Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik

e-ISSN: 2775-0833; p-ISSN:   2775-0329

Vol. 4 , No. 1, Januari 2022

 

EVALUASI TINGKAT EFEKTIFITAS PENGGUNAAN LEARNING MANAGEMENT SYSTEM DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH

 

Wahyu Andhyka Kusuma, Dicky Prabowo Octianto

Universitas Muhammadiyah Malang Jawa Tengah, Indonesia

Email: kusuma.wahyu.a@gmail.com, prabowodicky@webmail.umm.ac.id

 

Abstrak

Sejak awal 2020 terjadi perubahan drastis dari perkuliahan tatap muka menjadi pembelajaran daring jarak jauh akibat Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia, namun aspek-aspek kehidupan tidak bisa terus dibiarkan berhenti karena adanya pandemi. Salah satu aspek yang terdampak adalah pendidikan, dimana harus beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh membutuhkan sistem yang optimal untuk digunakan semua instrumen pendidikan. Salah satu opsi yang dapat digunakan adalah penggunaan Learning Management System, yang merupakan sistem berbasis website Asynchronous. Melalui sistem ini dosen dan mahasiswa bisa berinteraksi satu sama lain tanpa perlu adanya tatap muka. Tujuan dari penelitian ini ada mengevaluasi tentang bagaimana jalannya penggunaan LMS dalam Pembelajaran Jarak Jauh di ranah Universitas. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Learning Management Sistem sekarang ini dapat digunakan selama masa darurat seperti sekarang, namun dengan beberapa hal yang masih perlu dibenahi.

 

Kata kunci: LMS; Pembelajaran Jarak Jauh; Covid-19

 

Abstract

Since the beginning of 2020 there has been a drastic change from face-to-face lectures to distance learning online due to the Covid-19 Pandemic that has hit the entire world, but aspects of life cannot continue to be allowed to stop because of the pandemic. One of the aspects affected is education, which has to adapt to distance learning. Distance learning requires an optimal system for the use of all educational instruments. One option that can be used is the use of a Learning Management System, which is an asynchronous website-based system. Through this system lecturers and students can interact with each other without the need for face to face. The purpose of this study is to evaluate how the use of LMS in Distance Learning in the university realm. The results of this study conclude that the current Learning Management System can be used during emergencies like now, but with several things that still need to be addressed.

 

Keywords:  LMS; distance learning; Covid-19

 

 

 

Pendahuluan

Ditetapkannya Covid-19 sebagai pandemi global membuat Indonesia harus segera bergerak untuk menetapkan kebijakan strategis guna menahan laju persebaran virus covid-19. Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan oleh karena itu infeksi virus corona baru disebut disebut COVID-19 (Muhammad Doly Harahap, 2020). Salah satu aspek yang terdampak adalah aspek pendidikan (Setiaji & Dinata, 2020). Pemerintah saat ini tengah menyusun aturan baru untuk membahas tentang kurikulum selama pandemi yang tentunya kesehatan masyarakat dijadikan prioritas utama (Swastika & Lukita, 2020), (Setiaji & Dinata, 2020), (Mamahit, 2021). Seperti yang tercantum dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 2020, pembelajaran pada berbagai jenjang pendidikan dilakukan secara daring dari rumah melalui video conference, digital document, dan sarana daring lainnya. Perubahan yang terjadi di masyarakat selama masa pandemi ini meliputi pembatasan fisik (Pakpahan & Fitriani, 2020), perhatian ekstra terhadap perilaku hidup bersih dan sehat, serta semua kegiatan diminimalisir jumlah kerumunannya (Muhammad Doly Harahap, 2020). Dalam lingkup pendidikan, proses pembelajaran di kelas dengan kehadiran dosen dan mahasiswa memiliki tingkat efektifitas tinggi (Putra & Irwansyah, 2020), (Fitriani, 2020), (Alfina, 2020). Namun hal tersebut tidak bisa dilakukan sehingga pemerintah sekarang sedang menyusun kebijakan guna menyiapkan pembelajaran daring. Kebijakan yang sekarang digunakan belumlah sepenuhnya efektif karena pengerjaan tugas yang sepenuhnya dikerjakan di rumah membuat pelajar keteteran, berbeda halnya ketika pembelajaran secara luring dimana tugas yang mereka miliki dibagi dua yaitu pengerjaan di kelas dan dirumah (Prawanti & Sumarni, 2020). Kegiatan seperti itu yang berulang ulang terjadi dapat menyebabkan stress pada mahasiswa karena mereka dituntut untuk perlu melakukan penyesuaian dengan kondisi baru di tengah-tengah pandemik dan juga menyebabkan penurunan motivasi belajar (Ade Chita Putri Harahap, Harahap, & Harahap, 2020), (Tandirerung, 2021). Salah satu contohnya adalah survey yang dilakukan oleh Annisa Swastika & Galuh Lukita dalam jurnal menyebutkan bahwa 9,26% dari mahasiswa yang mereka survey memiliki motivasi yang rendah selama pembelajaran daring (Swastika & Lukita, 2020). Ketidakmampuan mahasiswa untuk menyesuaikan diri mereka dengan situasi yang baru membuat mahasiswa tertekan dan stres. Stres akademik diartikan sebagai keadaan dimana seseorang tidak dapat menghadapi tuntutan akademik dan mempersepsi tuntutan akademik yang diterima sebagai gangguan (Ade Chita Putri Harahap et al., 2020).

