Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik
e-ISSN: 2775-0833; p-ISSN: 2775-0329
Vol. 3, No. 2, Juli
2021
PENGEMBANGAN MODUL BIMBINGAN DAN KONSELING TENTANG BERMAIN PERAN MAKRO
UNTUK MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI ANAK USIA DINI
Eka Aisyi Fiqriyah, Evi Afiati, Putri Dian Dia Conia
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten,
Indonesia
Email:ekaaisyifiqria@gmail.com, eviafiati@untirta.ac.id, putriconia@untirta.ac.id
Abstrak
Penelitian ini dilakukan atas dasar kecemasan
bahwa ada krisis kepercayaan diri selama masa remaja hingga dewasa yang dimulai
dengan kurangnya partisipasi dalam metode untuk mengembangkan kepercayaan diri
sejak usia dini, maka pengembangan modul bimbingan dan konseling dengan variasi
warna dilakukan untuk digunakan oleh guru sebagai panduan dalam melaksanakan
bimbingan. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengetahui cara
mengembangkan modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran makro dan
tingkat kelayakan modul bimbingan dan konseling tentang peran makro yang
bermain untuk meningkatkan kepercayaan diri pada anak usia dini. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development (R&D).
Prosedur penelitian pengembangan ini menggunakan model ADDIE, yaitu (1)
Analisis, (2) Pengembangan, (3) Desain, (4) Implementasi, (5) Evaluasi. Namun,
penelitian ini baru mencapai tahap pengembangan. Penelitian ini dilakukan di RA
Al Izzah dan instrumennya meliputi kuesioner ahli material, pakar media, ahli
bahasa dan praktisi. Hasil penelitian ini adalah Pengembangan Modul Bimbingan
dan Konseling Tentang Bermain Peran Makro Untuk Meningkatkan Kepercayaan Anak
Usia Dini dan Tingkat Kelayakan Produk Modul Bimbingan dan Konseling Tentang
Bermain Peran Makro Untuk Meningkatkan Kepercayaan Anak Usia Dini yang
diperoleh dari validator ahli material dengan persentase 82,5%, ahli material
II dengan persentase 72,5%, pakar media dengan persentase 85%, ahli bahasa
dengan persentase 82,5%, dan diuji oleh praktisi dengan persentase 85% dari
lima validator dalam uji kelayakan produk, modul yang dikategorikan
valid/Memenuhi Syarat untuk diuji.
Kata Kunci: kepercayaan
diri; panduan guru; modul
Abstract
Keywords: confidence; teacher guide; module
Pendahuluan
Manusia hidup melalui proses perkembangan tingkatan
tahapan antara satu dan tahapan lainnya saling berpengaruh secara fisik maupun
psikologis (Wulandari, Ichsan, & Romadhon, 2017). Anak adalah bagian karunia
terindah dengan satuan untuk dibimbing karena keberadaannya, tentunya setiap
anak memiliki pribadi dan karakteristik berbeda antara satu dengan lainnya,
apabila dilihat dari berbagai aspek perkembangan yang optimal, yaitu
fisik-motorik, kognitif, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama (Sandi, 2019). Menurut (Mayar, 2013)
aspek perkembangan sosial adalah salah satu tahap awal dalam kematangan hubungan
interaksi sosial yang cukup berpengaruh terhadap anak pada perkembangannya
dapat berinteraksi dengan lingkungannya, tak hanya lingkungan di rumah saja melainkan
sekolah menjadi sasarannya untuk berinteraksi.
Menurut (Nurmalitasari, 2015) perkembangan
sosial merupakan salah satu cara seseorang untuk memenuhi kebutuhan sosialnya dengan
berinteraksi di lingkungan sekitar. Hal ini memberikan sebuah perhatian besar
kepada peran yang semestinya diberikan oleh orang terdekat, salah satunya
adalah peran keluarga, lingkungan menjadi modal pertama anak dapat mengembangkan
aspek sosial, lingkungan yang baik dan mendukung anak untuk dapat berkembang,
maka akan membentuk sosial anak dengan baik begitupun sebaliknya (Yulianti, 2014). Menurut penelitian (Mutiah, 2015)
bahwasannya otak manusia sudah mulai berkembang pada usia 0-4 tahun
sebanyak 50% dan bertambah 30% saat usia
4-8 tahun, hal ini dapat dimanfaatkan oleh aspek pendukung untuk mengembangkan
aspek perkembangan pada anak usia dini dengan memberikan perhatian pada lingkungan
yang dapat membentuk perilaku anak untuk mengembangkan rasa percaya dirinya.
Kepercayaan diri menanamkan salah satu hal penting
dalam menjalankan proses kehidupan, percaya diri seseorang dapat mengoptimalkan
dirinya, mengembangkan konsep diri dan kemampuan berinteraksi sosial (Hotimah & Ukhwatun, 2019). Menurut Thantaway pada kamus
bimbingan dan konseling (Puspitarini, 2014),
bahwa seseorang mengalami krisis percaya diri biasanya selalu merasa dirinya
tidak memiliki kemampuan dan hal ini cenderung mengakibatkan seseorang untuk
menutup diri karena merasa dirinya lemah. Seringkali sebagai individu mengalami
permasalahan dalam hal percaya diri dengan merasakan adanya krisis percaya diri
saat dewasa sampai usia lanjut, tentunya pembentukan rasa percaya diri ini tidak
didapatkan secara instant melainkan
perlu proses bertahap, salah satunya perlu dilatih sejak anak usia dini (Rini, 2002).
Percaya diri salah satu komponen pada perkembangan
anak, disampaikan (Firanda, 2012)
rasa percaya diri diibaratkan seperti tumbuhan, jika sejak dini dirawat, diasuh
dengan kasih sayang dan cinta maka bibit-bibit tersebut akan berkembang dengan
baik. Kak Seto selaku Ketua Komnas Perlindungan Anak menyampaikan pendapatnya
bahwa rasa percaya diri yang dimiliki anak harus ditumbuhkan, pasalnya rasa
percaya diri mampu meningkatkan kreativitas dan melatih anak untuk menjadi kidpreneur, yang dimaksudkan kidpreneur adalah bahwa anak tak hanya belajar
untuk menjadi pengusaha saja melainkan dapat menggali potensi pada dirinya supaya
memiliki kebermaknaan untuk diri sendiri dan sekitar (Puspitarini, 2014). Lingkungan
prasekolah menjadi salah satu cara untuk mengembangkan semua aspek dalam diri
anak usia dini, salah satunya pada hal percaya diri, akan sulit bagi seorang
anak untuk disamaratakan memiliki rasa percaya diri tinggi, seperti berani
tampil ke depan kelas, berisosialisasi dengan teman sebaya, bekerja sama, saling
membantu, menerima bantuan dan mengungkapkan pendapat atau idenya secara
langsung (Khoerunnisa, 2015).
Peneliti melakukan observasi dalam memenuhi tugas mata
kuliah studi kasus anak usia dini terjadi fenomena kelas A di TK Negeri Pembina Kota Serang yang
berada di Jl.
Perum Griya Serang Asri, Kec. Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten yang
terdiri dari 2 kelas A, yaitu A1 dan A2 yang mengikuti pembelajaran di kelas,
masih terdapat beberapa siswa yang kurang memiliki rasa percaya diri, kurangnya
siswa untuk menumbuhkan rasa percaya diri ini ketika bersosialisasi dibuktikan
saat peneliti berbicara di kelas dan mengajak siswa untuk berkenalan, namun tidak
ada yang berani untuk berkenalan terlebih dahulu dan bahasa non-verbal mereka
tidak menatap teman-teman yang sedang duduk untuk melihat tiap siswa berkenalan.
Hal ini pun tidak hanya terjadi saat melakukan pembelajaran, saat memasuki
waktu istirahat siswa cenderung bermain sendiri (egosentris) dan malu untuk bergabung dengan teman lainnya yang
berakibat anak bermain sendiri dan tidak berinteraksi dengan teman sebayanya.
Pengaruh pada aspek perkembangan sosial sesuai
pengamatan ini ada pada kurangnya rasa percaya diri yang dimiliki anak. Rasa
percaya diri sendiri komponen awal seseorang agar mampu mengaktualisasikan diri
(show up) dalam mencapai tujuan yang
dipersiapkan terutama seorang anak yang akan terus mengalami perkembangan untuk
ke tahap berikutnya, rasa percaya diri merupakan awal untuk dapat berinteraksi
sosial ke lingkungan sekitar (Suryani, 2017). Tak hanya orang
dewasa saja yang harus memiliki rasa percaya diri, akan tetapi anak pun perlu
dilatih agar dapat meningkatkan rasa percaya dirinya.
Melalui pengamatan peneliti ditemukan bahwa terdapat
isu atau problematika pada metode penerapan guru ketika mengajar yaitu dengan
cara membosankan atau hanya berbicara dan berpusat dengan guru saja, meskipun
sesekali guru menerapkan bermain sambil bernyanyi dengan cara tetap berada di
tempat duduknya tanpa bergerak, sedangkan hal itu dapat memberikan rasa bosan pada
anak yang akhirnya berujung anak kurang dapat berinteraksi sosial dengan
temannya. Adapun dilakukan wawancara dengan salah satu guru di kelas A, yang
menjelaskan mengenai metode pembelajaran yang diberikan untuk meningkatkan rasa
percaya diri anak dengan memberikan dukungan penuh kepada anak dan memberikan
modeling supaya berani ketika pembelajaran berlangsung. Disampaikan juga
bahwasannya masih kurangnya metode yang dapat diberikan karena keterbatasan
guru dalam ilmu untuk perkembangan anak.
Fenomena terjadi mengenai kurangnya inovatif guru
dalam memberikan bimbingan juga terjadi di RA Al Izzah. Peneliti melakukan
wawancara sebagai tambahan mengenai data penelitian dengan mewawancarai kepala sekolah,
dijelaskan bahwasannya gambaran rasa percaya diri di RA Al Izzah tergolong biasa
saja dengan pencapaian hasil maksimal. Namun, dalam pemberian metode bimbingan
untuk meningkatkan rasa percaya diri belum ada secara teoritis terprogram hanya
dilakukan secara spontan oleh guru. Salah satunya dengan memberi dukungan
terhadap kegiatan anak, adapun kegiatan untuk dapat meningkatkan rasa percaya
diri, yaitu saat dilaksanakannya peringatan hari besar nasional. Pada
pelaksanaannya, guru memilih anak untuk mengikuti beberapa lomba dan mengisi
acara tersebut. Kepala sekolah menegaskan bahwa belum ada panduan secara khusus
dalam melakukan bimbingan secara signifikan yang dapat digunakan oleh guru,
begitupun media.
Berdasarkan penelitian Evi Afiati dalam prosiding di
seminar nasional PG PAUD 2019 bahwa metode bermain merupakan metode yang tepat
diberikan kepada anak usia dini guna mengembangkan sosial anak, tak hanya itu
dalam penelitian tersebut lebih diperinci mengenai model bimbingan bermain
peran (sosiodrama) dengan melihat eksistensi untuk guru bimbingan dalam meningkatkan
perkembangan prososial anak (Afiati, 2019).
Ditegaskan dalam penelitian Sri Marsalena Lapamona bahwasannya terjadi
perubahan dalam siklus yang diberikan metode bermain peran makro untuk meningkatkan
rasa percaya diri anak pada kondisi awal hanya sebesar 30% namun pada siklus I mengalami
kenaikan sebesar 60% sedangkan siklus II mencapai 85%. Penjelasan bahwa adanya
peningkatan dengan keakuratan sebanyak 75% (Afiati, 2019). Maka, metode
bermain peran ini mampu digunakan guna meningkatkan rasa percaya diri anak.
Bagi dunia anak dan pendidikan anak usia dini, bermain
merupakan cara yang efisien digunakan ketika waktu kosong, selain mengarah pada
pembelajaran yang diberikan oleh guru. Sistem pendidikan di Taman Kanak-kanak
yang pada pembelajarannya, guru memiliki peran cukup signifikan terhadap
pertumbuhan anak usia dini (Syaodih, 2005). Pemberian layanan bimbingan di taman Kanak-kanak tidak dapat dilakukan
seperti bimbingan pada SD, SMP, ataupun SMA dikarenakan dalam pengajarannya
harus diberikan nuansa bermain. Bermain memberikan anak supaya dapat memecahkan
suatu permasalahannya. Salah satu metode untuk meningkatkan rasa percaya diri dengan
pemberian metode bermain peran makro (Syaodih, 2005).
Berdasarkan permasalah tersebut didapatkan solusi
untuk menanganinya dengan pemberian layanan bimbingan kelompok menggunakan
metode bermain peran makro. Bermain peran memiliki definisi yaitu suatu bentuk
pembelajaran berupa memerankan lakon/pemain. Menurut (Putri, Rakimahwati, & Zulminiati, 2018)
bermain peran dibedakan menjadi 2, yaitu bermain peran mikro dan makro. Bermain
peran mikro yang pada pelaksanannya menggunakan alat peraga, seperti boneka
dll. Sedangkan bermain peran makro pada pelaksanannya, sebuah peran yang dimainkan
sesuai dengan yang diinginkan yang sebelum pelaksanannya terdapat skenario dan
dimainkan oleh lebih dari 2 orang. Untuk meningkatkan rasa percaya diri pada
anak ini dapat melalui bimbingan dengan metode bermain peran makro yang
menggunakan alat peraga masak-masakan yang dari hal ini anak akan diberikan
skenario mengenai berdagang yang pada pelaksanannya akan terjadi sebuah
interaksi.
Peran guru TK yang menjadi salah satu fasilitator/pendukung
dalam memberikan pendidikan sekaligus bimbingan satu kesatuan komponen penting
untuk meningkatkan perkembangan anak. Akan tetapi, minimnya pengetahuan guru
mengenai pelaksanaan bimbingan di TK Negeri Pembina Kota Serang serta RA Al Izzah
menarik perhatian diberikannya pembelajaran dan bimbingan secara langsung karena
belum terealisasi, serta belum adanya guru bimbingan dan konseling di TK
membantu hal tersebut.
Adapun penelitian ini dilakukan
dengan memiliki tujuan yaitu untuk melakukan
pengembangan modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran makro untuk
meningkatkan rasa percaya diri anak usia dini.
Manfaat penelitian ini, yaitu menjadikan salah satu pemikiran ilmu pandangan layanan
bimbingan dan konseling spesifikasi mengenai bermain peran makro untuk
meningkatkan rasa percaya diri anak usia dini di Taman Kanak-kanak/PAUD/RA.
Metode Penelitian
Penelitian
dan pengembangan yang digunakan, yaitu model ADDIE (Analysis, deisgn, development, implementation, evaluation). Apabila langkah-langkah
dalam model ADDIE dijelaskan sebagai berikut.
1.
Analysis (Tahap Analisis)
Proses mengidentifikasi masalah tempat yang akan
dijadikan tempat penelitian. Tak hanya itu, tahapan ini juga disesuaikan dengan
kebutuhan pada subjek penelitian terhadap permasalahannya. Dimulai dari
analisis kepada guru yang dilakukan dengan wawancara tak terstruktur. Wawancara
dilaksanakan kepada kepala RA Al Izzah mengenai gambaran rasa percaya diri
beserta metode bimbingan yang diberikan dalam meningkatkan rasa percaya diri. Hasil
analisis tersebut memberikan inovasi untuk peningkatan kualitas dengan membuat
produk guna mengefektifkan kegiatan pembelajaran.
2.
Design (Tahap Desain)
Peneliti merancang sebuah inovasi berupa metode
bimbingan bermain peran makro yang disajikan dalam bentuk modul berupa buku
panduan untuk guru. Adapun penyajian isi dari modul ini berupa konsep dasar
mengenai urgensi BK di TK, tata laksana BK di TK, materi mengenai rasa percaya
diri anak usia dini, isi kegiatan bimbingan bermain peran makro untuk meningkatkan
rasa percaya diri anak usia dini, serta evaluasi berupa refleksi dalam
pelaksanaan bimbingan bermain peran makro tersebut. Rancangan dalam modul tetap
mengikuti kaidah kegiatan pada TK untuk anak usia dini, karena bimbingan dan
konseling di taman Kanak-kanak saling terintegrasi.
3.
Development (Tahap Pengembangan)
Desain yang sudah dirancang selanjutnya dilanjutkan
pada pengembangan produk yaitu modul bimbingan dan konseling tentang bermain
peran makro untuk meningkatkan rasa percaya diri anak usia dini. Modul
dikembangkan berdasarkan kaidah dalam penyusunannya, setelah penyusunan modul
dilakukan uji validasi kepada ahli materi, media, bahasa dan diuji pada praktisi.
Uji validasi dilakukan menggunakan instrumen angket/kuesioner yang berupa
pernyataan dalam skala dan kolom saran dan komentar. Hasil validasi tersebut
dijadikan pertimbangan dalam implementasi produk di lapangan.
4.
Implementation (Tahap Implementasi)
Penelitian ini dilakukan hanya sampai tahap development saja, yaitu menguji
kelayakan produk. Adapun tahap implementasi ini merupakan pengaplikasian atau
uji coba terhadap uji coba skala kecil maupun besar. Dikarenakan beberapa
pertimbangan, peneliti hanya menjadikan produk sebagai perencanaan untuk diuji
coba ke lapangan sesuai perencanaan dan desain yang sudah dirancang.
5.
Evaluation (Tahap Evaluasi)
Tahap evaluasi merupakan tahap pengevaluasian produk
yang sudah dikembangkan dengan penyesuaian uji coba serta produk mendapatkan
kualifikasi yang sesuai dengan desain dan memenuhi kriteria. Peneliti hanya melakukan
sampai tahap pengembangan saja yang berarti tahap evaluasi dijadikan sebagai
perencanaan untuk peneliti dan pengembang selanjutnya.
Teknik pengumpulan data
merupakan cara yang dapat digunakan peneliti agar mendapatkan hasil data yang
dibutuhkan dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
ini, yaitu wawancara, angket dan dokumentasi.
1.
Wawancara
Pada penelitian ini ,
wawancara dilakukan kepada guru kepala RA Al Izzah dengan wawancara tak
terstruktur. Adapun wawancara tak terstruktur ini dilakukan untuk
mendapatkan/menggali informasi lebih dalam mengenai gambaran perilaku anak usia
dini serta metode guru dalam memberikan bimbingan. Wawancara dilakukan sebagai
tahap analisis pengumpulan data dalam penelitian.
2.
Angket
Penggunaan angket merupakan teknik dilakukan dengan
penyebaran berisi daftar pertanyaan/pernyataan yang diberikan pada responden.
Penelitian ini menggunakan angket sebagai salah satu untuk mengumpulkan data
berupa uji kelayakan produk, yang diberikan kepada ahli materi, media, bahasa
dan praktisi.
3. Dokumentasi
Teknik dokumentasi yang digunakan oleh peneliti untuk
memperoleh data sebagai penunjang dalam penelitian, dokumentasi dipilih oleh
peneliti sebagai data tambahan.
Hasil dan Pembahasan
A. Hasil Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu Penelitian dan pengembangan Research and Development (R&D)
dengan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Menurut (Budiyono Saputro, 2017) penelitian
dan pengembangan R&D adalah sebuah metode penelitian yang digunakan untuk
menghasilkan produk di bidang keahlian tertentu, yang diikuti produk sampingan
dengan melihat efektifitas produk tersebut. Penelitian pengembangan terdiri
dari berbagai desain penelitian, salah satunya ADDIE. Desain penelitian ADDIE
terdiri dari 5 tahap, yaitu Analysis, Design,
Development, Implementation dan Evaluation
(Tegeh & Kirna, 2013).
Pemilihan model didasarkan pada pertimbangan bahwa model ini mudah untuk
difahami, selain itu model ini juga dikembangkan secara sistematis dan berpijak
pada landasan teoritis desain pembelajaran yang dikembangkan (Budiarta et al., 2016) . Model ADDIE juga dapat
digunakan dalam kondisi atau keadaan penelitian apapun, karena penggunaannya
yang sistematis.
|
|
|
1.
Materi Ajar
Materi ajar merupakan salah satu hal yang penting
dalam sebuah pembelajaran, isi materi termuat dengan beberapa aspek untuk mencapai standar kompetensi serta kompetensi
dasar peserta didik. Materi ajar sendiri dikhususkan pada modul ini dalam
penjelasan rasa percaya diri, karakteristik anak usia dini dan bermain peran
makro. Modul bimbingan dan konseling yang memiliki tujuan untuk meningkatkan
rasa percaya diri pada anak usia dini menjelaskan secara singkat dan praktis
mengenai materi tersebut. Adapun materi yang disajikan mengangkat pembahasan
teori dari salah satu tokoh psikososial, yaitu Erik H. Erikson. Rasa percaya
diri disampaikan menurut Erik H. Erikson dan disesuaikan untuk penyusunaan
lembar observasi pendukung bimbingan bermain peran makro. Selain itu,
penjelasan mengenai bermain peran makro disajikan guna memberikan pemahaman
pada pengguna modul yaitu guru kelas agar mahir dalam tahap pelaksanaan
bimbingan bermain peran makro untuk meningkatkan rasa percaya diri anak usia
dini.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Gambar 2. Materi Ajar
2.
Lembar Pedoman Observasi
Observasi merupakan suatu metode untuk menyusun rancangan
atau data yang dilaksanakan melalui pengamatan dan pencatatan secara sistematis
dengan melihat fenomena yang sedang terjadi sesuai sasaran (Mania, 2017). Hal ini menjelaskan bahwa
observasi berguna untuk mengetahui kejadian atau tingkah laku yang diamati oleh
observee. Pedoman observasi merupakan
panduan sebelum melaksanakan observasi tersebut, panduan observasi dalam modul berguna
untuk mengukur rasa percaya diri anak usia dini sebelum dan sesudah diberikan treatment dengan begitu guru dapat
melihat perkembangan anak pada perilaku rasa percaya diri dengan kriteria
(Belum berkembang, mulai berkembang, berkembang sesuai harapan dan berkembang sangat baik). Indikator yang digunakan pada pedoman
observasi ini diangkat menurut teori Erik H. Erikson yang disampaikan pada
ciri-ciri rasa percaya diri, indikatornya ialah berani tampil, inisiatif,
berinteraksi dengan baik dan mengungkapkan pendapat. Deskriptor pada tiap
indikator disesuaikan secara umum pada pembelajaran di Taman Kanak-kanak.
Kriteria penilaian yang digunakan diadaptasi dari (Umairoh, 2019) dengan
2 skala penilaian menggunakan skala likert
dengan pengskoran pilihan Ya (1) dan Tidak (0). Kriteria penilaian pada
hasil observasi dikonversikan dengan pengisian sebelum dan sesudah diberikan treatment.
|
|
|
|
Gambar 3
Lembar Pedoman Observasi
3.
Skenario
Skenario merupakan garis atau susunan besar lakon
drama yang dimainkan oleh pemain (Wiyanto, 2002). Skenario diperlukan dalam sebuah drama, terkhusus dalam
modul bimbingan dan konseling yang berguna untuk kelancaran proses bimbingan
bermain peran makro. Pelaksanaan bimbingan bermain peran makro dirancang guna
mengukur serta meningkatkan rasa percaya diri anak usia dini sebanyak 3-4
pertemuan. Pertemuan dalam setiap bimbingan mengangkat tema berbeda, skenario
disusun pada modul dengan 4 tema, yaitu profesi, keluarga, berdagang dan Pendidikan.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4. Hasil Uji Kelayakan Ahli
Modul bimbingan dan konseling disusun dengan menguji
kelayakan produk oleh validator, yaitu ahli materi, media, dan bahasa serta
menguji kepraktisan modul dengan praktisi. Adapun ahli tersebut adalah Ibu
Laily Rosidah, M. Pd (Dosen Pendidikan Guru Anak Usia Dini), Ibu Meila Dwi
Nurmala, S. Psi., M. Pd (Dosen BK), Bapak Alfiandy Warih Handoyo, M. Pd (Dosen
BK), Ibu Ilmi Solihat, M. Pd (Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia) dan Ibu Tri
Mulyati, S. Pd. I (Kepala RA Al-Izzah). Hasil uji kelayakan produk dijelaskan
pada data kuantitatif dan kualitatif sebagai berikut:
a.
Data Kuantitatif
Hasil Uji Kelayakan
Kelayakan modul dapat dilihat dari segi materi, media,
dan bahasa pada kategorisasi penilaian sebagai berikut:
|
Tingkat
Pencapaian |
Kategori |
|
86% - 100% |
Sangat valid |
|
70% - 85% |
Valid |
|
60% - 69% |
Tidak valid |
|
0% - 59% |
Sangat tidak
valid |
|
Tingkat Pencapaian |
Kategori |
|
86% - 100% |
Sangat praktis |
|
70% - 85% |
Praktis |
|
60% - 69% |
Tidak praktis |
|
0% - 59% |
Sangat tidak
praktis |
Hasil uji kelayakan modul
pada seluruh aspek penilaian adalah sebagai berikut:
Hasil uji kelayakan
materi
1)
Ahli Materi I (Ibu Laily Rosidah, M. Pd)
Tabel
3
Hasil
Uji Kelayakan Ahli Materi I
|
No |
Aspek Penilaian |
Skor yang diperoleh |
|
1 |
Materi pada modul sesuai dengan indikator
pembelajaran. |
4 |
|
2 |
Materi pada modul sesuai dengan tujuan pembelajaran. |
4 |
|
3 |
Keakuratan penyampaian materi pada modul sesuai dengan
kelayakan isi pada aspek modul. |
2 |
|
4 |
Keakuratan materi pada materi sesuai dengan tujuan
yang akan disampaikan. |
3 |
|
5 |
Materi pada modul sesuai dengan dengan kebutuhan
guru. |
3 |
|
6 |
Materi pada modul mendorong peserta didik dalam
mencapai perkembangannya. |
3 |
|
7 |
Materi yang terdapat pada modul sesuai dengan
perkembangan intelektual peserta didik. |
3 |
|
8 |
Materi yang terdapat pada modul sesuai dengan
perkembangan sosio-emosional peserta didik. |
4 |
|
9 |
Materi yang terdapat pada modul sesuai dengan karakteristik
peserta didik. |
3 |
|
10 |
Materi yang terdapat pada modul sesuai dengan
kebutuhan peserta didik. |
4 |
|
Jumlah |
33 |
|
|
Skor maksimal |
40 |
|
|
Persentase |
82,5% |
|
|
Kategori |
Valid |
|
Berdasarkan hasil uji
kelayakan produk oleh ahli materi I, yaitu Ibu Laily Rosidah, M. Pd diperoleh
skor sebesar 33 dengan skor maksimal 40. Hasil persentase pada perolehan skor
yaitu 82,5% termasuk pada kategori “Valid”.
2)
Hasil uji kelayakan
media, Ahli Media (Bapak Alfiandy Warih Handoyo, M. Pd)
Tabel
4
Hasil
Uji Kelayakan Ahli Media
|
No |
Aspek Penilaian |
Skor yang diperoleh |
|
1 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro yang digunakan dapat dibaca dengan jelas. |
3 |
|
2 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro yang ditampilkan rapi dan jelas. |
3 |
|
3 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro berwarna menarik. |
4 |
|
4 |
Tampilan modul bimbingan dan konseling tentang
bermain peran makro bersih dan layak dibaca. |
4 |
|
5 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro dibuat sesuai dengan karakteristik peserta didik. |
3 |
|
6 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro yang digunakan relevan dengan tujuan pembelajaran. |
3 |
|
7 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro yang digunakan relevan dengan materi pembelajaran. |
4 |
|
8 |
Kesesuaian modul bimbingan dan konseling terhadap
subjek pembelajaran. |
4 |
|
9 |
Kesesuaian modul bimbingan dan konseling terhadap
kebutuhan peserta didik. |
3 |
|
10 |
Kesesuaian modul bimbingan dan konseling terhadap
tujuan yang diharapkan |
3 |
|
Jumlah |
34 |
|
|
Skor Maksimal |
40 |
|
|
Persentase |
85% |
|
|
Kategori |
Valid |
|
Berdasarkan hasil uji kelayakan produk oleh ahli media, yaitu Bapak
Alfiandy Warih Handoyo, M. Pd diperoleh skor sebesar 34 dengan skor maksimal 40. Hasil persentase
pada perolehan skor yaitu 85% termasuk pada kategori “Valid”.
3) Hasil uji kelayakan bahasa, Ahli Bahasa (Ibu Ilmi
Solihat, M. Pd)
Tabel
5
Hasil
Uji Kelayakan Ahli Bahasa
|
No |
Aspek Penilaian |
Skor yang diperoleh |
|
1 |
Kalimat yang digunakan mewakili isi pesan atau
informasi yang disampaikan dengan tetap mengikuti tata kalimat bahasa Indonesia. |
3 |
|
2 |
Kalimat yang digunakan tidak menimbulkan banyak
pengertian. |
3 |
|
3 |
Kalimat yang digunakan sederhana dan langsung pada
sasaran. |
3 |
|
4 |
Kalimat yang digunakan memberikan informasi terarah. |
3 |
|
5 |
Istilah yang digunakan sesuai dengan kamus besar
bahasa Indonesia. |
3 |
|
6 |
Pesan atau informasi disampaikan dengan bahasa yang
sederhana agar mudah dipahami. |
3 |
|
7 |
Pesan dan informasi yang disampaikan menarik. |
3 |
|
8 |
Pesan dan informasi dapat menambah pengetahuan guru
lebih mendalam. |
4 |
|
9 |
Bahasa yang digunakan membangkitkan rasa senang
ketika guru membaca modul bimbingan dan konseling. |
4 |
|
10 |
Bahasa yang digunakan dapat menarik untuk
menumbuhkan rasa ingin tahu yang tinggi. |
4 |
|
Jumlah |
33 |
|
|
Skor Maksimal |
40 |
|
|
Persentase |
82,5% |
|
|
Kategori |
Valid |
|
Berdasarkan hasil uji kelayakan produk oleh ahli bahasa, yaitu Ibu Ilmi
Solihat, M. Pd diperoleh skor sebesar 33
dengan skor maksimal 40. Hasil persentase pada perolehan skor yaitu
82,5% termasuk pada kategori “Valid”.
4) Hasil uji kepraktisan produk, Praktisi (Ibu Tri Mulyati,
S. Pd. I)
Tabel
6
Hasil
Uji Kelayakan Praktisi
|
No |
Aspek Penilaian |
Skor yang diperoleh |
|
1 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro jelas penyajiannya. |
3 |
|
2 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro rapi dalam susunannya. |
4 |
|
3 |
Modul praktis untuk digunakan. |
3 |
|
4 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro sesuai dengan materi yang diberikan. |
3 |
|
5 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro sesuai dengan karakteristik peserta didik. |
3 |
|
6 |
Kejelasan struktur materi yang disajikan dalam modul
bimbingan dan konseling. |
4 |
|
7 |
Materi yang disajikan dalam modul bimbingan dan
konseling mudah dimengerti. |
3 |
|
8 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro dapat digunakan secara terus menerus. |
3 |
|
9 |
Modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro dapat meningkatkan motivasi guru dalam mengajar. |
4 |
|
10 |
Modul bimbingan dan konseling dapat menyajikan
materi lebih dalam dan belajar mandiri. |
4 |
|
Jumlah |
34 |
|
|
Skor Maksimal |
40 |
|
|
Persentase |
85% |
|
|
Kategori |
Valid |
|
Berdasarkan hasil uji kelayakan produk untuk menguji tingkat kepraktisan
produk, yaitu Ibu Tri Mulyati, S. Pd. I diperoleh skor sebesar 34 dengan skor
maksimal 40. Hasil persentase pada perolehan skor yaitu 85% termasuk pada
kategori “Valid”.
a. Data Kualitiatif Hasil Uji Kelayakan
Berdasarkan hasil uji kelayakan produk oleh beberapa ahli dan praktisi,
dijelaskan secara kualitiatif bahwa modul bermain peran makro untuk
meningkatkan rasa percaya diri anak usia dini dikategorikan “Valid atau Layak”
untuk diimplementasikan. Beberapa saran atau masukan diberikan terhadap modul
oleh para ahli. Validator menyatakan bahwa pengembangan modul layak untuk
diimplementasikan dengan revisi atau saran. Adapun saran serta masukan dari
validator adalah sebagai berikut:
|
Ahli Materi I |
1. Menghapus bagian pelaksanaan no 3 & 6
karena tidak valid. 2. Tambahkan skenario dengan mengangkat tema
“Aku” dan sub tema (Aku Percaya Diri). |
|
Ahli Materi II |
1. Menambahkan lembar pedoman observasi murid |
|
Ahli Media |
1. Menambahkan kode QR barcode pada cover
modul. 2. Menambahkan fitur hyperlink go to page view pada daftar isi. 3. Mengganti judul “How To Do Role Play”
menjadi “MODUL: Bermain Peran Makro Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak
Usia Dini. 4. Menghapus Peta Konsep Modul. 5. Menghilangkan beberapa paragraf pada Bagian
“Urgensi BK di TK”. 6. Menghapus 1 paragraf di bagian “Pengertian
Karakteristik Anak Usia Dini” 7. Membuat kriteria penilaian terhadap lembar
pedoman observasi. 8. Menghapus bagian tujuan pada RPL. 9. Menambahkan “Properti” pada contoh tiap
skenario. |
|
Ahli Bahasa |
1. Memperbaiki penulisan kata sambung. 2. Memperbaiki penulisan kalimat asing. 3. Memperbaiki bentuk kalimat agar lebih
efektif. |
Masukan dan saran dari kedua
ahli dijadikan sebagai bahan perbaikan peneliti untuk pengembangan modul
bermain peran makro untuk meningkatkan rasa percaya diri anak usia dini.
B. Pembahasan
Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D)
dengan menggunakan model ADDIE (Analysis,
design, development, implementation and evaluation). Pengembangan produk
pada penelitian ini, yaitu modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran
makro untuk meningkatkan rasa percaya diri anak usia dini. Adapun modul
dikembangkan berdasarkan karakteristik pada modul (Rahdiyanta, 2016) yaitu self instruction, self contained, stand
alone, adaptive, user friendly) dan juga menyeimbangkan konsep bimbingan
dan konseling di Taman Kanak-kanak. Penelitian dan pengembangan ini hanya
dilakukan sampai pada tahap pengembangan berikut dengan evaluasi setiap
tahapannya. Alasan peneliti menggunakan model tersebut dikarenakan model
tersebut lebih terstruktur dan mudah difahami.
Sebelum produk dikembangkan, peneliti menyusun kerangka modul disesuaikan
dengan kebutuhan peserta didik dan pencapaian pada kebutuhan. Adapun isi utama
pada modul ini, yaitu introducing (Pengenalan),
materi ajar, lembar pedoman observasi dan skenario. 4 komponen utama disusun
berdasarkan indikator serta tujuan pembelajaran dalam meningkatkan rasa percaya
diri anak usia dini menggunakan teori Erik H. Erikson dengan tahap III yaitu
inisiatif vs rasa bersalah. Setelah modul dirancang, selanjutnya yaitu uji
kelayakan produk yang diuji dengan 4 validator dan 1 praktisi. Validator
terdiri dari ahli materi, media, bahasa dan praktisi. Hasil uji kelayakan
produk dengan beberapa evaluasi pada setiap komponen sesuai ahli, yaitu ahli
materi I dengan persentase 82,5%, ahli materi II dengan persentase 72,5%, ahli
media dengan persentase 85%, ahli bahasa dengan persentase 82,5% dan praktisi
dengan persentase sebesar 85%. Kelima ahli pun menyampaikan bahwa modul yang
disusun memiliki tampilan menarik serta menambah pengetahuan serta wawasan dalam
inovasi memberikan metode untuk meningkatkan rasa percaya diri anak usia dini.
Berdasarkan hasil uji kelayakan produk oleh validator, produk masuk dalam
kategori valid/layak untuk diimplementasikan.
Adapun modul termasuk dalam bahan ajar yaitu seperangkat pembelajaran
yang digunakan untuk memenuhi standar kompetensi dan kompetensi dasar (Nurdyansyah, 2018)
pada modul ini disusun untuk memenuhi atau memberikan media yang dapat digunakan
guru PAUD/TK/RA dalam memberikan layanan bermain peran makro. Bermain peran
atau sosiodrama merupakan salah satu metode dalam bimbingan kelompok yang dapat
diberikan ke peserta didik dalam pencapaian salah satu aspek perkembangan
sosial (Afiati, 2019). Bermain peran makro sendiri dibuktikan oleh beberapa peneliti untuk
meningkatkan rasa percaya diri anak dengan penelitian tindakan kelas, hasil
tersebut memberikan peningkatan akurat perilaku rasa percaya diri sebesar 75% (Lapamona, 2015). Tak hanya itu, bermain peran
makro juga dijadikan terapi atau treatment
untuk anak usia dini yang mengalami permasalahan kurangnya rasa percaya diri.
Modul yang baik adalah modul yang memiliki sifat valid, praktis dan
efektif. Penelitian yang dilaksanakan oleh (Susanti, 2020) mengenai pengembangan modul
dalam kegiatan bermain mendapatkan hasil kelayakan sebesar 93,3% untuk
digunakan oleh mahasiswa sebagai bahan ajar. Apabila dilihat dari hasil uji
kelayakan produk, modul termasuk ke dalam kategori valid atau layak. Adapun
kepraktisan modul diuji coba oleh kepala RA Al Izzah dengan memberikan lembar
instrumen penilaian yang berisi 10 pernyataan dengan pilihan 4 jawaban dengan
hasil bahwasannya tampilan modul yang menarik karna pemilihan warna yang ceria
dan praktisi menyarankan untuk diberikan hasil cetak agar dapat digunakan oleh
guru saat pandemi sudah usai. Modul ini menjadi efektif dikarenakan tampilannya
yang menarik dan didukung oleh pemilihan warna dengan begitu pembaca menjadi
lebih efektif dalam memahami, serta modul diberikan lembar pedoman observasi
yang menjadi panduan guru untuk mengukur sebelum dan sesudah pemberian
bimbingan bermain peran makro. Lembar pedoman observasi ditambahkan pada modul
supaya memberikan modul menjadi lebih aplikatif untuk digunakan. Berdasarkan
hal tersebut, guru kelas dapat memberikan layanan bimbingan bermain peran makro
dengan panduan yang disampaikan pada modul disertai oleh materi dalam hal ini dapat mempermudah guru untuk
mengoptimalkan aspek perkembangan sosial-emosional anak usia dini salah
satunya, yaitu rasa percaya diri.
Modul digunakan sebagai salah satu media bimbingan dan konseling dalam
memberikan layanan bimbingan dan konseling. Layanan yang digunakan dapat berupa
layanan informasi dalam memberikan bimbingan dan layanan responsif dalam
memberikan konseling pada siswa. Media bimbingan dan konseling merupakan salah
satu fasilitas atau pendukung dalam memberikan layanan berupa perasaan, fikiran
kepada klien/konseli/siswa (Prasetiawan & Alhadi, 2018). Tata letak bimbingan dan
konseling sendiri yang terintegrasi dengan guru kelas dalam hal ini modul
dijadikan sebagai panduan guru BK/kelas di satuan TK/PAUD/RA untuk melaksanakan
layanan bimbingan dan konseling terkhususnya untuk meningkatkan rasa percaya
diri anak usia dini melalui bimbingan kelompok dengan metode bermain peran
makro.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan produk
berupa modul bimbingan dan konseling tentang bermain peran makro untuk
meningkatkan rasa percaya diri anak usia dini dapat disimpulkan bahwaPenelitian
dan pengembangan peneliti menghasilkan produk pengembangan modul bimbingan dan
konseling tentang bermain peran makro untuk meningkatkan rasa percaya diri anak
usia dini berupa bahan ajar untuk memberikan layanan BK di PAUD/TK/RA. Berdasarkan 5 ahli dalam
segi materi, media, bahasa dan praktisi mendapatkan persentase pada range
70-85% yang diartikan masuk pada kategori valid atau layak untuk
diimplementasikan.
Hasil pengembangan produk secara keseluruhan baik dari
segi materi, media, bahasa dan praktisi termasuk dalam kategori layak.
Pengembangan produk tersebut terdiri dari pengenalan bimbingan dan konseling di
Taman Kanak-kanak dan kejelasan mengenai tata letak serta urgensi, materi
seputar anak usia dini, rasa percaya diri, bermain peran makro serta panduan
pelaksanaan bimbingan bermain peran makro. Modul ini juga dilengkapi dengan
contoh skenario, lembar pedoman observasi, RPL serta RPPH untuk pendukung dalam
kegiatan pelaksanaan bimbingan bermain peran makro.
Pengembangan modul bimbingan dan konseling memiliki
peran bimbingan dan konseling yaitu sebagai salah satu media untuk melaksanakan
layanan bimbingan dan konseling oleh guru kelas/guru BK yang saling
terintegrasi di TK/PAUD/RA. Modul dijadikan panduan
untuk memberikan layanan informasi yaitu memberi pemahaman pada pembaca dan
layanan responsif untuk memberikan konseling/treatment pada anak usia dini yang mengalami kurangnya rasa percaya
diri.
Afiati, Evi. (2019).
Model Bimbingan Melalui Permainan Sosiodrama Untuk Mengembangkan Perilaku
Prososial Anak. Prosiding Seminar Nasional PG PAUD Untirta 2019,
119–132.Google Scholar
Budiarta, I. W., Margi, I. K., & Sudarma, I. K. (2016). Pengembangan Multimedia Interaktif Model
ADDIE Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Sejarah Siswa Kelas X-1 Semester
Genap di SMAN 1 Sukasada, Buleleng, Bali. Widya Winayata: Jurnal
Pendidikan Sejarah, 4(2). Google Scholar
Budiyono Saputro, M. P. 2017. Manajemen Penelitian
Pengembangan (Research & Development) Bagi Penyusun Tesis dan Disertasi.
Aswaja Presindo. Google Scholar
Firanda, Silvia Ayu.
(2012). Perbedaan Rasa Percaya Diri Antara Anak Yang Mengikuti Playgroup Dan
Tidak Mengikuti Playgroup Pada kelompok A di Taman Kanak-Kanak Aisyiyah
Bustanul Athfal 3 Surabaya. Skripsi. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Google Scholar
Hotimah, Apriana
Khusnul, & Ukhwatun, Nurul. (2019). Mengembangkan Kepercayaan Diri Anak
Melalui Komunikasi Ekspresif Pada Pembelajaran Di Kelas Anak Usia Dini. Seminar
Nasional Pendidikan 2015, 80–86. Google Scholar
Khoerunnisa, Nisa.
(2015). Optimalisasi metode bermain peran dengan Menggunakan alat permainan
edukatif dalam Mengasah percaya diri Anak usia dini. LENTERA, 17(1). Google Scholar
Lapamona, S. R. I.
Marsalena. (2015). Meningkatkan Rasa Percaya Diri Anak Melalui Metode Bermain
Peran Makro di Kelompok B TK Siaga Permai Kecamatan Bone Kabupaten Bone
Bolango. Skripsi, 1(153409036). Google Scholar
Mania, Sitti. (2017).
Observasi sebagai alat evaluasi dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Lentera
Pendidikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, 11(2), 220–233. Google Scholar
Mayar, Farida. (2013).
Perkembangan sosial anak usia dini sebagai bibit untuk masa depan bangsa. Al-Ta
Lim Journal, 20(3), 459–464. Google Scholar
Mutiah, Diana.
(2015). Psikologi bermain anak usia dini. Kencana. Google Scholar
Nurdyansyah,
Nurdyansyah. (2018). Pengembangan Bahan Ajar Modul Ilmu Pengetahuan Alambagi
Siswa Kelas Iv Sekolah Dasar. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Google Scholar
Nurmalitasari,
Femmi. (2015). Perkembangan sosial emosi pada anak usia prasekolah. Buletin
Psikologi, 23(2), 103–111. Google Scholar
Prasetiawan, Hardi, & Alhadi, Said. (2018). Pemanfaatan Media
Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah se-Kota
Yogyakarta. Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling, 3(2), 87–98. Google Scholar
Puspitarini, Henny.
(2014). Membangun rasa percaya diri anak. Elex Media Komputindo. Google Scholar
Putri, Maidita,
Rakimahwati, Rakimahwati, & Zulminiati, Zulminiati. (2018). Efektivitas
Penerapan Metode Bermain Peran Makro terhadap Perkembangan Bahasa Lisan Anak di
Taman Kanak-kanak Darul Falah Kota Padang. Journal of Studies in Early
Childhood Education (J-SECE), 1(2), 171–179. Google Scholar
Rahdiyanta, D. (2016).
Teknik Penyusunan Modul. Google Scholar
Rini, Jacinta F.
(2002). Memupuk rasa percaya diri. Jakarta: Team e-Psikologi. Google Scholar
Sandi, Kurnia.
(2019). Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) pada Sekolah Menengah Atas
(SMA) di Kecamatan Mariso Kota Makassar. Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar. Google Scholar
Suryani, Ratih.
(2017). Hubungan Antara Rasa Percaya Diri Dengan Keterampilan Sosial Anak
Taman Kanak-Kanak: Penelitian Korelasional pada Anak Kelompok B di Taman
kanak-kanak Kecamatan Sukasari Kota Bandung Tahun Ajaran 2016-2017.
Universitas Pendidikan Indonesia. Google Scholar
Susanti, Rikza
Azharona. (2020). Pengembangan Modul Mata Kuliah Bermain dan Permainan Berbasis
Hasil Praktikum Perkuliahan Mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD)
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Preschool:
Jurnal Perkembangan Dan Pendidikan Anak Usia Dini, 1(2), 105–118. Google Scholar
Syaodih, Ernawulan.
(2005). Bimbingan di taman kanak-kanak. Jakarta: Depdiknas, 11. Google Scholar
Tegeh, I. M., & Kirna, I. M. (2013). Pengembangan Bahan
ajar metode penelitian pendidikan dengan addie model. Jurnal Ika, 11(1). Google Scholar
Umairoh, Umairoh.
(2019). Pengaruh Metode Bermain Peran Terhadap Rasa Percaya Diri Anak Usia 5-6
Tahun Di RAAl-Musthafawiyah Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung Tahun
Ajaran 2018/2019. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Google Scholar
Wiyanto, Asul.
(2002). Terampil bermain drama. Grasindo. Google Scholar
Wulandari, Retno,
Ichsan, Burhannudin, & Romadhon, Yusuf Alam. (2017). Perbedaan perkembangan
sosial anak usia 3-6 tahun dengan pendidikan usia dini dan tanpa pendidikan
usia dini di Kecamatan Peterongan Jombang. Biomedika, 8(1). Google Scholar
Yulianti, Tri Rosana. (2014).
Peranan Orang Tua Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini. EMPOWERMENT:
Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, 3(1), 11–24. Google Scholar
|
Eka Aisyi
Fiqriyah, Evi Afiati, Putri Dian Dia Conia (2021) |
|
First publication right : Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial
Teknik |
|
This article is licensed under: |