Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik

e-ISSN: 2775-0833; p-ISSN: 2775-0329

Vol. 4 , No. 1, Januari 2022

 

MANAJEMEN PEMBIBITAN DAN PRODUKSI THE DI PERUSAHAAN PTP N VI KAYU ARO KERINCI

 

Muhammad Bintang, Kasful Anwar US

UIN Sultan Thaha Jambi, Indonesia

Email: bintang97@gmail.com, anwarkasful76@gmail.com

 

Abstrak

Manajemen produksi adalah sebuah penataan dari proses pengubahan bahan mentah menjadi suatu produk atau jasa yang memiliki nilai jual. Manajemen produksi juga merupakan bagain dari bidang manajemen yang memiliki peran untuk melakukan koordinasi beragam kegiatan agar tujuan bisnis bisa tercapai. Untuk mengatur produksi, perlu adanya keputusan yang ada hubungannya dengan usaha mencapai tujuan. Sehingga, barang dan jasa yang dihasilkan sesuai dengan yang sudah direncanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Aktivitas atas fungsi poduksi pada PTP. Nusantara VI Kayu Aro, Efektivitas fungsi produksi pada PTP. Nusantara VI Kayu Aro, dan Mem-berikan saran atau rekomendasi untuk peningkatan efektivitas fungsi produksi pada PTP. Nusantara VI Kayu Aro di masa yang akan datang. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang membuat analisis sistem, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara, dokumentasi, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu analisis data dengan cara membandingkan antara teori dengan kenyataan yang ada pada perusahaan. Analisis data yaitu Kondisi, Kriteria, Penyebab, dan Akibat. Hasil penelitian ini adalah Aktivitas fungsi produksi mulai dari jadwal induk produksi, perolehan bahan baku, tingkat produk cacat, perawatan peralatan dan fasilitas produksi, pengembangan angkatan kerja, pengendalian kualitas, dan aktivitas pengepakan dan penyimpanan produk jadi secara umum telah dilaksanakan dengan baik,Secara umum aktivitas fungsi produksi telah efektif namun demikian masih terdapat beberapa permasalahan pada aktivitas jadwal induk produksi dan aktivitas perolehan bahan baku yang disebabkan oleh ketidaktercapaian perolehan bahan baku, Adapun saran atau rekomendasi yang diberikan adalah pertimbangkan dengan matang atas kebijakan replanting dan pemangkasan dengan meminta pertimbangan dari para ahli pertanian yang ada di perusahaan. Selain itu, pencapaian positif yang dicapai perusahaan harus dipertahankan dan ditingkatkan.

 

Kata Kunci: manajemen produksi; fungsi produksi; Ptp.Nusantara Vi Kayu Aro Kerinci

 

Abstract

Production management is an arrangement of the process of converting raw materials into a product or service that has a selling value. Production management is also a part of the field of management that has a role to coordinate various activities so that business goals can be achieved. To regulate production, there needs to be a decision that has to do with trying to achieve the goal. So, the goods and services produced in accordance with the planned. This research aims to find out the activity of the production function in PTP. Nusantara VI Kayu Aro, Effectiveness of production function in PTP. Nusantara VI Kayu Aro, and Give advice or recommendations for improving the effectiveness of production functions in PTP. Nusantara VI Kayu Aro in the future. This research is qualitative descriptive, which is research that makes systematic, factual, and accurate analysis of the facts and properties of a particular population or area. The methods of data collection in this study are interviews, documentation, and observations. The data analysis technique used is qualitative descriptive, which is data analysis by comparing theory with the reality in the company. Data analysis is Conditions, Criteria, Causes, and Consequences. The results of this research are production function activities ranging from the production master schedule, raw material acquisition, defect product level, maintenance of equipment and production facilities, labor force development, quality control, and packing and storage activities of finished products in general have been carried out properly, In general production function activities have been effective but nevertheless there are still some problems in the activities of the production master schedule and raw material acquisition activities in general have been implemented.  As for the inability to produce raw materials, the advice or recommendations given are to consider carefully the policy of replanting and pruning by asking for consideration from agricultural experts in the company. In addition, the positive achievements achieved by the company must be maintained and improved.

 

Keywords: product managementi; production function; Ptp.Nusantara Vi Kayu Aro Kerinci

 

Pendahuluan

Tidak banyak orang kenal teh Kayu Aro yang ditanam di dataran tinggi lereng Gunung Kerinci, Jambi. Padahal, teh kayu aro merupakan teh terbaik Indonesia. Bahkan, di zaman kolonial, teh Kayu Aro menjadi minuman Ratu Inggris dan Ratu Belanda (Yuliyana, 2021).

Dari Kayu Aro, minuman yang dihasilkan adalah teh ortodox atau teh hitam. Dulu, teh hitam ini berasal dari teh Assam, India. Kelebihan teh hitam ortodox ada pada rasa dan aroma. Keduanya begitu khas. Bahkan, keunggulan ini membuat produsen teh kemasan menjadikan teh Kayu Aro untuk bahan campuran utama untuk memperoleh cita rasa yang diinginkan (Ardila, 2020).

Luas perkebunan teh Kayu Aro di lereng Gunung Kerinci mencapai 3.020 hektare. Itu merupakan salah satu hamparan perkebunan teh terluas di dunia. Kebun ini terletak di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut (MDPL), hingga 1.600 mdpl. Kebun ini salah satu perkebunan teh tua di Indonesia, yang dibangun pada zaman kolonial Belanda (Mardianis & Syartika, 2018).

Awalnya kawasan ini hanya hutan biasa. Perusahaan Belanda Namlodee Venotchaat Handle Verininging Amsterdam kemudian menyulapnya menjadi perkebunan teh pada 1925 hingga 1928. Pembukaan hutan Kerinci sebagai kebun penanaman teh dilakukan dengan mempekerjakan ratusan kuli kontrak asal Jawa. Proses penanaman teh dimulai pada 1929, sedangkan pabrik teh berdiri tahun 1932.

Dari tangan kolonial, pengelolaan perkebunan teh Kayu Aro beralih ke PT Perkebunan Nusantara VI. Hingga kini kebun teh serta pabrik tua peninggalan Belanda masih beroperasi.

Untuk menikmati hamparan kebun teh, masyarakat umum dapat langsung datang dan berwisata. Sedangkan bagi pengunjung yang berniat melihat proses pengolahan teh di pabrik Kayu Aro, mereka membutuhkan izin khusus dari perusahaan Nusantara. Soalnya, demi menjaga agar aroma teh tidak tercemar, tidak sembarang orang diizinkan masuk pabrik. Pekerja pabrik juga dilarang menggunakan kosmetik (Syukri, 2016).

Di pabrik, daun segar yang baru dipetik akan melewati proses pelayuan di dalam bak-bak, yang di bawahnya dialiri udara panas. Setelah layu, dengan lori gantung, daun-daun itu diangkut ke tempat penggilingan. Lalu digiling dengan mesin.

Proses selanjutnya adalah fermentasi. Hasil gilingan diangin-anginkan di ruangan yang bersuhu dingin. Terakhir dikeringkan, istilahnya masuk ke penggorengan. Dengan mesin, bubuk teh akan dipisah berdasarkan mutu. Rata-rata setiap tahun kebun teh ini memproduksi 5.500 ton teh hitam. Sebagian diekspor ke Eropa, Rusia, Timur Tengah, Amerika Serikat, Asia Tengah, Pakistan, dan Asia Tenggara.

Tahap akhir dari proses ini adalah uji teh di ruang pengujian, yang dilakukan setiap hari. Tes itu dimulai dari dari pengujian penampakan partikel, uji rasa, aroma, warna air seduhan dan penampakan ampas seduhan. Menurut petugas tes teh, Jumiati, pengujian dilakukan sejak teh kering dari penggorengan. Tujuannya untuk mendeteksi jika ada perubahan mutu. Teh diuji sekali lagi sebelum dikemas (Anggia, 2018).

Jumiati yang sudah belasan tahun menjadi tester teh, mengambil teko dan cangkir teh dan menyiramnya dengan air panas. Beberapa sendok teh grade satu, teh paling unggul, dimasukkan ke dalam teko. Butirannya tidak terlalu halus dan berwarna hitam. Lalu daun teh itu disiram air mendidih, ditutup selama tiga menit.