Berbagai macam platform sedang diuji coba untuk memberikan kemudahan selama pembelajaran daring seperti contohnya dengan penggunaan E-Learning (Alfina, 2020), (Lestariningsih, Artono, & Afandi, 2020), (Anugrah, Rumanti, & Rizana, 2020). Penggunaan E-Learning tentunya harus didukung dengan penggunaan internet yang memadai, sehingga dapat mendukung proses kegiatan belajar mengajar (Handarini & Wulandari, 2020). E-learnig sendiri dibedakan menjadi 2 yaitu Synchronous (proses belajar mengajar antara dosen dan mahasiswa dilakukan dalam waktu yang bersamaan) dan Asynchronous (proses belajar mengajar antara dosen dan mahasiswa dilakukan dalam waktu yang berbeda, fleksibel sesuai tenggat waktu yang diberikan), (Mamahit, 2021). Namun dalam prakteknya sebuah solusi tentunya akan menemukan kendala baru, kendala teknis yang tengah menjadi problematika dalam penggunaan e-learning adalah seperti kesiapan SDA yang belum memdadai, arahan pemerintah masih kurang jelas, kurikulim yang masih berubah-ubah, dan ketersediaan jaringan yang belum merata (Latip, 2020), (Asmuni, 2020), (Anugrah et al., 2020). Kendala-kendala tersebutlah yang menjadi beban bagi mahasiswa dan akhirnya tidak sedikit mahasiswa yang mendapati tekanan secara fisik dan mental akibat dari pembelajaran daring ini (Prawanti & Sumarni, 2020). Padahal apabila ditelisik lebih dalam tingkat emosional dari seorang mahasiswa akan mempengaruhi kualitas hasil pembelajaran mahasiswa tersebut.

Masa pandemi yang masih belum diketahui kapan ujungnya ini, kegiatan pembelajaran haruslah tetap berjalan salah satu opsi yang ada adalah dengan menggunakan Learning Management System (LMS). Terdapat alasan mengapa penggunaan LMS ini sebaiknya dilaksanakan yaitu untuk meningkatkan interaksi antara mahasiswa, dosen, dan materi yang diajarkan agar kegiatan belajar mengajar tetap dapat berjalan (Munir, 2010), (Lestariningsih et al., 2020). Penggunaan LMS ini tidaklah mudah, karena dalam penggunaan LMS ini tentunya perlu adanya kompetensi dan literasi teknologi dalam mengoperasikan device seperti komputer maupun smartphone untuk pengaksesannya, sedangkan SDA kita masih banyak yang tidak memiliki kompetensi tersebut (Latip, 2020). Selain menerapkan pembelajaran daring beberapa universitas juga menerapkan pembelajaran bauran (Gabungan antara pembelajran daring dan luring) (Tandirerung, 2021), hal ini dikarenakan dalam beberapa mata kuliah sangat diperlukan praktek tatap muka yang mengharuskan bertemunya dosen dan mahasiswa (Munir, 2010). Beberapa aspek yang perlu ditingkatkan dalam pembelajaran daring ini adalah semangat belajar, Literacy terhadap teknologi, kemampuan berkomunikasi interpersonal, berkolaborasi antar lini, dan keterampilan untuk belajar secara mandiri (Sadikin & Hamidah, 2020). Namun bagaimanapun juga komunikasi tatap muka dinilai lebih dekat dan menimbulkan rasa emosional tertentu yang membuat informasi lebih mudah disampaikan dan diterima (Putra & Irwansyah, 2020), (Fitriani, 2020).

 

Metode Penelitian

Dalam proses elisitasi kebutuhan menggunakan teknik persona ada sepuluh tahap yang harus dilalui. Tahap dari teknik persona tersebut adalah:

1.   State Hypotheses

Perumusan hipotesa dilakukan dengan membuat hipotesa awal dari setiap persona dan permasalahan yang ditemukan (Rohimah, Kusuma, & Husna, 2021).

2.   Identify Behavioral Variable

Variabel perilaku ini di dapatkan dari hasil melakukan wawancara kepada subjek (Putri, 2021). Pertanyaan yang diajukan harus dapat merefleksikan perilaku kebiasan dari subjek yang diteliti (Kusuma, Nurhuda, & Purwanto, 2021).

3.   Map Interview Subjects to Behavioral Variables

Pengelompokan variabel perilaku dilakukan untuk mengidentifikasi perilaku antar subjeknya (Putri, 2021). Rentang nilai terbentuk harus berasal dari sintesis tanggapan hasil wawancara (Kusuma et al., 2021).

4.   Identify Significant Behavior Patterns

Mengidentifikasi variabel dan mengelompokkannya berdasarkan hasil wawancara  Subjek ditiap rentangnya akan mewakili pola yang terbentuk atas hasil persona nantinya (Kusuma et al., 2021).

5.   Synthesize Characteristics and Relevant Goals

Pola yang didapat pada tahap ini bertujuan untuk mencerminkan kepribadian pengguna sehingga dapat terlihat pola kebiasaan dari pengguna (Kusuma et al., 2021).

6.   Check for Redundancy and Completeness

Memerikas aktifitas untuk redudansi dan kelengkapan untuk mencari informasi ataupun pengetahuan yang kurang (Kusuma et al., 2021). Hasil yang diharapkan berupa pemvalidasian seluruh variabel yang dibutuhkan (Putri, 2021).

7.   Expand the Description of Attributes and Behaviors

Identitas persona bertujuan untuk memudahkan analisis apa saja yang dibutuhkan persona tersebut. Struktur dalam persona yang dipilih adalah identitas, status, tujuan, pengetahuan, dan pengalaman persona (Rohimah et al., 2021).

8.   Designate Persona Types

Persona primer adalah persona yang menjadi target utama dari sistem yang dikembangkan. Persona primer harus mewakili kebutuhan dan tujuan utama dari pengembangan sistem. Sedangkan persona sekunder adalah persona yang memiliki kebutuhan tambahan yang tidak ada di persona primer (Ghufron, Kusuma, & Fauzan, 2020).

 

Hasil dan Pembahasan

1.   State Hypotheses

Pada Tabel 1 menunjukan 2 kategori hipotesis yaitu dari sisi dosen dan mahasiswa yang mana keduanya memiliki peran yang berbeda.

 

Tabel 1

 Hipotesa

Hipotesis

Persona

Explanation

H0

Dosen

Dosen sudah terbiasa dan familiar dengan fitur yang ada pada LMS.

H1

Mahasiswa

Mahasiswa kurang merasa nyaman dengan tampilan yang disuguhkan oleh LMS.

 

2.   Identify Behavioral Variable

Pada Tabel 2 dan Tabel 3 ini peneliti membuat daftar identifikasi variabel perilaku yang berhubungan dengan masalah yang ada Asdfasfd.

 

Tabel 2

Korelasi Hipotesa Dosen

Observed Behavioural Variable

Scale

Prodi sudah menyiapkan pembelajaran jarak jauh

Ya - Tidak

Lebih efektif menggunakan LMS atau Video confrence

LMS-Video Conference

Bisakah mengetahui mahasiswa sedang memperhatikan materi

Ya - Tidak

Bisakah LMS dijadikan penopang untuk kelulusan mahasiswa

Ya - Tidak

 

Tabel 3

Korelasi Hipotesa Mahasiswa

Observed Behavioural Variable

Scale

Mudahkah menggunakan LMS

Ya - Tidak

Nyaman dalam penggunaan LMS

Ya - Tidak

Bisakah menunjukan keatifan kepada dosen dengan LMS

Ya - Tidak

LMS efektif dalam penerapannya

Ya - Tidak

Semua dosen pengampu menggunakan LMS

Ya - Tidak

 

3.   Map Interview Subjects to Behavioral Variables

Ada Gambar 1 dan Gambar 2 peneliti memetakan setiap subjek wawancara dengan masing-masing variabel perilaku. Hasil wawancara tersebut dikelompokkan berdasarkan variable masing-masing sesuai dari tanggapan pengguna.


Gambar 1

Emoticon Card Dosen

 


Gambar 2

Emoticon Card Mahasiswa

 

4.   Identify Significant Behavior Patterns

Setelah membuat emotion card maka yang harus dilakukan adalah menyimpulkan dari pemetaan jawaban yand didapat dari responden. Dari Gambar 1 kita dapat menyimpulkan bahwa prodi telah menyiapkan apa apa saja yang dibutuhkan dalam pembelajaran jarak jauh, lalu LMS masih dinilai kurang efektif dalam penggunaannya namun untuk sekarang LMS dapat dijadikan penopang kelulusan karena tidak terlalu banyak opsi yang dimiliki. Dari Gambar 2 dapat disimpulkan bahwa LMS  cukup mudah digunakan dan sudah efektif penggunaannya bagi mahasiswa namun tidak semua dosen menggunakannya.

 

Tabel 4

 Persentase Grupping Dosen

Observed Behavioral Variabel

Scale

Persentage

Prodi sudah menyiapkan pembelajaran jarak jauh

Ya

100 %

Tidak

-

Lebih efektif menggunakan LMS atau Video confrence

LMS

-

Video Conference

100 %

Bisakah mengetahui mahasiswa sedang memperhatikan materi

Ya

50 %

Tidak

50 %

Bisakah LMS dijadikan penopang untuk kelulusan mahasiswa

Ya

100 %

Tidak

-

 

 

 

 

 

Tabel 5

 Persentase Grupping Mahasiswa

Observed Behavioral Variabel

Scale

Persentage

Mudahkah menggunakan LMS

Ya

60 %

Cukup

40 %

Tidak

-

Nyaman dalam penggunaan LMS

Ya

-

Cukup

80 %

Tidak

20 %

Bisakah menunjukan keatifan kepada dosen dengan LMS

Ya

20 %

Cukup

40 %

Tidak

40 %

LMS efektif dalam penerapannya

Ya

60 %

Cukup

40 %

Tidak

-

Semua dosen pengampu menggunakan LMS

Ya

20 %

Cukup

-

Tidak

80 %

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3

Personas Foundation Document Subject

 

5.   Synthesize Characteristics and Relevant Goals

Mengelompokkan dengan variable yang dipilih yang kemudian akan merangkum dari jawaban responden. Pengelompokan tersebut berisi subjek wawancara yang telah dipetakan untuk setiap nilai variabel perilaku. 

 

6.   Check for Redundancy and Completeness

Pada tahap ini dilakukan pemvalidasian data yang telah diperoleh, ada beberapa tahapan yaitu memastikan semua responden menjawab sesuai yang dibutuhkan, melakukan validasi antar responden, validasi responden tentang variabel yang masih kurang di emotion card, lalu menganalisa anomali yang ada pada jawaban responden.

 

7.   Expand the Description of Attributes and Behaviors

Membuat Persona Foundation yang nantinya akan disusun menjadi sebuah narasi seperti Gambar 3.

 

8.   Designate Persona Types

Tahap ini akan dibuatkan deskripsi informasi tentang persona yang sudah diolah sehingga terbentuk user persona seperti Gambar 4 dan Gambar 5.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5

User Persona Mahasiswa

 

Kesimpulan

Penggunaan Sistem Learning Management System untuk digunakan disituasi saat ini cukup efektif membantu kegiatan belajar mengajar antara dosen dan mahasiswa, namun tetap perlu adanya improvisasi untuk situasi seperti sekarang ini karena masih terdapat beberapa masalah yang perlu dihadapi seperti tampilan yang masih kurang nyaman, pengalaman pengguna yang masih kurang, serta perlu adanya sosialisasi kepada dosen tentang LMS ini. Metode pembelajaran bauran juga baik apabila diterapkan, namun beberapa Universitas masih ada yang belum melakukannya karena resiko penularan virus ini menjadi lebih besar apabila menggunakan Metode pembelajaran bauran. Dan tentunya selain sistem yang mendukung perlu adanya keseriusan dari orang orang yang berkecimpung di dalamnya seperti dosen dan mahasiswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Alfina, Ommi. (2020). Penerapan lms-google classroom dalam pembelajaran daring selama pandemi covid-19. Majalah Ilmiah Methoda, 10(1), 38–46.Google Scholar

 

Anugrah, Dio Cika, Rumanti, Augustina Asih, & Rizana, Afrin Fauzya. (2020). Pengukuran Tingkat Kesiapan Penerapan E-learning Pada Proses Belajar Mengajar Program Studi S1 Teknik Industri Universitas Telkom Bandung. EProceedings of Engineering, 7(2). Google Scholar

 

Asmuni, Asmuni. (2020). Problematika Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19 dan Solusi Pemecahannya. Jurnal Paedagogy, 7(4), 281–288. Google Scholar

 

Fitriani, Yuni. (2020). Analisa Pemanfaatan Learning Management System (LMS) Sebagai Media Pembelajaran Online Selama Pandemi COVID-19. Journal of Information System, Informatics and Computing, 4(2), 1–8. Google Scholar

 

Ghufron, Kharisma Muzaki, Kusuma, Wahyu Andhyka, & Fauzan, Fauzan. (2020). Penggunaan User Persona Untuk Evaluasi Dan Meningkatkan Ekspektasi Pengguna Dalam Kebutuhan Sistem Informasi Akademik. SINTECH (Science and Information Technology) Journal, 3(2), 90–99. Google Scholar

 

Handarini, Oktafia Ika, & Wulandari, Siti Sri. (2020). Pembelajaran daring sebagai upaya study from home (SFH) selama pandemi covid 19. Jurnal Pendidikan Administrasi Perkantoran (JPAP), 8(3), 496–503.

 

Harahap, Ade Chita Putri, Harahap, Dinda Permatasari, & Harahap, Samsul Rivai. (2020). Analisis Tingkat Stres Akademik Pada Mahasiswa Selama Pembelajaran Jarak Jauh Dimasa Covid-19. Biblio Couns: Jurnal Kajian Konseling Dan Pendidikan, 3(1), 10–14. Google Scholar

 

Harahap, Muhammad Doly. (2020). Pengaruh Komunikasi Organisasi dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Metro Tv Sumut. Google Scholar

 

Kusuma, Wahyu Andhyka, Nurhuda, Muhammad Arif, & Purwanto, Wahyu Dwi. (2021). Peningkatan Pemahaman Pengguna Pada Proses Penggalian Kebutuhan Menggunakan Metode Persona. Prosiding SENTRA (Seminar Teknologi Dan Rekayasa), (6), 184–193. Google Scholar

 

Latip, Abdul. (2020). The role of information and communication technology literacy in distance learning during the Covid-19 pandemic. Journal of Education. Google Scholar

 

Lestariningsih, Tri, Artono, Budi, & Afandi, Yosi. (2020). Evaluasi Implementasi E-learning dengan Metode Hot Fit Model. Innovation in Research of Informatics (Innovatics), 2(1). Google Scholar

 

Mamahit, Calvin E. J. (2021). Pengaruh Pembelajaran Jarak Jauh Model Bauran Terhadap Hasil Belajar Dan Persepsi Mahasiswa [The Effect Of The Blended Learning Model On Student Learning Outcomes And Perceptions]. Polyglot: Jurnal Ilmiah, 17(1), 67–83. Google Scholar

 

Munir, Munir. (2010). Penggunaan Learning Management System (Lms) Di Perguruan Tinggi: Studi Kasus Di Universitas Pendidikan Indonesia. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 1(1). Google Scholar

 

Pakpahan, Roida, & Fitriani, Yuni. (2020). Analisa pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran jarak jauh di tengah pandemi virus corona covid-19. Journal of Information System, Applied, Management, Accounting and Research, 4(2), 30–36. Google Scholar

 

Prawanti, Lia Titi, & Sumarni, Woro. (2020). Kendala Pembelajaran Daring Selama Pandemic Covid-19. Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana (PROSNAMPAS), 3(1), 286–291. Google Scholar

 

Putra, Rizki Saga, & Irwansyah, Irwansyah. (2020). Media Komunikasi Digital, Efektif Namun Tidak Efisien, Studi Media Richness Theory dalam Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi di Masa Pandemi. Global Komunika: Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 3(2), 1–13. Google Scholar

 

Putri, Fajarisma Asfiana. (2021). Penggunaan User Persona Untuk Elisitasi Kebutuhan Perangkat Lunak. Prosiding SENTRA (Seminar Teknologi Dan Rekayasa), (6), 131–138. Google Scholar

 

Rohimah, Selma Osa, Kusuma, Wahyu Andhyka, & Husna, Rafiatul. (2021). Penggalian Karakteristik Pengguna Pada Fase Elisitasi Perangkat Lunak Menggunakan User Persona. Sintech (Science and Information Technology) Journal, 4(1), 22–28. Google Scholar

 

Sadikin, Ali, & Hamidah, Afreni. (2020). Pembelajaran Daring di Tengah Wabah Covid-19. Biodik, 6(2), 109–119. Google Scholar

 

Setiaji, Bayu, & Dinata, Pri Ariadi Cahya. (2020). Analisis kesiapan mahasiswa jurusan pendidikan fisika menggunakan e-learning dalam situasi pandemi Covid-19. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 6(1), 59–70. Google Scholar

 

Swastika, Annisa, & Lukita, Galuh. (2020). Motivasi Belajar Dalam Pembelajaran Daring Berbasis Learning Management System (LMS) Schoology Pada Mata Kuliah Probabilitas. Indonesian Journal of Instructional Technology, 1(2). Google Scholar

 

Tandirerung, Veronika Asri. (2021). Analisis Performansi LMS SYAM OK dalam Pembelajaran di UNM. Jurnal MediaTIK, 4(1), 42–45. Google Scholar

 

Copyright holder :

Wahyu Andhyka Kusuma, Dicky Prabowo Octianto (2022)

 

First publication right :

Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik

 

This article is licensed under: