diri di lingkungan sekolahnya. Seorang
anak, dikatakan telah memiliki kesiapan fisik bila perkembangan motoriknya
sudah matang. Selain itu keseimbangan badan juga relatif berkembang baik.
Kesiapan kognitif merupakan kesiapan anak dalam bidang akademik dasar yaitu
mengenal huruf, mengenal angka dan mampu memahami setiap instruksi (Aryanti, 2015).
Kesiapan emosional sudah dicapai apabila anak secara
emosional dapat cukup mandiri lepas dari bantuan dan bimbingan orang dewasa,
tidak mengalami kesulitan untuk berpisah dalam waktu tertentu dengan
orangtuanya, dapat menerima dan mengerti setiap tuntutan di sekolah, serta
dapat mengontrol emosinya seperti rasa marah, takut, dan iri (Pratiwi, 2018). Kesiapan secara
sosial dapat dilihat dari kemampuan anak dalam menyesuaikan diri kepada guru
dan teman temannya, anak dapat bekerjasama, saling menolong, menunggu giliran
untuk suatu tugas dan (Aryanti, 2015).
Pada masa kanak-kanak awal sering disebut
sebagai masa prasekolah, anak biasanya masuk ke dalam Kelompok Bermain (KB)
atau Taman Kanak-kanak (TK). Kelompok Bermain atau Taman Kanak-kanak adalah salah satu
bentuk layanan pendidikan bagi anak usia dini sebelum memasuki tahap pendidikan
dasar (Ananda & Fadhilaturrahmi, 2018). Anak TK berada pada
kisaran usia 4-6 tahun yang termasuk dalam masa perkembangan kanak-kanak awal,
masa kanak-kanak awal adalah masa perkembangan individu yang terjadi pada
rentang usia 2 sampai 6 tahun (Jannah, 2015). Saat anak berada
dalam kategori kelompok bermain maka ia akan dapat mengembangkan berbagai
potensi baik secara psikis maupun fisik, perkembangan tersebut meliputi moral
dan nilai-nilai agama, kemandirian dan juga pada sosial emosionalnya (Ananda & Fadhilaturrahmi, 2018). Perkembangan sosial emosional merupakan hal
penting yang harus dimiliki oleh setiap anak, khususnya untuk berperilaku
empati, guna menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan guru dan sesama
anak dikelas (Sukmady, 2017).
Menurut Frued dan Piaget, pada umumnya anak usia dini
memiliki sifat egosentrisme, yang berarti secara kognitif kemampuan empatinya
masih harus ditingkatkan. Namun berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya,
ditemukan anak usia dini memiliki kemampuan menampilkan berbagai perilaku
empati yang cukup baik. Hal tersebut bisa dilakukan dengan memberikan
kesempatan kepada anak untuk belajar dan berlatih, agar ia dapat mengembangkan
kemampuan empatinya terhadap orang lain sesuai dengan tahapan usianya (McDonald & Messinger, 2011)
Perilaku empati merupakan suatu kemampuan yang dimiliki individu, untuk ikut merasakan
atau membayangkan pengalaman emosional individu lainnya (McDonald & Messinger, 2011). Menurut
(Taufik, 2012) menjelaskan empati merupakan perubahan imajinasi seseorang ke dalam
pikiran, perasaan dan perilaku orang lain. Kemampuan berempati merupakan bagian
penting dari perkembangan sosial emosional, yang memengaruhi perilaku individu
terhadap orang lain dan kualitas hubungan sosial. Adanya perilaku empati dapat
melibatkan individu secara langsung, termasuk emosionalnya untuk merasakan
kesulitan atau kesedihan. Salah satu faktor yang menjadi dasar dari berhasilnya
interaksi sosial adalah empati (Meidina, Sofia, & Anggraini, 2018).
Empati dibangun berdasarkan kesadaran sendiri, semakin
anak terbuka pada emosi diri sendiri semakin terampil pula anak dapat memahami
perasaan orang lain. Empati merupakan kunci untuk memahami perasaan orang lain
sehingga anak mampu menunjukan sikap toleransinya dan dapat memberikan kasih
sayang, memahami kebutuhan temannya, serta mau menolong teman yang sedang
mengalami kesulitan (Sukmady, 2017).
Salah satu faktor yang menyebabkan kurangnya empati
pada anak adalah adanya kekerasan yang dialami oleh anak dari orangtuanya (Fidrayani, 2015). Peran orang tua terhadap perkembangan
empati memiliki pengaruh yang sangat besar. Hal ini sesuai dengan pendapat
Hoffman (Wardhani, 2018) salah
satu faktor yang memengaruhi empati ialah pola asuh orangtua, rasa empati pada
anak dapat dibantu ditumbuhkan dari lingkungan keluarga yang berempati.
Penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh (Ananda & Fadhilaturrahmi, 2018) mengenai peningkatan
kemampuan sosial emosional melalui permainan kolaboratif pada anak kelompok
bermain, menunjukkan kemampuan sosial emosional pada anak usia dini dapat meningkat
setelah dilakukan tindakan melalui permainan kolaboratif dibuktikan pada kondisi
awal, dari total anak yang berjumlah
16 orang, anak yang dapat bersosialisasi dengan teman-temannya 18,7% meningkat
5,5%, melatih kesabarannya 12,5%
meningkat 4,5%, bersikap bersahabat dengan teman-teman
12,5% meningkat 4,25%, kemampuan dalam mengontrol
emosinya 12,5%, meningkat 4,25%.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh (Ariin, Rohendi, & Istianti, 2016) hasil penelitiannya menunjukkan peningkatan perkembangan
sosial anak setelah dilakukan bermain secara kolaboratif ditandai dengan nilai rata-rata perkembangan anak pada siklus
1 yaitu 1,78 meningkat pada siklus 2 rata-rata kelas menjadi 2,09 dan rata-rata
kelas siklus 3 mengalami peningkatan menjadi 2,69.
Hal tersebut serupa dengan penelitian (Nur, Halimah, & Nurzaman, 2017) dalam penelitiannya mengenai permainan tradisional “kaulinan barudak” untuk mengembangkan sikap empati dan pola gerak
dasar anak usia dini, yang melibatkan 30 anak berusia 5-6 tahun untuk
dijadikan sampel. Hasil penelitiannya
menunjukkan sikap empati anak dapat berkembang setelah dilakukan tindakan,
ditandai pada pretest presentase
tertinggi adalah sebesar 45,10%, meningkat pada posttest hingga 78,43% dengan selisih peningkatan sebesar 33,33%.
Berdasarkan hasil
pra penelitian peneliti di RA Al Izzah Kota Cilegon, belum terdapat program
secara terstruktur dan metode yang menarik dalam membantu meningkatkan
perkembangan sosial emosional anak, terutama pada perilaku empati. Hal tersebut
diperkuat dengan hasil wawancara yang dilaksanakan oleh peneliti dengan kepala
sekolah, yang menyatakan bahwa perilaku empati anak saat ini berada pada tahap
mulai berkembang, sejauh ini guru memberikan pemahaman empati pada anak hanya
dengan metode pemberian contoh (modeling)
dan ceramah. Maka dalam hal ini peneliti tertarik untuk membuat suatu modul
mengenai bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif, yang dapat
dijadikan sebagai panduan bagi guru dalam membantu meningkatkan empati anak.
Pembuatan modul diharapkan dapat memberikan suatu metode baru dan bermanfaat
dalam membantu meningkatkan empati anak di RA Al Izzah Kota Cilegon.
Bimbingan dan
konseling merupakan layanan bantuan yang diberikan pada berbagai jenis
pendidikan dan dalam berbagai setting
kehidupan, artinya bimbingan dan konseling tidak hanya dilaksanakan pada jalur
pendidikan formal, melainkan harus mulai dikembangkan pada jalur pendidikan
nonformal yaitu bagi PAUD atau TK, guru dan orangtua (Sriyanti, 2015). Menurut (Syaodih, E dan Agustin, 2012)
menjelaskan, bimbingan dan konseling pada anak usia dini dapat diartikan
sebagai upaya bantuan yang dilakukan guru atau pendamping terhadap anak usia
dini, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal serta mampu
mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.
Salah satu lingkup
layanan bimbingan dan konseling yang diberikan pada anak usia dini yaitu
kegiatan bimbingan pribadi-sosial, yang memiliki tujuan agar anak mampu
menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan secara baik. Bimbingan
pribadi-sosial diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif,
interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan sistem pemahaman diri dan
sikap-sikap yang positif, serta keterampilan-keterampilan pribadi-sosial yang
tepat (Syaodih, E dan Agustin, 2012).
Perilaku empati
anak usia dini dapat ditingkatkan melalui kegiatan yang menarik dan menyenangkan.
Kegiatan yang dapat dilakukan salah satunya melalui bermain, karena bermain
merupakan dunia anak-anak dan dengan bermain anak-anak akan lebih tertarik.
Permasalahan sosial dan emosional pada anak TK dapat diatasi dengan cara
mengoptimalkan layanan bimbingan dan konseling di TK. Adapun pelaksanaan
layanan bimbingan dan konseling yang dapat digunakan dalam instansi sekolah
untuk meningkatkan perilaku empati anak salah satunya adalah dengan bimbingan
kelompok. Bimbingan kelompok merupakan bantuan terhadap anak yang dilaksanakan dalam
situasi kelompok Bimbingan kelompok berguna untuk membantu anak yang
mengalami permasalahan perilaku empati dengan memanfaatkan dinamika kelompok.
Perlaksanaan
layanan bimbingan kelompok pada umumnya dilaksankan oleh guru bimbingan dan
konseling, namun pada jenjang TK atau PAUD pemberian layanan dilaksanakan oleh
guru atau pendamping. Oleh sebab itu, maka perlu adanya modul sebagai panduan
bagi guru atau pendamping dalam melaksanakan layanan bimbingan kelompok.
Melalui modul guru atau pendamping dapat melaksanakan layanan bimbingan kelompok
dengan baik, sehingga tujuan dari pemberian layanan dapat tercapai.
Upaya yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan perilaku empati pada anak usia dini, yaitu melalui
bimbingan kelompok dengan menggunakan teknik permainan kolaboratif. Beberapa
permainan kolaboratif yang dapat meningkatkan perilaku empati pada anak di RA
Al Izzah Kota Cilegon tahun ajaran 2020/2021, yakni permainan kolaboratif boy-boyan,
ular naga dan minefield. Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti ingin meneliti lebih lanjut
tentang “Pengembangan Modul Bimbingan Kelompok dengan Teknik Permainan
Kolaboratif untuk Meningkatkan Empati Anak Usia Dini”.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Research and Development (R&D).
Menurut (Saputro, 2017) penelitian dan
pengembangan merupakan salah satu proses dimana produk-produk pendidikan
diciptakan. (Sugiyono, 2017) mendefinisikan penelitian
dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan
sebuah produk tertentu, disertai pengujian keefektifan produk tersebut.
Prosedur pengembangan yang diterapkan dalam penelitian ini mengikuti
langkah-langkah pengembangan menurut model ADDIE yang dikembangkan oleh Branch (Rachmahyani, 2020).
Menurut (Tuasikal, Mudjiran, & Nirwana, 2016) model ADDIE merupakan kepanjang dari analyze, design, develop, implement dan evaluate (menganalisis, merancang, mengembangkan, implementasi dan mengevaluasi). Model ADDIE cenderung digunakan dalam pengembangan produk instruksional berupa model atau modul pembelajaran, karena model ADDIE memakai dasar-dasar bersifat umum, sistematis dan kerangka kerjanya bertahap sehingga elemen memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Prosesnya bersifat interaktif yakni dari hasil evaluasi setiap fase dapat membawa pengembangan pembelajaran ke fase selanjutnya. Hasil akhir dari suatu fase merupakan produk awal bagi fase berikutnya.
Menurut (Sugiyono, 2015), model pengembangan ADDIE terdiri atas lima fase atau tahap utama yaitu: 1) Analyze (Analisis), 2) Design (desain), 3) Develop (pengembangan), 4) Implement (implementasi), dan 5) Evaluate (evaluasi).
Hasil dan Pembahasan
A. Hasil Penelitian
1.
Hasil Uji Kelayakan
Ahli
Setelah produk selesai dibuat, peneliti melakukan uji kelayakan, dengan
tujuan untuk menguji suatu produk dan memperoleh masukan perbaikan mengenai
produk tersebut yang dikembangkan. Modul bimbingan kelompok dengan teknik
permainan kolaboratif untuk meningkatkan empati anak usia dini ini di validasi
oleh ahli materi yaitu Ibu Ratih Kusumawardani, M.Pd. (Dosen PGPAUD Untirta),
ahli bahasa yaitu Bapak Farid Ibnu Wahid, M.Pd. (Dosen
Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta), ahli media yaitu Bapak Arga Satrio Prabowo,
M.Pd. (Dosen BK Untirta), dan ahli praktisi oleh Ibu Tri
Mulyati, S.Pd.I (Kepala Sekolah RA Al-Izzah Kota Cilegon). Hasil uji kelayakan
yang diperoleh pada penelotian akan dijelaskan melalui data kuantitatif dan kualitatif.
2. Uji Kelayakan Ahli Materi
Kelayakan modul dapat dilihat dari hasil penilaian ahli materi, berikut
ini pemaparan data hasil uji kelayakan oleh ahli materi :
a.
Data Kuantitatif
Hasil data
kuantitatif ahli materi akan dijelaskan pada tabel berikut ini :
Tabel 1
Penilaian Ahli Materi
|
No |
Indikator Penilaian |
X |
Xi |
(%) |
Kualifikasi |
|
1 |
Kesesuaian materi dengan kurikulum yang berlaku |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
2 |
Kesesuaian materi dengan kebutuhan mengajar |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
3 |
Kesesuaian materi dengan indikator yang akan dicapai
anak usia dini |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
4 |
Manfaat meteri untuk penambahan wawasan pengetahuan
guru |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
5 |
Kemudahan dalam memahami materi |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
6 |
Kejelasan dalam pemberikan informasi |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
7 |
Kebenaran konsep |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
8 |
Keruntutan materi yang disajikan |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
9 |
Kesesuaian materi pembelajaran dengan tingkat
kemampuan anak usia dini |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
10 |
Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
Jumlah |
45 |
50 |
100% |
90% (Sangat baik atua sangat layak) |
|
Data yang terdapat pada tabel, diolah dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
P =
x 100%
Keterangan :
P = Persentase tingkat kelayakan
X = Skor jawaban
responden
Xi = Skor jawaban
tertinggi
Jika hasil data
dihitung, maka:
P =
x 100%
P = 0,9 x 100%
P = 90%
Berdasarkan data hasil uji
kelayakan yang dilakukan oleh ahli materi, dapat diambil kesimpulan bahwa modul
bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif untuk meningkatkan
empati anak usia dini, memiliki tingkat kelayakan yang sangat baik atau dengan
kata lain sangat layak untuk digunakan. Dibuktikan dengan indikator penilaian
berjumlah 10 butir angket penilaian ahli materi dan diperoleh angka 45 dengan
persentase 90%.
b.
Data Kualitiatif
Penilaian ahli meteri berupa data kualitatif diberikan dalam bentuk
lembar masukan dan saran perbaikan terhadap modul yang dikembangkan. Secara
kualitatif pengembangan modul bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif
untuk meningkatkan empati anak usia dini, dianggap “layak” untuk selanjutnya
digunakan atau diimplementasikan oleh guru taman kanak-kanak. Berdasarkan
pernyataan layak atau tidaknya pengembangan modul pada penilaian yang diberikan,
ahli materi menyatakan bahwa pengembangan modul layak untuk selanjutnya
diimplementasikan dengan revisi sesuai saran. Adapun saran dan masukan yang
diberikan oleh ahli materi, yaitu :
Tabel 2
Saran dan Masukan Ahli
|
Nama
Ahli |
Saran/Masukan |
|
Ratih
Kusumawardani, M.Pd. |
1.
Pelajari Permendikbud No.137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional
PAUD (Lampiran I: Tingkat pencapaian perkembangan Anak usia dini). Focus pada
Standar tingkat pencapaian perkembangan anak usia 5-6 tahun, aspek social
emosional. 2.
Pelajari Permendikbud No.146 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013
PAUD (Lampiran I: Kerangka dasar dan struktur kurikulum). Focus pada
kompetensi dasar yang terkait dengan empati. 3. 2 aturan di atas yang menjadi
landasan yuridis untuk dicantumkan sebagai kompetensi dasar dan tujuan
pembuatan modul. Tujuan utama dalam pembelajaran di PAUD adalah optimalnya
perkembangan anak sesuai dengan usia. Dalam hal ini adalah perkembangan
perilaku empati. |
3.
Uji Kelayakan Ahli
Bahasa
Kelayakan modul dapat dilihat dari hasil penilaian ahli bahasa, berikut ini
pemaparan data hasil uji kelayakan oleh ahli bahasa:
a.
Data Kuantitatif
Hasil data
kuantitatif ahli bahasa akan dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 3
Penilaian Ahli Bahasa
|
No |
Indikator Penilaian |
X |
Xi |
(%) |
Kualifikasi |
|
1 |
Kalimat jelas dan mudah untuk dimengerti |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
2 |
Bahasa yang digunakan komunikatif |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
3 |
Istilah yang digunakan mudah dipahami |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
4 |
Pengaturan jarak (huruf dan baris) |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
5 |
Keterbacaan teks |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
6 |
Keruntutan dan keterpaduan antar kalimat |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
Jumlah |
30 |
30 |
100% |
100% (Sangat baik atau sangat layak) |
|
Data yang terdapat pada tabel diatas, diolah dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
P =
x 100%
Keterangan :
P = Persentase tingkat kelayakan
X = Skor jawaban
responden
Xi = Skor jawaban tertinggi
Jika hasil data
dihitung, maka :
P =
x 100%
P = 1 x 100%
P = 100%
Berdasarkan data hasil uji
kelayakan yang dilakukan oleh ahli bahasa, dapat diambil kesimpulan bahwa modul
bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif untuk meningkatkan
empati anak usia dini, memiliki tingkat kelayakan yang sangat baik atau dengan
kata lain sangat layak untuk digunakan. Dibuktikan dengan indikator penilaian
berjumlah 6 butir angket penilaian ahli bahasa dan diperoleh angka 30 dengan
persentase 100%.
b.
Data Kualitatif
Penilaian ahli bahasa berupa data kualitatif diberikan dalam bentuk
lembar masukan dan saran perbaikan terhadap modul yang dikembangkan. Secara
kualitatif pengembangan modul bimbingan kelompok dengan teknik permianan kolaboratif
untuk meningkatkan empati anak usia dini, dianggap “layak” untuk selanjutnya
digunakan atau diimplementasikan oleh guru taman kanak-kanak. Berdasarkan
pernyataan layak atau tidaknya pengembangan modul pada penilaian yang
diberikan, ahli bahasa menyatakan bahwa pengembangan modul layak untuk
selanjutnya diimplementasikan dengan tidak adanya revisi sesuai saran yang
diberikan. Adapun saran dan masukan yang diberikan oleh ahli bahasa, yaitu:
Tabel 4
Saran dan Masukan Ahli
|
Nama Ahli |
Saran/Masukan |
|
Farid Ibnu Wahid, M.Pd. |
Silakan lanjutkan |
4.
Uji Kelayakan Ahli
Media
Kelayakan modul dapat dilihat dari hasil penilaian ahli media, berikut
ini pemaparan data hasil uji kelayakan oleh ahli media:
a.
Data Kuantitatif
Hasil data kuantitatif ahli media akan dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 5
Penilaian Ahli Media
|
No |
Indikator Penilaian |
X |
Xi |
(%) |
Kualifikasi |
|
1 |
Kemenarikan desain cover |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
2 |
Pemilihan font
tata tulis |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
3 |
Kesesuaian judul dan sub judul |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
4 |
Keterbacaan teks |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
5 |
Warna yang digunakan menarik pembaca |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
6 |
Ketepatan komposisi warna |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
7 |
Pemilihan ukuran font |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
8 |
Kesesuaian gambar dengan konsep |
5 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
9 |
Ketepatan tata letak gambar |
3 |
5 |
100% |
Cukup baik, perlu revisi (70%) |
|
10 |
Daya tarik gambar |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
11 |
Komposisi dan ukuran gambar |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
12 |
Modul bimbingan kelompok sebagai media pembelajaran |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
13 |
Modul bimbingan kelompok dapat memberikan
pengatahuan baru |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
Jumlah |
59 |
65 |
100% |
90,7% (Sangat baik atau sangat layak) |
|
Data yang terdapat pada tabel 5, diolah dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
P =
x 100%
Keterangan :
P = Persentase tingkat kelayakan
X = Skor jawaban
responden
Xi = Skor jawaban
tertinggi
Jika hasil data
dihitung, maka:
P =
x 100%
P = 0,907 x 100%
P = 90,7%
Berdasarkan data hasil uji kelayakan
yang dilakukan oleh ahli media, dapat diambil kesimpulan bahwa modul bimbingan
kelompok dengan teknik permainan kolaboratif untuk meningkatkan empati anak
usia dini, memiliki tingkat kelayakan yang sangat baik atau dengan kata lain
sangat layak untuk digunakan. Dibuktikan dengan indikator penilaian berjumlah
13 butir angket penilaian ahli media dan diperoleh angka 59 dengan persentase
90,7%.
b.
Data Kualitatif
Penilaian ahli media berupa data kualitatif diberikan dalam bentuk lembar
masukan dan saran perbaikan terhadap modul yang dikembangkan. Secara kualitatif
pengembangan modul bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif untuk
meningkatkan empati anak usia dini, dianggap “layak” untuk selanjutnya
digunakan atau diimplementasikan oleh guru taman kanak-kanak. Berdasarkan
pernyataan layak atau tidaknya pengembangan modul pada penilaian yang
diberikan, ahli media menyatakan bahwa pengembangan modul layak untuk
selanjutnya diimplementasikan dengan adanya revisi sesuai saran. Adapun saran dan
masukan yang diberikan oleh ahli media, yaitu:
Tabel 6
Saran
dan Masukan Ahli
|
Nama
Ahli |
Saran/Masukan |
|
Arga Satrio Prabowo, M.Pd. |
1.
Dibeberapa bagian, ada beberapa
kalimat yang bentrok dengan gambar sehingga menyulitkan untuk dibaca atau menimbulkan ketidaknyamanan saat membaca 2.
Perlu adanya Glosairum 3.
Mungkin perlu ada pengetahuan
mengenai empati (ini sepertinya wewenang ahli materi, tapi sekedar masukan saja untuk didiskusikan
Kembali dengan pembimbing) |
5.
Uji Kelayakan Ahli
Praktisi
Kelayakan modul dapat dilihat dari hasil penilaian ahli praktisi, berikut
ini pemaparan data hasil uji kelayakan oleh ahli praktisi:
a.
Data Kuantitatif
Hasil data kuantitatif ahli praktisi akan dijelaskan pada tabel berikut
ini:
Tabel 7
Penilaian Ahli Praktisi
|
No |
Indikator Penilaian |
X |
Xi |
(%) |
Kualifikasi |
|
1 |
Ketepatan judul dengan materi yang di bahas |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
2 |
Ketepatan materi dengan tujuan pembelajaran |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
3 |
Keruntutan materi yang disajikan |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
4 |
Kesesuaian materi dengan indikator |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
5 |
Ketepatan bahasa yang digunakan |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
6 |
Bahasa yang digunakan komunikatif |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
7 |
Istilah yang digunakan mudah dipahami |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
8 |
Ketepatan penggunaan istilah |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
9 |
Kemudahan memahami alur materi |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
10 |
Desain modul |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
11 |
Pemilihan font
tata tulis |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
12 |
Ketepatan komposisi warna |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
13 |
Pemilihan ukuran font
pengatahuan baru |
4 |
5 |
100% |
Baik, perlu revisi kecil (80%) |
|
14 |
Modul bimbingan kelompok sebagai media pembelajaran |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
15 |
Modul bimbingan kelompok dapat memberikan
pengatahuan baru |
5 |
5 |
100% |
Sangat baik, tidak perlu direvisi (100%) |
|
Jumlah |
69 |
75 |
100% |
92% (Sangat baik atau sangat layak) |
|
Data yang terdapat pada tabel 7, diolah dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
P =
x 100%
Keterangan :
P = Persentase tingkat kelayakan
X = Skor jawaban
responden
Xi = Skor jawaban
tertinggi
Jika hasil data
dihitung, maka:
P =
x 100%
P = 0,92 x 100%
P = 92%
Berdasarkan data hasil uji
kelayakan yang dilakukan oleh ahli praktisi, dapat diambil kesimpulan bahwa
modul bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif untuk meningkatkan
empati anak usia dini, memiliki tingkat kelayakan yang sangat baik atau dengan
kata lain sangat layak untuk digunakan. Dibuktikan dengan indikator penilaian
berjumlah 15 butir angket penilaian ahli media dan diperoleh angka 69 dengan
persentase 92%.
b.
Data Kualitatif
Penilaian ahli praktisi berupa data kualitatif diberikan dalam bentuk
lembar masukan dan saran perbaikan terhadap modul yang dikembangkan. Secara
kualitatif pengembangan modul bimbingan kelompok dengan teknik permainan
kolaboratif untuk meningkatkan empati anak usia dini, dianggap “layak” untuk
selanjutnya digunakan atau diimplementasikan oleh guru taman kanak-kanak.
Berdasarkan pernyataan layak atau tidaknya pengembangan modul pada penilaian
yang diberikan, ahli praktisi menyatakan bahwa pengembangan modul layak untuk
selanjutnya diimplementasikan dengan adanya revisi sesuai saran. Adapun saran
dan masukan yang diberikan oleh ahli praktisi, yaitu:
Tabel 8
Saran dan Masukan Ahli
|
Nama Ahli |
Saran/Masukan |
|
Tri Mulyati, S.Pd.I |
Sudah baik, periksa kembali penggunaan istilah |
Tabel 9
Rata-rata Hasil Uji Kelayakan
|
No |
Aspek Penilaian |
Skor Penilaian |
Kategori |
|
1 |
Materi |
90% |
Sangat Layak |
|
2 |
Bahasa |
100% |
Sangat Layak |
|
3 |
Media
|
90,7% |
Sangat Layak |
|
4 |
Praktisi |
92% |
Sangat Layak |
|
Total Skor Rata-rata |
93% |
Sangat Layak |
|
B. Pembahasan
1. Proses Pengembangan Produk
Produk yang dikembangkan oleh peneliti pada penelitian ini berupa
pengembangan modul bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif untuk
meningkatkan empati anak usia dini, yang dikemas dalam bentuk buku bahan ajar
yang dapat dijadikan sebagai panduan bagi guru taman kanak-kanak, dalam
melaksanakan layanan bimbingan dan konseling. Desain penelitian yang digunakan
yaitu modul pengembangan ADDIE, yang terdiri dari analysis, design, development, implementation, and evaluation (Sugiyono, 2015).
Prosedur ADDIE yang digunakan pada penelitian dan pengembangan ini
hanyalah sebanyak tiga tahapan, yaitu sampai pada tahap development dengan dilakukannya uji ahli. Adapun tahap implementation dan evaluation dijadikan sebagai rancangan untuk penelitian
selanjutnya. Berikut ini uraian prosedur ADDIE :
Tabel 10
Prosedur Desain ADDIE
|
No |
Prosedur |
Keterangan |
|
1 |
Analysis |
Pada
tahap ini dilakukan pengkajian permasalahan pada model pembelajaran yang
sudah diterapkan, melalui wawancara dengan kepala sekolah. Menganalisis
rasionalisasi rencana pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan
menyusun deskripsi kebutuhan. |
|
2 |
Design |
Tahap
ini terdiri dari perancangan konseptual produk, mulai dari menentukan tujuan
produk, deskripsi, kompetensi dasar, merancang rangkaian kegiatan, merancang
materi yang akan digunakan, serta evaluasi dan tindak lanjut. |
|
3 |
Development |
Pada
tahap ini terdiri dari realisasi rancangan produk, yaitu rancangan konseptual
dituangkan dalam modul yang sedang dikembangkan, melakukan uji kelayakan
produk dengan ahli, dan perbaikan atau pengembangan produk. |
|
4 |
Implementation |
Pada
tahap ini produk yang sudah selesai dikembangkan dilakukan uji coba atau
diimplementasikan ke lapangan. |
|
5 |
Evaluation |
Tahap
ini terdiri dari evaluasi proses dan evaluasi hasil atas produk pengembangan
yang telah diimplementasikan. |
Beragam upaya telah dilakukan untuk mengembangkan perilaku empati. Salah
satunya melalui pendidikan sebagai motor penggerak dalam pengembangan karakter.
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah pemberian layanan bimbingan
dan konseling yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak (Afiati, 2019).
Keunggulan dari modul ini terdapat pada panduan pelaksanaan bimbingan
kelompok dengan teknik permainan kolaboratif, yang merupakan salah satu
pendekatan bimbingan yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini. Adapun peranan bimbingan dan konseling terhadap
pengembangan modul yaitu, modul dibuat sebagai panduan bagi guru taman
kanak-kanak dalam menyelenggarakan bimbingan kelompok dengan teknik permainan
kolaboratif, yang merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan dan konseling.
Sehingga diharapkan dapat membantu guru dalam meningkatkan perilaku empati anak
usia dini. Empati memiliki beberapa aspek yaitu peduli, toleransi dan
tenggang rasa (Nugraha, Suharini, & Sriyono, 2017).
Permainan merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk
membantu anak usia dini meningkatkan perkembangan sosial, dalam hal ini yaitu
perilaku empati. Anak usia dini termasuk dalam masa senang untuk bermain.
Secara psikologis bermain sangat bermakna bagi pertumbuhan psikis dan
perkembangan psikologis anak usia dini. Menurut (Afiati, 2019) Anak harus berinteraksi dan bergaul dengan teman sebaya,
belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan orang lain untuk mencapai
kematangan sosial, salah satu bentuk interaksi yang dapat diterapkan pada anak
yaitu dengan bermain.
Melalui bermain anak dapat mengembangkan kemampuan sosialnya,
bermain secara kolaboratif bisa digunakan untuk mengembangkan perkembangan
sosial anak, anak dituntut untuk saling berinteraksi dengan yang lainnya baik
teman terdekatnya atau bukan, hal tersebut menimbulkan adanya peningkatan
perkembangan sosial (Ariin et al., 2016).
Sebagaimana yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu
yaitu penelitian (Meidina et al., 2018) mengenai efektivitas bimbingan
kelompok dengan teknik permainan tradisional untuk mengembangkan perilaku prososial.
Hasil penelitiannya menunjukkan perilaku prososial anak yang di dalamnya
terdapat aspek empati dapat berkembang setelah dilakukan tindakan melalui
kegiatan bermain permainan tradisional.
Hal serupa juga pernah dilakukan oleh (Armadi & Astuti, 2018) dalam penelitiannya mengenai pengaruh metode pembelajaran kolaboratif
terhadap perilaku sosial pada anak kelompok B di taman kanak-kanak. Hasil
penelitiannya menunjukkan adanya pengaruh pembelajaran kolaboratif dalam
perilaku sosial anak. Selanjutnya hasil penelitian (Saleh, Nugraha, & Nurfitriani, 2017)
menunjukan model permainan tradisional “boy-boyan”
dapat meningkatkan perkembangan sosial anak.
Berdasarkan pada hasil penelitian terdahulu maka pengembangan
modul yang dilakukan oleh peneliti sangat menunjang kebutuhan anak akan
keterampilan dalam berperilaku empati, sehingga adanya produk pengembangan
merupakan suatu solusi yang tepat dan layak untuk diimplementasikan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan modul
bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif untuk meningkatkan perilaku
empati anak usia dini, dapat disimpulkan bahwa penelitian dan pengembangan yang
dilakukan oleh peneliti menghasilkan produk berupa modul bimbingan kelompok
dengan teknik permainan kolaboratif untuk meningkatkan empati anak usia dini,
berupa buku bahan ajar untuk guru yang dapat dijadikan sebagai panduan dalam
pelaksanaan layanan bimbingan kelompok di taman kanak-kanak.
Produk hasil pengembangan secara keseluruhan
dinyatakan layak, artinya memenuhi kriteria penilaian uji ahli, baik dari segi
materi, bahasa, media dan praktisi. Berdasarkan hasil uji validasi pada produk
pengembangan yang dilakukan oleh empat orang ahli, diperoleh hasil rata-rata
sebesar 93%. Maka berdasarkan kategorisasi penilaian modul pengembangan yang
disusun oleh peneliti berada dalam kategori “sangat baik” atau “sangat layak.”
Hal ini sejalan dengan tujuan dari penelitian, yaitu
untuk mengembangkan modul bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif
yang dapat membantu dalam meningkatkan perilaku empati anak usia dini. Modul yang
dikembangkan berupa buku bahan ajar yang dapat digunakan sebagai panduan untuk
guru, dalam pelaksanaan bimbingan kelompok dengan teknik permainan kolaboratif
di PAUD/TK. Modul telah disusun secara sistematis dengan instruksi yang mudah
dipahami serta dilengkapi dengan tampilan dan warna-warna yang menarik untuk
pembaca.
Afiati, Evi. (2019).
Model Bimbingan Melalui Permainan Sosiodrama Untuk Mengembangkan Perilaku
Prososial Anak. Prosiding Seminar Nasional PG PAUD Untirta 2019, 119–132. Google Scholar
Ananda, Rizki, &
Fadhilaturrahmi, Fadhilaturrahmi. (2018). Peningkatan Kemampuan Sosial
Emosional Melalui Permainan Kolaboratif pada Anak KB. Jurnal Obsesi: Jurnal
Pendidikan Anak Usia Dini, 2(1), 20–26. Google Scholar
Ariin, Vera
Kristiana, Rohendi, Edi, & Istianti, Tuti. (2016). Meningkatkan
Perkembangan Sosial Anak Melalui Metode Bermain Secara Kolaboratif. Cakrawala
Dini: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8(1). Google Scholar
Armadi, Ali, &
Astuti, Yeni Puji. (2018). Pembelajaran terpadu tipe webbed berbasis budaya
lokal untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV sekolah dasar. Premiere
Educandum: Jurnal Pendidikan Dasar Dan Pembelajaran, 8(2), 185–195. Google Scholar
Aryanti, Zusy.
(2017). Kesiapan anak saat memasuki sekolah dasar. Elementary: Jurnal Ilmiah
Pendidikan Dasar, 1(2), 64–67. Google Scholar
Fidrayani. (2015). Pengembangan
Empati Pada Anak Usia Sekolah Dasar. Retrieved from
http://mpsi.umm.ac.id/files/file/125-130 Fidrayani.pdf. Google Scholar
Jannah, Miftahul.
(2015). Tugas-tugas perkembangan pada usia kanak-kanak. Gender Equality:
International Journal of Child and Gender Studies, 1(2), 87–98. Google Scholar
Lutfiati, E. N. I.
(2016). Pembinaan Karakter Anak Usia Dini Melalui Pembiasaan Di Kelompok
Bermain Harapan Bunda Purwokerto. In Skripsi Sarjana pada Fakultas Tarbiyah
Dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Purwokerto: tidak
diterbitkan.
McDonald, Nicole M.,
& Messinger, Daniel S. (2011). The development of empathy: How, when, and
why. Free Will, Emotions, and Moral Actions: Philosophy and Neuroscience in
Dialogue, 23, 333–359. Google Scholar
Meidina, Putri,
Sofia, Ari, & Anggraini, Gian Fitria. (2018). Pengembangan empati anak usia
dini. Jurnal Kultur Demokrasi, 7(4). Google Scholar
Nugraha, Ahmad Hutama
Adhi, Suharini, Erni, & Sriyono, Sriyono. (2017). Efektivitas Penggunaan
Model Pembelajaran Examples Non Examples Pada Mata Pelajaran Ips Kelas Vii Di
Smp Negeri 4 Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Ajaran 2016/2017. Edu Geography,
5(2), 1–9. Google Scholar
Nur, Lutfi, Halimah,
Momoh, & Nurzaman, Istikhoroh. (2017). Permainan Tradisional Kaulinan
Barudak untuk Mengembangkan Sikap Empati dan Pola Gerak Dasar Anak Usia Dini. Jurnal
PAUD Agapedia, 1(2), 170–180. Google Scholar
Pratiwi, Wiwik. (2018).
Kesiapan anak usia dini memasuki sekolah dasar. Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan
Islam, 6(1), 1–13. Google Scholar
Rachmahyani, A.
(2020). Pengembangan Program Hipotetik Bimbingan Kelompok Untuk Meningkatkan
Keterampilan Belajar Siswa. Skripsi Sarjana Pada FKIP Universitas Sultan
Ageng Tirtayasa Serang : Tidak Diterbitkan.
Rifai, Mohamad,
& Fahmi, Fahmi. (2017). Pengelolaan Kesiapan Belajar Anak Masuk Sekolah
Dasar. Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan, 3(01), 129–143. Google Scholar
Saleh, Yopa Taufik,
Nugraha, Mohammad Fahmi, & Nurfitriani, Meiliana. (2017). Model permainan
tradisional “boy-boyan” untuk meningkatkan perkembangan sosial anak SD. ELSE
(Elementary School Education Journal): Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran
Sekolah Dasar, 1(2b). Google Scholar
Saputro, Budiyono.
(2017). Manajemen Penelitianpengembangan (Research & Development) Bagi
Penyusun Tesis Dan Disertasi. Aswaja Pressindo. Google Scholar
Sriyanti, Lilik.
(2015). Model Bimbingan dan Konseling Kolaboratif untuk Meningkatkan
Pengendalian Diri Anak Usia Dini di PAUD Kota Salatiga Tahun 2014. Tesis
tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Google Scholar
Sugiyono. (2015). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. Google Scholar
Sugiyono. (2017). Metode
Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: Alfabeta. Google Scholar
Sukmady, Fitri
Wulandari. (2017). Meningkatkan Kemampuan Berempati Anak Usia 5-6 Tahun Melalui
Cooperative Learning. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan Anak
Usia Dini, 4(2), 103–112. Google Scholar
Syaodih, E dan
Agustin, M. (2012). Bimbingan dan Konseling untuk Anak Usia Dini.
Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Taufik, T. (2012). Empati:
Pendekatan Psikologi Sosial. Rajawali Press. Google Scholar
Trenggonowati, Dyah
Lintang, & Kulsum, Kulsum. (2018). Analisis Faktor Optimalisasi Golden Age
Anak Usia Dini Studi Kasus Di Kota Cilegon. Journal Industrial Servicess,
4(1). Google Scholar
Tuasikal, Jumadi
Mori Salam, Mudjiran, Mudjiran, & Nirwana, Herman. (2016). Pengembangan
Modul Bimbingan dan Konseling untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi
Interpersonal Siswa. Konselor, 5(3), 133–138. Google Scholar
Wardhani, H. A. (2017). Empati
ditinjau dari Pola Asuh dan Jenis Kleamin. Journal of Chemical Information
and Modeling, 53(9), 1689–1699.
|
Diah Utamy, Evi
Afiati, Putri Dian Dia Conia (2021) |
|
First publication right : Equivalent: Jurnal
Ilmiah Sosial Teknik |
|
This article is licensed under: |