Setelah itu, Jumiati menuangkan cairan teh kemerahan ke cangkir porselin putih. Untuk pengujian, ia mencium aroma teh yang mengepul, dan mencecap airnya. Bila ada aroma yang aneh dan tidak sesuai standar, teh yang sudah jadi itu tidak jadi dijual. Mereka akan mencari penyebab keanehan.

Dari ruangan pengujian ini, terungkap rahasia cara menyeduh teh yang benar. "Jangan kelamaan menyeduhnya, nanti pahit, dan harus selalu dengan air mendidih," kata Jumiati.

Secangkir teh Kayu Aro yang berwarna kemerahan itu rasanya benar-benar beda dengan teh lain. Aroma dari uap air teh yang mengepul pun amat khas. Sayangnya, susah sekali mendapatkan teh kualitas grade satu di sini, sebab hanya dijual ke luar negeri.

Di Jambi dan Sumatera Barat, ada pula teh kayu aro yang dijual dengan merek Teh Kajoe Aro. Meski beda kualitas, rasanya tidak jauh beda dengan teh ekspor itu.

Aromanya yang khas serta kualitas prima, sebagian besar teh produksi PTPN VI ini diekspor ke manca negara, salah satunya Negara Belanda. Menurut sejarah, sejak turun menurun Ratu Belanda (Ratu Beatrix) sangat menyukai Teh Kayu Aro ini.Pada tahun 1998 perkebunan dan pengolahan teh Kayu Aro telah dikembangkan sebagaitujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara yangmerupakan satu kawasan dari jajaran TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat).

 

Metode Penelitian

Pada penelitian ini menggunaka metode dengan menggunakan metode penelitian wawancara, dokumentasi, dan observasi. dan tknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan cara membandingkan antara teori dengan kenyataan yang ada pada perusahaan. analisis tersebut membahas kondisi, kriteria, penyebab dan akibat (Ari Retno Purwanti, 2020).

 

Hasil dan Pembahasan

1.   Perencanaa Pembibitan (Planing)

1)      Persiapan Lahan

Dalam pembibitan hal pertama yang dilakukan adalah persiapan lahan. Metode yangdilakukan untuk persiapan lahan oleh PTP N VI adalah menggunakan tanah merah dan tanahhitam. Tujuan digunakannya tanah merah adalah untuk mengurangi gulma yang ada di dalam polybag (Sitanggang, Silaban, & Panjaitan, 2017). Tanah merah ditanam paling atas dan tanah hitamnya diletakkan dibawah dengan perbandingan 20% tanah merah dan 80% tanah hitam. Kemudian pembentukan sungkup pelindung tanaman untuk melindungi tanaman dari hama dan gangguan lainnya sepertiangin,tangan manusia dan lain-lain.

2)      Persiapan Batang Stek

Batang stek diambil dari umur tanaman yang sudah berumur 10-15 tahun. Batang stekdiambil yang sudah tua kemudian dipotong dengan ukuran 2 jari dari ketiak daun. Kemudiandaun teh dibuang dan disisakan satu helai daun yang kemudian dipotong setengah dari tiaphelai daun dengan tujuan mengurangi penguapan air yang nantinya diserap tanaman. Setelah batang stek dipotong kemudian direndam dengan air yang telah dicampur dengan Antoni antihama dan betan dengan takaran 2 tutup botol. Kemudian direndam selama 30 menit sebelumditanam. Batang stek yang digunakan adalah jenis varietas Gambang 7 yang berasal dari JawaBarat yang telah ditanam disekitar perusahaan Kayu Aro Kerinci.

3)      Perencanaan Jumlah Pembibitan

Jumlah pembibitan ditentukan oleh permintaan dari perusahaan akan kebutuhan bibityang telah diremajakan dikebun. Penanaman pembibitan dilakukan setelah proses pengolahanlahan selesai ditanam. Biasanya rata-rata permintaan bibit yang siap ditanam setiapminggunya mencapai 500-1000 bibit. Jumlah bibit yang ditanam pada bulan ini rata-ratamencapai 7000 bibit. Dengan jumlah 1 katon mencapai 400 bibit dengan target presentasekehidupan ytang distandarkan perusahaan adalah 80%. Pembibitan di Kayu Aro terbilangsukses karena presentase kehidupannya mencapai diatas 90%.

4)      Pengorganisasian (Organizing)

Dalam pembibitan di Kayu Aro pekerjaan dilakukan oleh 20 orang Karyawan yangdipimpin oleh 1 orang Mandor besar. Untuk pekerjaan pemotongan stek dilakukan oleh ibu-ibu yang diambil dari desa Kayu Aro dan bukan merupakan karyawan atau yang biasa disebutdengan BHL (Buruh Harian Lepas). Kemudian penanaman dilakukan oleh beberapa pekerjakaryawan dan ibu-ibu dari BHL. Untuk pemeliharaan dilakukan oleh Karywan tetap dandibantu oleh beberapa pekerja BHL. Selanjutnya kegiatan pembibitan ini dilaporkan kepadaasisten lapangan yang nantinya akan dilaporkan ke Manager kebun untuk mengetahui tingkatkeberhasilan usaha pembibitan

5)      Pelaksanaan (Actuacting)

Pelaksanaan pembibitan dilakukan setelah perencanaan dilakukan. Tahapannya yang pertama dilakukan adalah menanam batang yang telah distek. Setelah dilakukan penanaman kemudian disusun kedalam sungkup pelindung bibit teh dengan rata-rata satu sungkup diisidengan 400 bibit teh. Sebelum ditutup oleh sungkup bibit teh disiram dahulu dengan campuran pupuk agar bibit teh dapat nutrisi dengan baik. penyiraman dilakukan selama1 X 60 hari. Pembibitan yang siap ditanam adalah bibit yang telah berusia 8-9 bulan. Setelah bibit berumur 9 bulan maka bisa dilakukan pemindahan, pemindahan dilakukan dengan caramenyusun polybag di box kayu untuk dipindahkan kelahan. 1 box kayu terdiri dari 40 bibitteh. Penyusunan dilakukan dibox kayu dengan tujuan agar benih bibit bisa ditumpuk dantidak gampang patah oleh angin dan tangan manusia. 

 

Gambar 1

Pembibitan yang dilakukan di Kebun Kayu Aro

 

6)      Pengawasan (Controling)

Pemeliharaan di pembibitan Kayu Aro meliputi pembersihan gulma disekitarsungkup. Setelah umur tanaman mencapai 4 bulan kemudian bibit dipindahkan ke areal yanglangsung terkena matahari. Pemindahan ini sekaligus penyeleksian dan pemotongan untuk pembentukan cabang baru dikarenakan bibit teh ini harus meiliki jumlah daun yang banyak.

Inilah kriteria kelas yang diterapkan oleh Kayu Aro.

Kelas A = 20 Cm dengan > 6 helai daun

Kelas B = 10-19 cm dengan helai daun berjumlah 3-6 helai

Kelas C = < 5 cm dan jumlah daun < 3 helai yang artinya tanaman ini harus dibuang atau mengalami kegagalan.

Pemeliharaan ini juga mencakup tentang pemeliharaan dari hama-hama yang seringmengganggu pembibitan teh seperti ulat, karat daun dan lain-lain. Langkah untuk penanggulangannya adalah dengan pestisida.

 

2.   Budidaya Teh Setelah Pembibitan

1.   Persiapan lahan

Persiapan lahan dimulai dengan pembongkaran tunggul-tunggul dan pohon sampai keakar agar tidak menjadi sumber penyakit akar. Lahan yang digunakan untuk penanaman baru dapat berupa hutan belantara, semak belukar atau lahan pertanian lain, yang telah diubahdan dipersiapkan bagi tanaman teh. Secara umum urutan kerja persiapan lahan bagi penanaman baru adalah sebagai berikut.

1)    Survey dan pemetaan tanah

Survey dan pemetaan tanah perlu dilakukan karena berguna dalam me-nentukan sarana dan prasarana yang akan dibangun seperti jalan-jalan kebun untuk transportasi dan kontrol, pembuatan fasilitas air, serta pembuatan peta kebun dan peta kemampuan lahan

2)    Pembongkaran pohon dan tunggul

Pelaksanaan Pembongkaran pohon dan tunggul dapat dilakukan dengan tiga cara berikut.

a.   Pohon dan tunggul dibongkar langsung secara tuntas sampai keakar-akarnya, agar tidakmenjadi sumber penyakit akar bagi tanaman teh.

b.   Pohon dapat dimatikan terlebih dahulu sebelum dibongkar dengan cara pengulitan pohon (ring barking), mulai dari batas permukaan tanah sampai setinggi 1m. setelah 6-12 bulan, pohon akan kering dan mati.

c.   Pohon dimatikan dengan penggunaan racun kimia atau aborosida seperti      Natriumarsenat atau Garlon 480 P.Pada cara ini kulit batang dikupas berkeliling selebar 10-20cm, pada ketinggian 50-60 cm dari atas tanah, kemudian diberikan racun dengan dosis 1,5 g/cmlingkaran batang. Pohon akan mati setelah 6-12 bulan, yaitu setelah cadangan pati dalam akarhabis. Batang ditebang pada batang leher akar dan tunggul ditimbun sedalam 10 cm dengantanah.

2.   Pembersihan semak belukar dan gulma

Setelah dilaksanakan pembongkaran dan pembuangan pohon, semak belukar dibabat,kemudian digulung kemudian dibuang ke jurang yang tidak ditanami teh, atau ditumpuk di pinggir lahan yang akan ditanami. Sampah tersebut tidak boleh dibakar karena pembakaranakan merusak keadaan teh, membunuh mikroorganisme tanah yang berguna, dan akanmembakar humus tanah, sehingga akan menyebabkan tanah menjadi tandus. Pembersihangulma dapat juga menggunakan bahan kimia yaitu herbisida dengan dosis yang telahtercantum dalam merk dagang.

3.   Pengolahan tanah

Maksud pengolahan tanah adalah mengusahakan tanah menjadi subur, gembur dan bersih dari sisa-sisa akar dan tunggul, serta mematikan gulma yang masih tumbuh. Arealyang akan ditanami dicangkul sebanyak dua kali. Pencangkulan pertama dilakukan sedalam60 cm untuk menggemburkan tanah, membersihkan sisa-sisa akar dan gulma. Sedangkan pencangkulan kedua dilakukan setelah 2-3 minggu pencangkulan pertama, dilakukan sedalam40 cm untuk maratakan lahan.

4.   Pembuatan jalan dan saluran drainase

Setelah pengolahan selesai selanjutnya dilakukan pengukuran dan pematokkan.Ajir/patok dipasang setiap jarak 20 m, baik kearah panjang maupun kearah lebar. Dengandemikian akan terbentuk petakan-petakan yang berukuran 20m x 20m atau seluas 400 m2.

    Selesai membuat petakan selanjutnya pembuatan jalan kebun. Dalam pembuatan jalan kebun ini hendaknya dipertimbangkan faktor kemiringan lahan serta faktor pekerjaanpemeliharaan dan pengangkutan pucuk. Dengan demikian jalan kebun dibuat secukupnya,tidak terlalu banyak yang menyebabkan tanah terbuang dan tidak terlalu sedikit sehinggamenyulitkan pelaksanaan pekerjaan di kebun.

 

3.   Pemanenan atau Pemetikan

Pemetikan adalah pemungutan hasil pucuk tanaman teh yang memenuhi syarat-syarat pengolahan. pemetikan berfungsi pula sebagi usaha membentuk kondisi tanaman agarmampu berproduksi tinggi secara berkesinambungan (Nugraheni, 2011). Panjang pendeknya periode pemetikan ditentukan oleh umur dan kecepatan pembentukan tunas, ketinggian tempat, iklim dan kesehatan tanaman. Pucuk teh di petik dengan periode antara 6-12 bulan. Teh hijau Jepang dipanen dengan frekuensi yang lebih lama yaitu 55 hari sekali. Disamping faktor luar dan dalam, kecepatan pertumbuhan tunas baru dipengaruhi oleh daun-daun yang tertinggal pada perdu yang biasa disebut daun pemeliharaan.

Tebal lapisan daun pemeliharaan yang optimal adalah 15-20 cm, lebih tebal atau lebihtipis dari ukuran tersebut pertumbuhan akan terhambat. kecepatan pertumbuhan tunas akanmempengaruhi beberapa aspek pemetikan, yaitu: jenis pemetikan, jenis petikan, daur petik, pengaturan areal petikan, pengaturan tenaga petik, dan pelaksanaan pemetikan.Beberapa istilah perlu diketahui baik dalam pemetikan maupun dalam menentukan rumus-rumus pemetikan. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:

a.     Peko adalah kuncup tunas aktif berbentuk runcing yang terletak pada ujung pucuk,dalam rumus petikan tertulis dengan huruf p.

b.     Burung adalah tunas tidak aktif berbentuk titik yang terletak pada ujung pucuk dalamrumus petik tertulis dengan huruf b.

c.     Kepel adalah dua daun awal yang keluar dari tunas yang sebelahnya tertutup sisik. Sisikini segera berguguran apabila daun kepel mulai tumbuh. Mula-mula tumbuh daun kecil berbentuk lonjong, licin, tidak bergerigi, biasa disebut kepel ceuli. Selanjutnya kepel ceulidiikuti oleh pertumbuhan sehelai daun kepel yang lebih besar yang disebut kepel licin.Setelah daun-daun ini terbentuk, baru diikuti oleh pertumbuhan daun yang bergerigi ataunormal. Daun kepel ini dalam rumus petikan ditulis dengan huruf k.

d.     Daun biasa/normal adalah daun yang tumbuh setelah terbentuk daun-daun kepel, berbentuk dan berukuran normal serta sisinya bergerigi. Dalam rumus petik ditulis denganangka 1,2,3,4 dan seterusnya tergantung beberapa helai daun yang terdapat pada pucuk tersebut.

e.     Daun muda adalah daun yang baru terbentuk tetapi belum terbuka seluruhnya, dandalam rumus pemetikan ditulis dengan huruf m mengikuti angka (1m, 2m, 3m).

f.      Daun tua adalah daun yang berwarna hijau gelap, terasa keras, dan bila dipatahkan berserat. Dalam rumus pemetikan ditulis dengan huruf t mengikuti angka (1t, 2t, 3t).

g.     Manjing adalah pucuk yang telah memenuhi syarat sesuai dengan sistem pemetikanyang telah ditentukan.

Macam dan rumus petikan adalah sebagai berikut :

1)  Petikan imperial: bila yang dipetik hanya kuncup peko (p + 0).

2)  Petikan pucuk pentil: bila yang dipetik peko dan satu lembar daun dibawahnya (p +1m)

3)  Petikan halus: bila yang dipetik peko dengan satu lembar atau dua lembar daun burungdengan satu lembar daun muda (p + 1m, b + 1m).

4)  Petikan medium: bila yang dipetik peko dengan dua lembar atau tiga lembar daun mudadan pucuk burung dengan satu, dua atau tiga lembar daun muda ( p + 2m, p + 3m, b + 1m, b+ 2m, b + 3m).

5)  Petikan kasar: bila yang dipetik dengan tiga lembar daun tua atau lebih daun burungdengan satu, dua, tiga lembar daun tua (p + 3, p + 4, b + 1t, b + 2t, b + 3t).

6)  Petikan kepel: bila daun yang ditinggalkan pada perdu hanya kepel (p + n/k, b + n/k)

 Jenis pemetikan yang dilakukan selama satu daun pangkas terdiri dari:

Pemetikan yang di Lakukan oleh PTP N VI Kayu Aro.

1.   Pemetikan jendangan ialah pemetikan yang dilakukan pada tahap awal setelahtanaman dipangkas, untuk membentuk bidang petik yang lebar dan rata dengan ketebalanlapisan daun pemeliharaan yang cukup, agar tanaman mempunyai potensi produksi yang tinggi (Anjarsari, Rezamela, Syahrian, & Rahadi, 2020).

2.   Pemetikan produksi dilakukan terus menerus dengan daur petik tertentu dan jenis petikan tertentu sampai tanaman dipangkas kembali. Pemetikan produksi yang dilakukan menjelang tanaman dipangkas disebut “petikan gendesan” yaitu memetik semua pucuk yang memenuhi syarat untuk diolah tanpa memperhatikan daun yang ditinggalkan (Pradipta, 2010).

Di kebun PT PN VI menggunakan 2 teknik pemetikan yaitu dengan cara manual danmenggunakan mesin pemetik. Untuk pemetikan ini selalu berbeda-beda disetiap Afdeling.Untuk afdeling 1 pemetikan dilakukan secara manual dengan cara pemetikan menggunakantangan dikarenakan umur tanaman yang sudah tua dan kebun teh yang sudah jarang-jarang.Untuk afdeling 4 kebun teh ini masih sangat banyak dan sangat produktif, untukmempercepat proses pemetikan PTPN VI Kayu Aro menggunakan mesin pemetik teh untukmengambil petikan yang ada ditengah, sedangkan untuk yang dipinggir yang tidak bisadiambil dengan mesin maka pemetikan dilakukan dengan cara pemangkasan menggunakangunting pangkas yang telah didesain sekali petik langsung bisa masuk kedalam kantung pemetikan.

Setelah pemetikan menggunakan mesin teh,teh kemudian dipisahkan dari gulma,ulat,bahan-bahan yang tidak dikenal dan daun teh tua. Pemisahan ini dilakukan secara manualoleh tenaga manusia.

 

 

4.   Produksi Pengolahan Teh

Pengolahan teh yang dilakukan di PTPN VI Kayu Aro ada 2 macam yaitu C.T.C danOrtodox. Namun pada kesempatan praktikum yang dilakukan pada tanggal 21 Juni 2014 diPTPN VI Kayu Aro hanya bisa menunjukan pembuatan teh pada tahap Ortodox. Dalam pengamatan teh ortodox ini mahasiswa tidak diperkenankan mengambil gambar denganalasan kebersihan dan persaingan. Tahapan-tahapan produksi yang dilakukan di PTPN VIKayu Aro adalah sebagai berikut:

a.   Setelah panen dilakukan sampai jam 11 pagi kemudian teh dilakukan pengangkutan menggunakan truk.

b.   Setelah ditumpuk kemudian daun teh dimasukkan kedalam tong penampungan yang   berjalan dengan kemampuan isi tong berisi 25 kg.

c.   Tahap selanjutnya adalah membawa teh menggunakan kloter berjalan ke Kloter WTuntuk dilakukan pelayuan selam 24 jam dengan cara pengipasan. Untuk 1 meja pelayuan berisikan 1 ton daun teh segar.

d.   Tahapan selanjutnya adalah masuk keturunan lunak untuk dilakukan pelayuan dan penumbukan daun teh. Untuk 1 tabung UTR berisikan 375 kg daun teh untuk ditumbukselama 45 menit. Untuk mesin UTR yang ada di PTP N VI Kayu Aro berjumlah 3 buahUTR..

e.   Masukkan teh yang telah ditumbuk kedalam mesin Compayer untuk dilaukan pengayakanuntuk mendapatkan bubuk tingkat 1-4. Nama mesin yang digunakan untuk ayakan adalahD.I.B.N.

f.    Dilakukan penggilingan ayakan kasar menggunakan Rotervary.

g.   Dilakukan fermentasi daun selama 30-60 menit.

h.   Kemudian dilakukan pengeringan dimesin inlet dengan suhu 800 C dan Outlet 1200C selama 20 menit dengan kapasitas pengeringan 250 kg/jam dengan menggunakan 3 mesin.

i.    Masukkan pengeringan kedalam mesin Dalton untuk penampungan yang telah disortasiuntuk mendapatkan D.O.M I,II,III,dan IV D.A.S I,II,III,dan IV.

j.    Masukkan kedalam 4 mesin moris untuk memisahkan antara debu dengan tehmenggunakan kipas penghisap dengan kapasitas 7 ton/hari.

k.   Masukkan kedalam mesin siliran untuk mendapatkan kualitas teh tingkat 1-4.

l.    Tahap terakhir adalah memasukkan teh kedalam tabung Hydrofinish.

m. Kemudian pengemasan menggunakan wadah alumunium kertas berisikan 25 kg bubukteh.

 

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang terjadi, maka dapat disimpulkan bahwa: (1.) Iklim untuk budidaya teh yang tepat yaitu dengan curah hujan tidak kurang dari 2.000mm/tahun, dengan bulan penanaman curah hujan kurang dari 60 mm tidak lebih 2 bulan. Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Suhu udara harian tanaman teh adalah 13-250 C. Kelembaban kurang dari 70%, dengan Derajat kesamaan tanah (pH) berkisar antara4,5 sampai 6,0. (2.) Didalam Budidaya teh ada beberapa langkah yang harus diperhatikan sebagai berikut: Persiapan Lahan, Pembibitan, Penanaman, Pemeliharaan, dan Pemetikan. (3.) Survey dan pemetaan tanah perlu dilakukan karena berguna dalam me-nentukan saranadan prasarana yang akan dibangun seperti jalan-jalan kebun untuk transportasidan kontrol, pembuatan fasilitas air, serta pembuatan peta kebun dan peta kemampuanlahan. (4.) Tanaman teh dapat diperbanyak secara generative maupun secara vegetative. Pada perbanyakan secara generative digunakan bahan tanam asal biji, sedangkan perbanyakansecara vegetative digunakan bahan tanaman asal setek berupa klon. (5.) Dalam pemetikan di PTPN VI Kayu Aro menggunakan sistem manual dan mekanik. (6.) Pemetikan bisa dilakukan kembali setelah jenjang pemetikan 12 hari dengan teknik petik1 peko dan 3 daun muda atau 1 daun burung dan 2 daun muda. (7.) Didalam budidaya teh, tanaman harus bersih dari gulma dan dilakukan pemangkasan agartanaman tidak terserang penyakit. (8.) Untuk produksi teh diperlukan tahapan-tahapan yang panjang untuk mendapatkan hasil teh yang terbaik.

BIBLIOGRAFI

 

Anggia, Riandra. (2018). Pengaruh Penambahan Bubuk Vanili (Vanilla Planifolia) Terhadap Sifat Fisika-Kimia Dan Organoleptik Serbuk Instan Teh Hijau Yang Dihasilkan. Anggi Afriandra Asri.Google Scholar

 

Anjarsari, Intan Ratna Dewi, Rezamela, Erdi, Syahrian, Heri, & Rahadi, Vitria Hapsari. (2020). Pengaruh cuaca terhadap hasil pucuk teh (Camellia sinensis L.(O) Kuntze) klon GMB 7 pada periode jendangan dan pemetikan produksi. Kultivasi, 19(1), 1076–1082. Google Scholar

 

Ardila, Tri Tra. (2020). Uji total fenol dan aktivitas antioksidan daun teh (Camellia sinensis) berdasarkan tahun pangkas di Kebun Teh Wonosari Lawang. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Google Scholar

 

Ari Retno Purwanti, Prosa P. K. N. (2020). Peranan Organisasi Rohani Islam (Rohis) Dalam Mengembangkan Sikap TanggungJawab Sosial Siswa Di SMA Negeri 7 Yogyakarta. Universitas PGRI Yogyakarta. Google Scholar

 

Mardianis, Mardianis, & Syartika, Hanibal. (2018). Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Kerinci [The Contribution of Tourism Sector to Local Revenue in Kerinci Regency]. Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, 9(1), 53–65. Google Scholar

 

Nugraheni, Maruti. (2011). Analisis Kelayakan Usahatani Teh Rakyat Di Desa Mojotengah Kecamatan Reban Kabupaten Batang. Google Scholar

 

Pradipta, Yulmi. (2010). Quality control di PTPN IX (persero) kebun Semugih Moga Pemalang. Google Scholar

 

Sitanggang, Heriyanto, Silaban, Rio Saputra, & Panjaitan, Priadi. (2017). Laporan Praktek Kerja Lapangan di PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Bah Butong. Google Scholar

 

Syukri, Syukri Muhammad. (2016). Hikayat negeri kopi. Gramedia Widiasarana Indonesia. Google Scholar

 

Yuliyana, Yuliyana. (2021). Pelabuhan" Boom Batu" Dalam Kawasan Angso Duo Jambi 1926-1942. Ilmu Sejarah. Google Scholar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright holder :

Muhammad Bintang, Kasful Anwar US (2022)

 

First publication right :

Equivalent: Jurnal Ilmiah Sosial Teknik

 

This article is licensed under: